Minggu, 05 Oktober 2008

WAWANCARA Kasirun Kemlandang Sintren/Lais


Kasirun – Kemlandang Sintren/Lais
Sintren tidak Harus Perawan

Janda pun Bisa!


SINTREN dan Lais adalah kesenian tradisional yang menarik ditonton. Unsur magis karena melibatkanmakhluk halus, konon peri atau bidadari dari kayangan menjadi daya tarik tersendiri pada kesenian tradisional yang sudah berumur ratusan tahun itu. Betulkah untuk menjadi Sintren harus perawan suci? Perlukah laku tertentu untuk jadi seorang Kemlandang (pawang) Sintren atau Lais? Redaktur budaya dan wartawan Nirmala Post Lanang Setiawan mewancarai Kasirun, seorang Kemlandang Sintren dan Lain yang masih hidup di Balapulang. Wawancara dilakukan beberapa waktu lalu di rumahnya RT02/RW11 Balapulang Kulon, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tetal. Berikut ini petikannya.
Kapan anda mulai menggeluti kesenian Lais atau Sintren?
Sejak usia 15 tahun.Waktu itu saya masih tinggal di Pakulaut, Kecamatan Margasari. Saya ikut pentas Lais karena ingin mengibur masyarakat. Pada waktu itu di desa saya sepi hiburan, setelah pemberontakan DI-TII melawan TNI. Saya sendiri didaulat menjadi Lais selama satu minggu.
Setelah itu kemana lagi anda melakukan pementasan?
Saya vakum dari kegiatan. Karena saya bekerja, ikut kakak yang kebetulan Kepala Stasiun Balapulang pada tahun 1960. Pada saat itu keadaan Balapulang tiap malam sangat sepi. Naluri kesenian saya jadi tergugah. Akhirnya saya membuat rombongan kesenian Lais bersama kawan-kawan. Oleh teman-teman saya dipercaya sebagai Kemlandang, baik Lais atau Sintren. Tapi lebih kerap saya bermain di kesenian Lais.
Untuk jadi Kemlandang, apa benar harus ada syarat-syarat tertentu? Misalnya puasa 40 hari atau lelaku lainnya?
Oh…tidak perlu puasa atau menjalani lelaku lain. Syarat utama jadi Kemlandang atau pawang, yaitu menguasai semua jenis nyanyian Lais atau Sintren. Nyanyian tersebut, sudah saya kuasai sejak awal berkecimpung dalam kesenian Lais.
Anda bisa menguasai semua jenis nyanyian Lais atau Sintren dari mana?
Nyanyian Lai situ tidak perlu diajari. Maslahnya apa? Ya…baik si tukang gambang, penabuh gong atau penyanyinya semua pada ikut kesurupan. Maka secara otomatis orang yang ikut Lais atau Sintren hafal dengan sendirinya.
Bisa anda ceriterakan prosesi pertunjukan Lais atau sintren?
Pertama, Lais atau Sintren dimasukkan dalam kurungan yang dibalut kain, lalu Kemlandang membakar kemenyan sambil mengitari kurungan sampai tiga kali. Kemudian kemenyan itu ditaruh beserta sesaji berupa kelapa hijau muda yang dibobok tengahnya dan baskom berisi air kembang. Sementara di atas kurungan disandarkan sebuah tangga untuk naik seorang Lais atau Sintren. Selanjutnya lagu ‘Manuk Gerèja’ dinyanyikan:
Manuk gerèja, manuk gerèja
manuké Negara Landa
paman bibi madarana
Laisé pan mungga nganda
manuk gerèja.
Bagaimana agar Lais atau Sintren bisa kesurupan?
Tugas seorang Kemlandang meminta para penyanyi untuk membawakan lagu berjudul ‘Wari Lais’. Lagunya seperti ini:
Wari Lais terepna sandang nira iki
wari Lais dunung ala dunung
si dunung si bahu kiwa
Pangèran ira lara tangis.

Selanjutnya didendangkan sebuah lagu untuk memanggil dewa di kayangan dengan tembang ‘Sola Si Soladana’:
Sola si Sola dana
menyata ngundang Dèwa
ala Dèwa daning sukma
widadari temuruna
runtang-runtung sesanga
nggo ngranjing awak ira.

Itu jenis lagu untuk kesenian Lais. Kalau untuk sintren kita nyanyikan lagu ‘Turun-turun Sintren’:
Turun-turun Sintren
sintrené Widadari
nemu kembang ning ayunan
kembangé si Jaya Indra
kamijaya kami ranjing
ranjing maring sing dadi
sing dadi temurun putri.

Kemudian, ketika Lais atau Sintren sudah berpakaian, juga dinyanyikan lagu ‘Sepati-pati’:
Lima sayu sira dandan
sepati-pati gelem dandan
ning durung serawa anyar
ana lima sayu.

Jadi, semua tembang dalam proses ritual Lais atau Sintren itu, merupakan sebuah doa untuk manggil Dèwa atau Bidadari kayangan yang suka kesenian.
Orang bilang untuk menjadi Sintren harus perawan suci?
Siapa bilang? Nggak musti perawan, janda juga boleh, orang sudah punya anak juga boleh. Pokoknya tidak perlu perawan. Bahkan di desa saya, orang yang sudah punya cucu itu bisa jadi Sintren. Yang perlu diperhatikan, perawan yang didapuk Sintren, kedua orang tuanya itu harus benar-benar masih hidup. Salah satu diantara mereka meninggal, nggak bisa.
Kenapa?
Roh dari orang tuanya itu keberatan anaknya dijadikan Sintren. Dia akan masuk dalam kurungan dan memeluk anaknya agar tidak jadi Sintren. Begitupun bagi lajang yang ingin jadi Lais. Pernah ada kejadian, ditembangi sampai setengah jam Lais tidak jadi-jadi. Saat anak tersebut saya tanyai, ternyata ibunya sudah meninggal. Akhirnya batal! Tapi syarat ini untuk bujang dan perawan saja. Lainnya bebas.
Kenapa setiap Sintren atau Lais pakai kacamata hitam?
Semua Lais atau sintren itu pakai kacamata, supaya tidak silau karena lampunya terang. Pakai kacamatanya itu dalam keadaan mata melek nggak merem.
Untuk mengakhiri permainan atau menyadarkansintren atau Lais dari kesurupan bagaimana?
Caranya dinyanyikan juga. Nyanyiannya begini://Tangis-tangis layung/tangisé wong wedi mati/ala gendung éling-éling/sapa ira élingena ngejaba Pangèran ira/tak gendung éling-éling//. Lagu itu terus dinyanyikan sampai kemudian Sitren atau Lais sadar
(*)


Dikutip dari Nirmala Post terbitan, jumat, 10 Agustus 2007

Tidak ada komentar: