Senin, 06 Oktober 2008

Memoar KRAGEDI JATILAWANG


Memoar Lanang Setiawan


Tragedi Jatilawang

SELASA malam 3 Agustus 2004, rasanya hari paling sial bagiku. Aku terperangkap dalam kubangan maut. Aku panik, selembar nyawaku terancam disobek-sobek pada hitungan detik. Haruskah malam ini aku tinggal nama? Terhapus dari muka bumi dengan kesiaan seperti jejak kaki di padang pasir diterbangkan angin, melambung jauh, tinggi dan kemudian ilang-gandra; sirna?
Di langit bulan berlari, menit demi menit bergegas berloncatan seperti anak-anak bermain ‘jangka’ menusuk suasana yang kian mengelam. Wajahku pias, jantungku berdetak digayuti rasa was-was merambat ke seluruh jaringan tubuh. Kurasa keringat dinginku membanjir di wajah. Di sini, di rumah pedangdut Ita, aku dihadapkan pada persoalan pelik. Duduk di samping kananku dua berandal Desa Jatilawang. Yang satu kutahu bernama Herlan bertubuh pendek tanpa banyak berkata. Wajah dan sorot matanya merah seperti terbakar. Dari mulutnya bau arak menyengat menampar hidungku. Satunya lagi bertubuh kurus, kulitnya hitam tapi matanya menyimpan kemarahan ketika menatap wajahku. Naluriku mengatakan, dia sama seperti Herlan baru saja menenggak minuman alkohol yang telah menguasai aliran darahnya. Di hadapanku Suhardi, wajahnya tampak menegang karena merasa dipermalukan oleh kedatangan tamu tak diundang. Di samping kiri Suhadi, Ibu Wisem yang juga wajahnya sama menegang. Kedua suami istri itu adalah orang tua dari Ita. Nama lengkapnya Lolita.
Aku menyesal kenapa sekarang baru kusadari tindakanku begitu tolol? Kalau saja aku menampik tawaran Suhardi, barangkali tragedi ini tak pernah aku hadapi. Kini terlambat sudah, aku telah terjebak dan terperangkap dihadapan para begundal kampung. Aku merasa seperti sedang berperan sebagai anjing yang siap dibantai beramai-ramai. Aku gugup dan sekaligus bergidik.
Masih berputar-putar di kepalaku ketika awal tragedi ini terjadi. Pantatku baru saja aku jatuhkan di kursi ketika tiba-tiba kudengar derap langkah kaki orang-orang kampung menuju rumah Ita. Jantungku berdegup, ada firasat buruk yang sekonyong-konyong menggedor-gedor jiwaku. Aku clingak-clinguk, derap langkah itu semakin jelas kudengar. Dua pemuda Jatilawang menerabas masuk dimana aku bertamu dan tengah menunggu Ita berganti baju. Dia baru saja pulang dari job pentas dangdutnya setelah diantar oleh seorang lelaki.
“Ada apa mas?” kudengar Suhardi menegur mereka.
“Ini tamu macam apa pak? Namu ka nganti jam siji bengi. Ini kelewatan, namanya bukan tamu lagi. Kuduné dipatèni!”
Kudengar lelaki bertubuh kurus itu menggertak. Dari mulutnya menebar bau alkohol. Aku waspada, dudukku bergeser menjauh. Bola mata si kurus menatapku bengis, berdiri di depan pintu.
“Saya di sini tidak berbuat macam-macam. Saya lagi menunggu Lolita, bukan berbuat mesum” kataku tapi kudengar nada bicaraku gemetar.
“Kami lagi ngobrol. Mas Lanang dengan anak saya sedang mau rekaman, bikin album lagu tegalan. Tidak lagi berbuat macam-macam,” timpal Ibu Wisem memberi alasan.
“Kiyé jam pira Bu? Wis jam siji bengi, tamu macam apa? Kuduné dipatèni” ancam si kurus.
“Ngomong yang betul ah. Jangan ngancam-ngancam kaya gitu!” Ibu Wisem yang terkenal bawel terus nyerocos.
Perang mulut bertambah panas. Herlan yang sejak tadi duduk sekonyong-konyong berdiri, aku pun berdiri dan beringsut beberapa langkah. Dari dalam kamar, Ita muncul sambil berteriak bersamaan dengan teriakan Ibu Wisem mengundang kakak Ita yang lagi tidur.
“Di…Adi, bangun Di, bangun…!!”
Sekonyong-konyong Adi bergegas ke luar kamar seperti mendengar goncangan lindu. Ia sempoyongan.
“Hai…hai! Apa-apaan ini? Ke luar kalian, jangan bikin rebut di sini! Ini rumah saya, ke luar kalian! Keluar!” Adi menuding-nuding mereka. Kedua pegundal itu gelagapan diserang, mereka mundur dan kesempatan itu aku gunakan untuk menerabas masuk ke ruang tengah.
“Hai! Ke luar kamu!” ancam si kurus dengan tangan menuding ke arahku. Sikapnya betul-betul tak bersahabat. Wajahnya yang sudah hitam makin kelihatan mesum dan kusut. Aku tak gegabah untuk mengikuti perintah dia. Aku bertahan di ruang dalam.
“Bangset, asu raimu!”
Perang mulut dan adu jotos antara Adi dan Herlan berlangsung. Sekonyong-konyong Herlan mengeluarkan sebuah benda yang dia simpan di pinggang. Adi mundur tapi dengan cekatan dia merangsek kesetanan menangkap tangan Herlan. Mereka saling berebut benda di tangan. Bu Wisem berteriak-teriak. Aku mencari sesuatu, tapi tak satu pun benda di ruang tengah. Adi berhasil merebut benda di tangan Herlan.
“Ke luar kalian! Bikin keributan jangan di sini. Keluar!!” gertak Adi yang kurasa sudah naik pitam.
“Anak itu harus juga ke luar dan pulang sekarang!” kudengar lagi lelaki kurus itu berteriak di luar pintu. Ia menunggu di teras dalam keremangan.
“Kamu duduk Her! Kita selesaikan dengan baik-baik. Mas Lanang ke sini bukan untuk berbuat onar. Dia dengan adiku bukan melakukan sesuatu yang tercela. Mereka mau rekaman album tegalan,” Adi menjelaskan. Ajib, Herlan pun duduk berhadapan. Karena sebetulnya mereka bertetangga dekat.
Dengan mengucap bismillah, aku melangkah ke luar. Kulihat beberapa kawan pegundal, berpelencar di jalanan. Aku memperkirakan, bakal terjadi pengkeroyok terhadap diriku selepas aku meninggalkan rumah Ita. Tapi apa yang terjadi, malam ini harus kuselesaikan meski kutahu suasana yang melingkupiku tak menentu.
Di luar aku berhadapan dengan si kurus. Kami berdua saja. Wajahnya yang memang sudah hitam tambah legam dalam pantulan bohlam 10 watt. Mataku terus melirik pada kedua tangannya. Aku waspada, kalau saja secara reflek dia memukul atau menikamku dari samping dengan benda tajam. Tapi anak ini tak berbuat macam-macam. Aku tak tahu apa yang sedang mereka dibicarakan di ruang tamu. Aku sendiri sedang diganduli rasa heran, kenapa selama keributan terjadi tangga-teparo cuma menonton?
“Pan balik ora kowen?” tanya si kurus dalam bahasa Tegal. Bau minuman menyengat dari hempasan nafasnya.
“Ya. Aku balik”
“Balik saiki. Ora balik, tak premak nang kèné. Cepet balik!” ancamnya.
Berulangkali motor kustater, tak mau jalan. Dari dalam Suhardi ke luar.
“Businya kali,” kata Suhardi.
Suhardi mendekat, ia turun tangan. Busi dicopot, dipelas, dan dipasang lagi. Motor distater, ngadat lagi. Busi dicopot lagi, dipelas lagi, dan dicoba distater lagi, hasilnya sia-sia. Pintu terkuak, kulihat Herlan ke luar dari ruang tamu. Ia ngeloyor diikuti si kurus menuju arah barat.
“Sekarang pulang aja mas” kata Bu Wisem.
“Iya Bu, bentar. Motorku mogok. Tapi tolong mas Adi ikut aku,” pintaku.
“Iya Di, mas Lanang diantar. Kamu bonceng” kata Bu Wisem.
Berkali-kali motor aku stater. Tetap ngadat juga. Di langit bulan kian bergeser menusuk sumber keheningan. Hawa kurasa kian dingin. Aku ingin segera sampai di rumah, menjumpai anak istri. Sudah terlalu lama aku di sini disiksa perasaan ketar-ketir. Kurasa waktu sudah menunjukan pukul dua dini hari.
“Sudah mas Lanang naik. Kita dorong aja” kata Suhardi.
Aku naiki motor. Suhardi dan Adi mendorong. Bunyi knalpot merobek kesuraman malam. Mesin motor hidup. Adi nangkring di boncengan. Pelan-pelan kami melaju ke arah barat. Lima puluh meter, motor kubelokan ke arah kiri. Lampu jalanan remang suram. Tapi baru limabelas meter menuju jalan pulang, kami distop dua orang. Seorang yang menahan stank motorku, kutahu adalah bapaknya Herlan.
“Mandeg, mandeg…” katanya dalam bahasa Tegal.
Aku mengentikan motor. Adi turun dari boncengan. Sebuah tendangan tiba-tiba mendarat mengenai motorku. Motor doyong, kemudian roboh. Beberapa pemuda mengeroyok kami dalam situasi yang remang disiram lampu jalanan 25 watt. Di sebelah kananku bentangan sawah tampak mengelam. Di sebelah kiri sebidang tanah kosong juga tampak gelap, karena rerimbunan pepohonan. Di tengah jalan beraspal dan remang lampu itulah, kami dikeroyok. Adi menyerang lawan, saling pukul. Aku menghindar dari para pemuda yang bermunculan dari pusat kegelapan. Aku berusaha berlindung di belakang Adi. Aku merasakan kakak Lolita ini sangat bertanggungjawab. Ia senantiasa menjaga keselamatanku. Ia terus nerjang, keadaan gawat dan kacau. Mataku pecicilan. Tiba-tiba aku merasakan ada sebuah benda menghantam kepala demikian keras.
“Wadaw!” aku berteriak.
Adi memburuku. Dia gedebukan, tanganku ditarik agar posisiku berada di belakang punggungnya. Kami menghidar serangan sambil masuk ke kebun menuju jalan ke rumah. Dari jauh Suhardi tergopoh-gopoh.
“Hallo! Hallo….Pak Polisi, di sini terjadi keributan. Gawat Pak Polisi, segera datang ke Jatilawang…!!” kudengar terikan Ita memanggil Polisi.
“Ya! Di sini, di Jatilawang blok utara Pak! Ada pengeroyokan, segera merapat Pak…” sambung Ita yang masih mengenakan pakaian pentas.
Sejenak suasana senyap. Para pengeroyok menghilang. Beberapa wanita dan para orang tua berkerumun di depan rumah. Sepatuku hilang. Malam ini aku tanpa alas kaki. Aku tak tahu lagi nasib motorku yang kubiarkan menggelepar di jalan beraspal. Barangkali akan dibakar atau cincang-cincang, aku tak memikirkan itu semua.
Nafasku tersengal-sengal ketika berada kembali di dalam rumah. Tapi dimana Adi? Aku tak melihat dia. Kudengar Ibu Wisem ngomel-ngomel. Aku kuatir para pengeroyok berderap masuk ke rumah, bisa berabe.
Di dalam rumah aku tak tenang, aku blingsatan. Aku melangkah menuju kamar Ita. Mataku bringas menyapu isi kamar. Niatku mencari persembunyian, tapi tak memungkinkan. Ruangan kamar tak ada apa-apa. Di situ hanya ada divan dan almari juga cermin. Mataku berpaling ke atas. Ada keinginan bersembunyi di eternit, ternyata kosong blong. Atap kamar tak ada. Aku berjalan ke ruang tengah, berpikir untuk masuk ke dalam almari, tapi perasaan takut menyelinap. Jangan-jangan persembunyianku diketahui, lebih celaka lagi. Mungkin saja aku dicincang atau dihabisi oleh mereka kalau sekonyong-konyong mereka memburu masuk ke dalam rumah. Aku membatalkan niat tololku itu. Aku betul-betul diterjang badai risau. Ada keinginan ke luar lewat dapur dan segera menyelinap menuju ke timur, lalu menembus rimbun kebun tebu, tapi rasa kuatirku kembali nerjang perasaan. Hati kecilku melarang. Aku bergidik, jika saja mereka mengetahui pelarianku, aku bisa diburu beramai-ramai dan dibantai habis-habisan di kebun tebu. Dan aku tinggal nama atau setidak-tidaknya babak belur dengan luka bacokan di sekujur tubuh.
Membayangkan itu, akhirnya kutanggalkan niat itu. Aku tak punya lagi keberanian melakukan penyelinapan. Aku terpaksa bertahan di dalam rumah dengan hati dan perasaan tak menentu. Malam ini betul-betul malam naas bagiku. Sungguh baru kali ini aku menemu pengalaman yang mendebarkan. Selama hidupku yang tak pernah bersentuhan dengan kekerasan, terjaring dalam situasi runyam. Memperjuangkan bahasa lokal ternyata menemu situasi yang menegangkan. Aku tak mengira bakal terjadi badai ini.
Pak Suhardi, Ita dan Ibu Wisem belum juga kelihatan batang hidungnya. Mereka masih asyik di luar. Suara tangis Ita semayup sampai menerobos telingaku. Perempuan berwajah mirip Julia Perez itu tampak sedih bercampur rasa benci dan gondok.
“Di rumah cuma ada saya, bapak dan mas Lanang. Kami lagi ngobrol sambil menunggu kedatangan Ita. Kok datang-datang mereka masuk bikin keributan. Salah keluarga kami apa sih?”
Jelas kudengar suara Ibu Wisem merobek kesunyiam malam. Di dalam aku masih bingung. Mataku menyapu seisi ruangan tengah. Maksudku untuk mencari benda tumpul apa saja, barangkali bisa untuk jaga diri. Lagi-lagi tak kutemukan apa-apa. Keluarga ini boleh dibilang belum beruntung. Bila kugambarkan, rumah Ita itu tak sejengkal punya halaman depan, di sebelah barat bercokol tanah kosoh milik tetangga. Rumpun bambu dan tumpukan batu kali menggunung dengan tetumbuhan perdu tak terawat. Jika malam tak ada penerangan. Sejajar dengan kebun itu sebuah makam desa. Di belakang rumah Ita itu, juga ada perkebunan yang ditumbuhi rumpun bambu, mangga, asem blimbing, kelapa, ketela rambat, pepaya, pohon turi, pare, dan seabrek tanaman liar. Di sebeh timur adalah hamparan sawah pumpang sari. Saat ini tengah ditanami tebu rakyat.
Kondisi rumah Ita tergolong rumah belum layak pakai. Pintu depan dan samping tertutup geribik. Atap rumah tanpa eternit dengan lantai semen yang sudah kusam dan berlapis tanah. Menengok ke belakang, sarana cuci dan mandi separo dinding kusam. Orang mandi musti jongkok karena jika berdiri buah dada akan terlihat dengan jelas. Wanita yang mandi terpaksa harus dibungkus kain tapih untuk menghindari mata nakal.
Mengenaskan sekali kehidupan keluarga Ita. Ibunya buruh musiman pada sebuah pabrik ikan filet. Bapaknya nganggur sama seperti Adi. Kakak nomer satu hidup di Jakarta sebagai sopir metro mini. Satunya lagi, kakak Ita nomor tiga juga kerja di Jakarta. Entah kerja apa, aku tak pernah usil untuk menanyakan. Satu-satunya tulang punggung dalam kehidupan Suhardi, bersandar pada penghasilan Ita sebagai penyanyi dangdut.
Kondisi minus semacam itu sama halnya dialami oleh banyak keluarga pedangdut yang kutemui. Seperti keluarga pedangdut Lia misalnya, saat kali pertama aku bertandang ke rumah dia, jauh lebih parah. Bapak Lia, Bambang Suhendi, nganggur. Ia menghidupi lima keluarga. Sebetulnya ada tujuh keluarga, namun dua anak tertua dari Bambang, Dewi dan Vera mengadu nasib di Pulau Batam. Aku tak tahu apakah tiap bulan mereka rutin mensuplai keluarga Bambang atau gimana, yang jelasnya saja aku mengenal Lia dalam kapasitas kerja di jalur rekaman lagu-lagu tegalan ciptaanku. Aku kasihan melihat kehidupan keluarga ini disayat sembilu kepiluan.
Ada peristiwa yang menyentuh perasaanku paling dalam ketika seminggu copy lagu-laguku aku berikan pada Lia, dia masih juga belum tahu seperti apa jenis laguku.
“Pibèn sih, wis saminggu daning durung apal. Kasèté ora disetèl?” kataku waktu itu.
“Ora duwé tipé, listriké ya langka…” kata Lia.
“Oh….”
Aku mendesah. Baru kusadari rumah dia tanpa penerangan. Radio pun tak punya. Tapi aku salut, dalam keterbatasan Lia ternyata dia bisa menguasai banyak lagu dangdut. Selidik punya selidik, dia hafal semua lagu dangdut karena mendengar dari suara radio milik tetangga.
“Wis kyèh, tak silihi tipèku. Telung dina laguné enyong diapanlna? Dong wis apal rekaman” kataku sambil memberikan tipe recorder kecil.
“Ya”
Itulah catatan kecilku terhadap kondisi kemiskinan keluarga Lia ketika proses rekaman album tegalan ‘Lagi Kedanan’. Sekarang hal yang sama aku temukan juga pada situasi ngenes keluarga Ita. Wadaw! Ketemu mlarat maning, ketemu mlarat maning!
Pikiranku masih berputar-putar pada masa silam ketika aku diterjang sebuah suara yang mengejutkan.
“Kamu sih bikin gara-gara!”
Jelas terdengar suara Ita menampar kebengonganku. Sejenak kusapu wajah dia. Ada telaga bening yang menggenang di sudut matanya. Tapi sungguh, demi mendengar perkataan itu, aku dibuatnya terhenyak. Aku tak mengira Ita bakal melayangkan kata-kata semacam itu.
“Kok aku yang kamu salahin? Bapakmu yang menyuruh aku untuk menunggumu. Aku bikin gara-gara apa?”
Ita menangis. Dia mendekapku dan kurasakan detak jantung dia berpacu dengan detak jam di dinding. Air mata dia bergulir membasahi jaket levisku. Aku mendiamkan dia menumpahkan galau hatinya. Suasana rumah sepi, ibu dan bapaknya di luar rumah.
“Aku malu mas. Kenapa hal ini terjadi?”
Isak tangis Ita bercampur sedu sedan. Aku diam tanpa bersuara. Langkah kaki mendekat. Ita melepas renggang pelukan. Bu Wisem masuk.
“Mereka memang biang kerok kampung ini mas Lanang. Biasa…”
Terus terang aku cemas mendengar dia bolak-balik ngomel. Aku cemas kalau saja mereka kembali memburu, aduh apa yang terjadi?
“Sudah bu, jangan ngomong terus. Nanti mereka ke sini…” kataku.
“Emangnya kita ini apaan sih mas Lanang? Orang kita nggak salah kok. Sama tetangga, kita baik gak pernah cari musuh…”
“Mereka iri, maunya bikin ribut di kampung sendiri,” sambung Ita sambil bergegas ke luar diikuti ibunya yang kembali ke luar.
“Saya ini baru pulang job nyanyi. Baju pun belum sempat ganti, emangnya saya sedang melakukan apa?” suara Ita serak.
“Sudah Ta, Polisinya suruh cepat ke sini, biar semua orang yang terlibat ditangkapi” timpal Suhardi yang masih berada di luar.
“Adi sedang ke Polsek Kramat Pak. Sebentar lagi Polisi datang” seru Bu Wisem.
Ada sekitar satu jam, dua Polisi datang. Aku tak kenal nama kedua Polisi itu. Salah satu dari mereka berjaket hitam, satunya mengenakan seragam polisi. Orang yang berjaket itu agaknya Kasat Reskrim dari Polsek Kramat. Karena dari pembawaannya santai, kebapakan, santun, juga melindungi.
Setelah mereka mendapatkan keterangan tentang kronologi peristiwa dari Suhardi, aku dibawa ke luar. Saat aku diminta naik mobil, aku menolak ditempatkan di belakang. Aku selalu waspada, aku tak mau ada serangan mendadak dari para pengeroyok saat aku berada di belakang mobil.
“Saya duduk di depan saja Pak” pintaku pada Kasat Reskrim. Kulihat mata si sopir memandang tak bersahabat. Dia seperti tak iklas aku duduk di tengah-tengah mereka. Tapi aku tidak mau tahu.
Mobil bak terbuka melaju pelan, menembus kesunyian, remang-remang, dan tiupan angin yang semakin dingin. Tujuan kamil ke selatan sekitar lima kilo meter hingga ujung gerbang desa. Dari situ kami melaju arah kiri dan bablas ke Kantor Polsek Kramat.
Sampai di kantor polisi, aku lihat Adi ada di sana!

*


Perjuangan
Inilah kronologi awal insiden itu terjadi. Ba’da maghrib aku menuju Anton di Desa Pacul. Dia seorang operator recording, sudah berminggu-minggu aku membuat rekaman album tegalan padanya. Beberapa tahun ini aku memang suntuk memiliki kegilaan pada upaya menggeber bahasa Tegal lewat dunia rekaman. Aku mbalung sungsum pada tegalan. Aku mencipta dan berupaya mendanai sendiri untuk membuat album secara indie lebel. Aku tak ingin setengah-tengah memperjuangkan bahasa lokal. Semua jalan aku tempuh, aku dobrak apa yang bakal jadi penghalangku. Dalam pikiranku hanya satu; tegalan harus meroket! Bagiku, bahasa tegalan itu sangat menarik dan unik. Kosa kata tegalan itu liar, tercipta dan bergerak sedemikian bebas. Dan aku terpukau. Aku telanjur telah mengusung tegalan lewat jalur puisi terjemahan hingga melanglang ke pusat kebudayaan Jawa di Taman Budaya Surakarta, Solo. Sekarang langkahku telah melaju aku ayunkan. Aku bergerak sebagai ‘pengendara badai’ kreatifitas tegalan ke mana aku mau dan aku tuju.
Anton baru saja selesai berdandan ketika aku sampai di rumahnya. Ia menyambut kedatanganku di ruang tamu. Tapi wajahnya tampak menyimpan sesuatu. Aku baru tahu ketika dia berkata.
“Lamaranku diterima di Radio Hijaz Pemalang. Besok malam kita tak bisa ketemu lagi karena aku sudah berada di Pemalang. Tiap Sabtu sore baru di Tegal. Besok pagi, mas Lanang harus ke sini menyelesaikan rekaman yang tinggal beberapa nomor. Tapi untuk malam ini tak bisa rekaman, aku mau berkemas-kemas”
Tenggorokanku seperti tercekat. Tak kuduga hal itu bakal terjadi. Padahal malam ini sudah semestinya Ita take vocal. Seperti biasa, sebelum aku jemput Ita aku memang harus menyambangi Anton. Ini dimaksudkan agar Anton lebih awal menata segala keperluan recording. Aku memilih Anton karena dia sudah menguasai program cool edit. Penguasaan Anton mengoperasikan program itu telah dipelajari ketika dia bekerja sebagai penyiar di Radio Roshinta.
Perjumpaanku dengan dia saat kebingunganku melanda mencari orang yang bisa menangani program itu. Untung, dari penyiar Radio Pertiwi, Eko, aku diminta menguhubungi Anton. Tanpa pikir panjang, selepas Isya aku bertemu Anton di Roshinta. Aku utarakan maksudku dan Anton menyanggupi.
Seiring perjalanan waktu, recording berlanjut. Tiap malam atau pagi, Ita kugembleng menghafal lagu-lagu tegalanku. Ada sepuluh lagu yang harus dia pelajari. Baginya, itu sebuah pengalaman baru. Tak heran kalau Ita blekak-blekuk menghafalkan laguku. Aku harus sabar untuk mencekoki virus tegalan padanya seperti dulu aku menggembleng Lia hingga berhasil menelorkan dua album tegalan ‘Lagi Kèdanan’ dan ‘Rika Téga Enyong Téga’.
Tapi sungguh, daya tangkap Ita kelewat rendah. Minta ampun aku mengajari dia untuk menghafalkan laguku. Cengkok lagu yang aku ajarkan kerap berubah-ubah. Bila hari ini satu lagu bisa dia kuasai, lain waktu lenyap seperti air dalam kubangan yang dihisap anjing saat kehausan.
“Bagaimana sih? Kemarin kan sudah bisa, sekarang lupa lagi”
“Lagu tegalan ternyata sulit mas. Cengkoknya sering lupa” katanya.
“Ita biasa mas. Suka menggampangkan masalah. Kasihan mas Lanang oh Ta, tiap hari kesini. Sudah susah payah, kamunya gak serius. Coba serius, jangan cengengesan,” kata Bu Wisem. Tapi Ita cuma cengengesan melulu. Aku mengurut dada dan berusaha sabar, membimbing dia dengan telaten.
Sebagai pejuang tegalan, aku pantang menyerah. Ketika aku punya kemauan, aku tak mau main-main. Aku lahir di Tegal dan aku mencintai budaya tegalan dengan penuh seluruh. Aku sudah memilih Lolita untuk album ketiga ini, dia harus jadi.
Kalau aku harus memilih antara Lolita dan Lia. Tentu akan kupilih Lia karena dia kendati masih duduk di kelas 2 SMP, dia jauh lebih tangkas dan mumpuni. Tapi lantaran aku pernah dikecewakan bapaknya, aku sakit hati. Persoalannya sepele. Ketika itu, ada lima laguku dan empat lagu milik Moch. Hadi Utomo dikontral oleh Taufik Pasha, seorang pengusaha muda dari Desa Bongkok, Kramat peduli terhadap budaya Tegal. Taufik menugasiku mencarikan biduan untuk membawakan lagu kami sebagai sample.
Pikiranku tertuju pada Lia karena dia sudah mengenal betul laguku. Pada tahun 2000 kami memang pernah konser bareng bersama Ki Enthus Susmono di Alun-alun Tegal. Dalam konser bertajuk ‘Paseduluran’ itu, lagu tegalanku dibawakan Lia dengan iringan musik Kelompok Musik Warung Sastra Tegal pimpinan Nurngudiono.
“Laguku dan lagu milik Pak Hadi mau dibikin album. Tolong Lia ngisi suara untuk sample rekaman. Ora keberatan kan?” kataku ketika berada di rumah Lia.
Belum sempat Lia menjawab, Bambang ke luar dari kamar lantas menyerang.
“Ngko dingin Um. Aja maèn gampangan. Kalau yang pakai Um Lanang sih tidak masalah,”
Aku tersentak mendengar kata-kata Bambang. Menyakitkan sekali. Orang ini seperti tak tahu adatku saja. Belum pernah aku memberlakukan anaknya dengan gampangan. Bagiku, setiap tarikan otot leher Lia tak pernah lepas dari bayaran. Aku menghargai profesi penyanyi. Jangankan tarikan nafas dan urat leher yang dia lakukan. Lia itu aku manjakan, secara diam-diam kerap aku pecingi karena aku tahu dia amat jarang mempunyai uang saku. Garis kemiskinan yang menjerat kehidupan Bambang itu, memaksa keluarga itu tak mungkin mampu berbuat banyak. Dan aku pikir Bambang pun tahu bagaimana welas-asihku pada keluarganya tak sungkan-sungkan menyisihkan pendapatan hanya sekadar meringankan beban. Kadang lewat istrinya atau lewat Lia.
“Aja watir Pak. Lia tak bayar”
Baru Lia dilepas. Dia kemudian aku ketemukan dengan Taufik. Hari itu juga kami menuju player Sholeh di Slawi. Dan sejak itu, hubunganku dengan keluarga Bambang renggang. Aku jarang bertandang.
Album tegalan yang direncanakan Taufik, ternyata gagal. Mau tak mau aku kembali menempuh jalur remakaman indie lebel. Aku kembali memburu penyanyi. Kebetulan ketika Dhimas Riyanto melaunching album tegalan ‘Sèndèhan Lawang’ di Café Style obyek wisata PAI Tegal, aku berkenalan dengan Lolita. Antara aku dan Lolita kemudian saling bertukar nomor hape. Kami menjalin hubungan yang lalu Ita aku tawari kerjasama untuk membuat album tegalan.


*

Aku masih menggembleng Ita. Tak bosan-bosan aku bertandang ke dia. Baru setelah memenuhi syarat, kuboyong Ita untuk take vokal. Tapi tolong, kalian jangan beranggapan tempat pengisian suara milik Anton itu seperti halnya studio rekaman beneran. Tempat take vocal milik Anton itu berada di ‘lantai 2’ berukuran 3 x 4 meter dengan ketinggian orang berdiri. Untuk ke ‘lantai 2’ kami harus naik tangga secara bergantian, karena lobang menuju ‘dapur’ rekaman hanya pas untuk satu badan. Tak heran jika berada di ruangan itu, rasanya seperti terpanggang. Minta ampun panasnya karena jarak antara ketinggian kepala dengan genteng cuma setengah meter, menyebabkan sengatan matahari terasa membara seperti berada dalam sebuah open. Perasaan itu makin terasa sekali ketika kami melakukan take vokal pada siang bolong, uf! Keringat pasti mengucur deras.
Untung tak bisa ditolak, malang tak dapat dihindarkan. Begitulah perumpamaan yang kami alami. Ketika kami lagi suntuk berproses rekaman, terjadilah ‘kecelakaan’. Berita Anton pindah kerja secara mendadak, menyentak jantungku.
Malam di Desa Pacul terus bergerak maju. Tanpa pikir panjang aku bergegas menuju wartel terdekat. Aku hubungi hape Ita. Sial! Hape dia tak bisa kuhubungi. Berulangkali kucoba, hasilnya tetap nihil. Demi mengejar waktu, aku beringsut dari kotak telepon, ke luar dan kembali mendatangi rumah Anton.
Desa Pacul berkerudung kegelapan. Baru pukul 20.30 tapi suasana tampak sepi dan pekat. Banyaknya pohon pisang, kedongdong, rumpun bambu, randu, dan pepohon peneduh lainnya menyebabkan suasana desa itu dikelamkan rerimbun pepohonan yang mengelam.
“Aku langsung ke rumah Ita, Ton. Hapenya tak bisa kuhubungi, modar!”
Aku menstater motor, honda 700 itu kupacu dengan kecepatan seadanya menuju arah timur. Rumah Ita tak jauh dari Desa Pacul jika ditempuh hanya membutuhkan waktu satu jam kurang sedikit. Tapi menuju ke rumah dia, harus melewati hamparan sawah membentang di antara perbatasan Desa Pacul dengan Desa Wangandawa. Suasana cukup gelap, hamparan padi tampak terbungkus kabut seperti bentangan kaki langit di lepas pantai bila dilihat pada rembang petang. Hama wereng berhamburan menabrak-nabrak mukaku seperti derasnya hujan yang runcing.
Kurang lebih empat ratus meter, motor kupacu lurus, menikung ke kiri dan bablas ke utara. Masih juga hamparan sawah dengan kegelapannya yang khas. Suara-suara hewan malam bergemrengeng seperti simponi alam. Melewati jalan ini, aku kembali didera rasa ketar-ketir jangan-jangan motor tuaku mogok di tengah jalan. Hal itu mengingatkan aku pada peristiwa beberapa bulan lalu ketika suatu malam di Slawi hondaku mendadak mogok dan aku diganjar 15 km menuntun kendaraan dengan nafas nyaris putus. Waktu itu, sialnya lagi aku bokek.
Angin malam menampari mukaku. Motor kugeber menuju utara. Sedikit ada kelegaan ketika memasuki daerah Wangandawa. Lampu jalanan berpedar-pedar membantu jarak pandangku karena senter depan motorku kiyep-kiyep laksana nenek yang menderita rabun mata. Motorku menderu merengek meluncur lurus menuju timur. Lalu-lalang kendaraan saling berburu waktu. Di kiri jalan, hamparan sawah membentang di antara bangunan rumah, sekolah dan warung makan. Angin dan wereng memukul-mukul wajahku. Aku berharap Ita ada di rumah. Lurus dan terus lurus ke arah timur motorku menerabas dinginnya malam. Tak lama, kulihat juga gerbang desa berbentuk joglo. Di bawah joglo ada tulisan:

Desa Jatilawang
Kecamatan Kramat
Kabupaten Tegal

Lewat gerbang itu aku melaju ke utara. Aku telah memasuki wilayah Jatilawang. Bau kembang kamboja menyengat terbawa angin. Lima puluh meter dari gerbang desa kulihat sebuah makam. Aku melewati kuburan itu dengan kecepatan sedang. Suasana sepi, banyak rumah yang pintunya tertutup. Aku merasakan dinginnya hembusan angin yang semakin menggigilkan tubuhku. Beberapa penduduk kulihat kongkow-kongkow di warung warga sambil moci atau makan mie rebus. Entah sudah berapa tikungan yang kulalui. Pada tikungan kesekian, kembali angin menerbangkan bau kembang kamboja, berasal dari sebuah makam yang berdekatan dengan sekolah Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) dan Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ) Al Falah.
Suatu malam, ketika aku melewati makam ini, ada tebaran batu yang melempari kendaraanku. Entah warga penduduk yang iseng atau dedemit yang menggangguku? Aku tak pedulikan. Yang jelas saja, menuju rumah Ita dari arah selatan, dua perkuburan desa musti dilalui. Baru enam ratus limapuluh meter ke depan, sampailah pada tempat yang kutuju.
Sekitar pukul sepuluh malam, aku menstandarkan motor di depan rumah Ita. Remang cahaya lampu 10 watt menggantung di atap rumah Ita sekadar memberi penerangan.
“Kulanuwuunnn…..” aku mengetuk pintu.
Secercah sinar memancar lewat pintu yang terkuak. Deretan kursi dan meja yang sama kusam, terpampang di depan sorot mataku. Sosok lelaki berumur 60-an lebih, tersenyum menyambut kehadiranku. Dialah Suhardi, bapak Ita.
“Eh, mas Lanang. Mari masuk”
Aku melangkah dan duduk di sofa reot berhadapan dengan Suhardi. Tutur kata orang ini seperlunya, berkesan sebagai lelaki pendiam. Beda jauh dengan Ibu Ita yang cerewet seperti babon yang mau bertelor. Perawakan Suhardi sedang-sedang dengan kumis melintas di bawah hidung. Keriput di wajahnya menggores dikedua pipi dengan lebam kehitaman di bawah kelopak mata. Aku memperkirakan, masa muda Suhardi penuh daki perjuangan hidup. Dia tergolong lelaki ganteng dengan bidang dada yang lebar.
Aku membakar rokok dan kutawarkan padanya. Ditariknya sebatang lalu kunyalakan korek api. Pucuk rokok terbakar bersamaan dengan kepulan asap yang ke luar dari mulut Suhardi. Begitulah tiapkali aku memulai menjalin keakraban pada bapak yang satu ini. Sebatang rokok tak jarang mematikan tapi tak sedikit pula memberi kehangatan dan efektif untuk menjalin tali persaudaraan. Orang mati bisa karena rokok tapi nyawa terselamatkan juga karena sebatang rokok.
“Dari rumah saja mas Lanang?” pertanyaan semacam ini setiapkali meluncur dari mulut Suhardi ketika kami membuka percakapan.
“Dari mas Anton langsung ke sini Pak. Ita ada?”
“Tadi ada yang nyusulin, ada job mendadak. Ita bilang main di Kraton, Tegal. Ngobrol-ngobrol dulu lah mumpung masih sore” katanya sambil menghempaskan kepulan asap.
“Ibu tak kelihatan ke mana Pak?” kataku kemudian.
“Tadi ke luar. Apa ke rumah ibu ya?” Suhardi malah bertanya-tanya. Aku tahu apa yang barusan diomongkan Suhardi. Setengah bulan lalu, ibu mertua Suhardi meninggal dunia. Tempat tinggal mertua Suhardi sekitar lima puluh meter. Bu Wisem kerap sekali bolak-balik ke sana.
“Kayaknya Ita pulang jam satu ya Pak?”
“Ah, ndak. Ita bilang gak lama. Tungguin aja” kata Suhardi.
Lagi gayeng ngobrol, mucul Ibu Wisem.
“Eh mas Lanang, dari tadi?”
“Cukupan”
Bu Wisem masuk ke dalam. Sebentar kemudian ke luar dengan menenteng dua gelas minuman. Seperti biasa dia pun nimbrung ngobrol. Ah, berhadapan dengan perempuan yang satu ini, sungguh menimbulkan rasa bosan karena kata-katanya terus nyerocos sama sekali tak memiliki rasa pengertian. Terutama ketika aku dan Ita membicarakan profesi sampai pada hal perasaan. Maunya Bu Wisem terlibat sampai kami bersungut-sungut cemberut. Tak heran kalau kami pun suka main colong-colongan, meluapan gejolak, menghabiskan kerinduan, dan seabrek perasaan kemelut yang kerap menyumpal dalam hati masing-masing.
Sebagai anak muda, sesungguhnya aku sangat memahami rasa was-was Bu Wisem untuk menjaga anak gadisnya. Aku sebagai suami dari satu istri dan bapak dari tiga anak, mengerti hal itu. Aku tak bakalan melakukan hal di luar kewajaran dan merendahkan diri sendiri. Batas pergaulanku masih kugenggam erat-erat. Juga meski aku belum begitu saleh terhadap agama Islam yang aku anut, tapi masalah zinah amat kujauhkan dari hidupku. Aku mengerti dan sangat memahami hukum akibat dari perbuatan kotor itu. Jangankan Ita yang bukan apa-apaku. Terhadap calon istriku yang sudah aku ikat dengan tali pertunangan pun, sama sekali tak pernah aku sentuh hal-hal yang dilarang agama. Kendati kesempatan melakukan itu terbuka lebar-lebar. Tapi aku sangat menghargai kesucian, keperawanan dari seorang wanita. Dalam padangan hidupku, menyakiti atau menzinahi wanita sama artinya berbuat tolol dan rasanya menyakiti perasaan seorang ibu. Aku menggenggam etika percintaan, kesetiaan, juga persahabatan, kecuali keadaan yang tidak memungkinkan akan rela kutinggalkan meski hatiku yang kemudian tercabik-cabik sendiri. Hal ini seperti ketika aku diputus Sibeng.
Sibeng yang kuagungkan dan kurapkan menjadi pendamping hidupku ternyata dijodohkan dengan lelaki pilihan orang tua asuhnya. Tujuh tahun kami membina percintaan, sekejap itu berantakan. Tak terkira rasa pedihku menanggung hati yang berkeping. Tapi kata Sibeng, semua itu diluar batas kemampuannya. Ia merasa hutang budi dan saat itu sudah seharusnya berbakti pada orang tua asuhnya yang telah menghidupi dari berbilang tahun sejak dia masih kanak-kanak. Kemiskinan yang menjerat kehidupan orang tua kandung Sibeng, memaksa dia dan adiknya diasuh oleh saudaranya itu. Kedua orang tua asuh Sibeng bernama Siti dan Ruslani. Mereka menghidupi Sibeng dan adiknya dengan membuka usaha mebel di Pasar Sore Kota Tegal. Aku mengenal dan menjalin asmara dengannya ketika dia menjadi adik kelasku di SMEA Pius hingga selepas sekolah, tujuh tahun berjalan bukan waktu yang sedikit.
Aku tetap menggenggam etika asmara dan aturan agama. Pernah suatu kali, ketika aku tandang ke toko mebelnya, sehari setelah dia dilamar, Sibeng menawarkan aku pergi berdua ke Guci untuk melepas segala kegalau, kangen, dan luapan perasaan cintanya yang masih menggebu, tapi dengan halus kutolak. Aku memperkirakan berduaan di wiyalah Obyek Wisata Guci di kawasan kaki Gunung Slamet dengan udara yang menggigilkan badan, besar kemungkinan bakal terjadi ledakan hawa birahi. Dan aku menolaknya untuk tidak mengikuti perasaan itu. Kulihat mata Sibeng sendu, perasaan kelu, kecewa tergambar jelas di kelopak dua matanya.
Aku menarik nafas dalam-dalam mengingat semua itu. Kini dihadapanku kutatap Ibu Wisem. Wanita yang telah berumur itu terus ngecebres seperti lidah api yang menjulur ganas menghabiskan kayu bakar. Dan waktu terus merayap.
“Aku pulang aja ya Pak?” kataku.
“Jangan, sebentar lagi Ita pulang. Tanggung” kata Suhardi mencegahku.
Aku seperti kena sihir. Aku mengikuti omongan Suhardi. Tapi sampai di sini kurasakan tololku begitu tampak. Bahkan sempat juga aku dibuatkan mie rebus yang kubeli dari warung belakang rumahnya.
Sambil makan mie rebus aku menunggu kedatangan Ita. Malam terus berjalan menambah sepinya suasana Desa Jatilawang. Suara hewan malam dari persawahan di sebelah timur jelas kudengar. Juga yang berasal dari perkuburan tak jauh dari belakang rumah Ita.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Aku ketar-ketir dan digayuti perasaan jenuh menunggu. Ada perasaan yang tak biasa menggayang saling menghantam, menggebu-gebu. Entah perasaan apa, jelasnya saja aku harus menyudahi pertemuan ini.
“Aku pamit Pak, besok pagi-pagi aku ke sini. Bilang sama Ita mau rekaman” kataku sambil berdiri dan menjulurkan tangan untuk bersalaman dengan Suhardi. Selanjutnya bergegas aku ke luar ruangan dan menstater motorku. Motor menderu, gas kutambah dan gigi kopling kumasukan satu. Sebentar kemudian aku meluncur ke barat dan belok melintas jalan desa menuju ke selatan.
Baru beberapa meter motorku melaju, aku berpapasan dengan Ita dalam boncengan seorang lelaki. Terpaksa motor kubelokan lagi mengikuti Ita menuju rumah. Dan inilah awal peristiwa itu terjadi. Derap langkah kaki para pemuda sekonyong-konyong kudengar mendatangi rumah Ita. Semakin mendekat dan mendekat (*)


KETERANGAN:

Naskah di atas salah satu bagian dari Memoarku berjudul 'Pengendara Badai'







Tidak ada komentar: