Jumat, 26 September 2008

Mbah Limbad
Obsesi Garap Sinetron Horor
di Lokasi Angker


BERKAT keakrabannya dengan seorang yang biasa menggantikan actor/aktris dalam syuting adegan bebahaya (stuntman), akhirnya therapist asal Kabupaten Tegal, Mbah Lim berhasil menerabas dunia sinetron. Pengalaman yang berhasil dikantongi, tidak hanya sebagai pemain ‘jigo’ alias figuran melainkan sebuah profesi ideal di dunia sinematography yakni sutradara. Hal itu diceritakannya kepada kami, Kamis (25/9) malam di Padepokan Jalan Semeru Dukuh Waringin Kabupaten Tegal.
“Sekilas gampang bikin sinetron kalau dilihatnya setelah jadi, padahal bikinnya sungguh rumit. Tapi kalau sudah tahu jalurnya, semua hal bisa dipelajari meskipun tidak melalui jalur pendidikan formal,” kata Mbah Lim usai menonton bersama dengan Ki Ageng Seto dari Padepokan Panglima Kumbang. Sinetron yang diputar malam itu sinetron serial lepas ‘Ghost’ berjudul ‘Jenglot’ hasil besutannya. Sinetron berdurasi 1,5 jam itu diproduksi MD Entertainmen yang ditayangkan di Indosiar.
Diakuinya, kebanyakan profesi sutradara sinetron berawal dari seorang berlatar belakang pendidikan perfilman atau setidaknya pernah ikut workshop perfilman khususnya bidang penyutradaraan.
“Dalam perkembangannya, ternyata tidak sedikit sutradara sinetron yang keahliannya diperoleh secara otodidak, lantaran dia telah menjadi crew film selama bertahun-tahun. Tentunya bukan sembarang crew,” ujarnya.
Galibnya, prsosesnya diawali dari crew yang jobnya berkaitan dengan departeman penyutradaraan, seperti berawal dari seorang Clapper, pencatat adegan (Scrip) dan asisten sutradara (astrada).
“Astradapun ada dua sampai tiga. Ada astrada bagian scheduling dan astrada lapangan. Jika keduanya mumpuni biasanya oleh sutradara yang bersangkutan baru ditunjuk sebagai Co sutradara,” paparnya.
Jika sudah bisa mendirect sendiri, lanjutnya, kemudian sutradara bisa mereferensikan untuk menjadi sutradara kepada pihak produser.
Mbah Lim mengaku awal berkecimpung sebagai pemain dengan peran-peran antagonis atau sebagai dukun di sinetron Hidayah yang ditayangkan di Trans TV. Berkat keuletannya dan atas bimbingan seorang sutradara asal Aceh, Ferial Syah, akhirnya ia mampu dan dipercaya pihak produser untuk menggarap sinetron. Hingga kini puluhan sinetron telah digarapnya dan tayang di beberapa televisi swasta.
Karena job sinetron tidak menentu, baginya membuat sinetron bukan menjadi satu-satunya keahlian yang dikerjakan. “Terkadang keahlian seseorang itu sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Saya kebetulan punya teman artis dan akhirnya bisa berkecimpung di dunia glamour itu,” akunya.
Belum lama ini, Mbah Lim menyutradari sinetron lokal berjudul ‘Tumbal Jenglot’. Sinetron itu diproduksi Satria Ningrat, sebagai produsernya Susi Indrawati sedangkan pemainnya para seniman dan masyarakat Tegal. Kini dirinya berkeinginan membuat sinetron jenis horor ataupun legenda. “Saya ingin membuat sinetron dengan lokasi di daerah yang dikenal sebagai tempat angker,” kata Mbah Lim mengakhiri obrolannya
(KZ/LS)


KETERANGAN GAMBAR: Mbah Lim saat berada di lokasi syuting film garapannya Foto : Dok Kel







3 komentar:

Am Jitu mengatakan...

yang bisa ngasih no tlp kiageng seto.apa anak nya mas iwan.atau mas slamet..tlg sms kan ke 0823 7200 5858. dr keluarga nya.fajar.trims

Fajar Agustama mengatakan...

yang bisa ngasih no tlp kiageng seto.apa anak nya mas iwan.atau mas slamet..tlg sms kan ke 0823 7200 5858. dr keluarga nya.fajar.trims

dafi a mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.