Minggu, 26 Juli 2009

ANTOLOJI PUISI TEGALAN NGRANGGEH KATURANGGAN SARAT TEMA


SANTAI - Dr. Maufur saat membacakan satu puisinya dalam acara peluncuran Antoloji Puisi Tegalan 'Ngranggeh Katuranggan' di Pendapa Ki Gede Sebayu Tegal, sebelum purna tugas sebagai Wakil Walikota Tegal Foto: Lanang Setiawan


SARAT TEMA - Cover Buku Antoloji Puisi Tegalan Ngranggèh Katuranggan yang isinya cukup sarat dengan tema. Oleh kalangan seniman di Indramayu, buku tersebut menjadi pembicaraan panjang Foto : Lanang Setiawan





Antoloji Puisi ‘Ngranggèh Katuranggan’
Sarat Tema dan Lain dari Biasanya

GEGAP gempita apresiasi kelahiran sebuah antologi puisi, sering mengejutkan ketika justru antologi tersebut dibaca oleh penikmat sastra di luar kota. Hal itu terjadi karena apresiasi mereka saat menilai bukan pada personnya, melainkan pyur suntuk pada karya yang dikucurkan dalam antologi itu. Antologi Puisi Tegalan ‘Ngranggèh Katuranggan’ misalnya, menurut beberapa seniman Indramayu, seperti yang dituturkan penyair Nurochman Sudibyor YS, antologi tersebut kaya akan tema.
“Bahkan penyair Supali Kasim setelah dikasih buku bilang, bahwa antologi puisi Ngranggèh Katuranggan spektakuler,” tandas Nurochman.
Yang dimaksud spektakuler, katanya lebih lanjut, meski basa Tegalan belum jadi bahasa daerah yang mendapat pengakuan sebagai bahasa resmi di dunia, tapi sudah mampu mengakomodir potensi sastra di daerah meliputi Slawi dan Kota Tegal.
“Ini sangat mencengangkan sekali. Supali Kasim pun merasa terpukul dan iri betul atas kehadiran antologi dari Tegal ini,” tandasnya.
Menurut Nurochman, sejak para seniman Indramayu mendapatkan buku tersebut, semalaman mereka membahas panjang dan suntuk. Pada kesimpulannya, mereka mendesak agar Indramayu pun memiliki kumpulan puisi Dermayonan.
“Dalam diskusi panjang semalaman, teman-teman Indramayu akirnya sepakat kapan Indramayu bisa bikin seperti yang sudah dilakukan oleh teman-teman Tegal.”
Dari segi estetika, menurut pengakuan teman-teman Indramayu, antologi tersebut cukup mendobrak tradisi antologi yang konvensional. Terbukti dengan adanya foto-foto penunjang yang terlihat pada buku tersebut, jadi estetis betul dan berkesan lain dari yang lain. “Kelihatanya fenomenal dalam grafis, lain dari pada yang lain,” katanya.
Hampir senada dengan Nurochman, penyair dari Kabupaten Ungaran, Nirwondo el Naan menilai, secara keseluruhan antologi puisi Ngranggèh Katuranggan sudah memenuhi kriteria genre sastra daerah. “Menariknya lagi, keterlibatan para pejabat dan anggota legislatif yang ada dalam antologi itu,” katanya.
Yang sedikit disayangkan, masih adanya campuran bahasa non Tegalan. Hal itu, menurutnya perlu diperhatikan lagi, agar dari sisi bahasa sebagai media ungkap menonjolkan Basa Tegalan (LS)

Tidak ada komentar: