Sabtu, 04 April 2009

BURSA KETUA DKT


Bursa Ketua DKT
Wacana Memunculkan ‘G1 dan G2’


DINAMIKA berkesenian di Kota Tegal selalu menarik diikuti. Para pelaku seni di kota yang dijuluki ‘kota negeri poci’ itu penuh geriap. Lebih lagi setelah dibetuknya dewan kesenian, letupan proses kreatif mereka terus menggila dan tak pernah padam. Kini, pergantian Ketua Dewan Kesenian Kota Tegal (DKT) sudah diambang pintu. Di tengah proses itu, Komunitas Roti Bakar Dian Gendut, merasa perlu memberikan masukan penting kepada panitia penyelenggara pemilihan untuk mencari figur panutan ketua DKT yang ideal, amanah dan bukan asal-asalan.
Berangkat dari niat baik itu, Senin (6/4) malam ini pukul 20.00, Komunitas Roti Bakar Dian Gendut, siap menggelar dialog budaya dengan tema ‘Mencari Figur Ideal G1 dan G2 DKT’. Mengundang nara sumber Hamidah Abdurrachman dan Wijanarto dengan moderator Atmo Tan Sidik. Demikian ‘Lurah’ Komunitas Roti Bakar, Saunan Rasyid mengatakan kepada NP di ruang kerjanya, Sabtu siang (4/4) dengan didampingi Atmo Tan Sidik.
Dijabatkan oleh Atmo, perlunya dimunculkan wacana G1 dan G2 dalam bursa pencalonan ketua DKT, secara dini agar konstituen masyarakat seni dapat memilah dan memilih kader dengan kualitas unggul SDM tinggi. “G1 ngurus masalah eksternal, G2 ngurus internal, sehingga ada pembidangan yang jelas” kata ‘Carik’ Komunitas Roti Bakar itu dengan berapi-api.
Lebih dari sekadar itu, Atmo mengatakan, ketika terjadi kefakuman, tidak terlalu ada goncangan karena G1 dan G2 adalah figus solidarity maker, sedang jika saat fakum dijabat sekertaris, posisinya sebagai administrative maker, bobot legitimasinya kurang.
Sementara itu Saunan Rasyid menandaskan, siapapun figur panutan calon G1 dan G2 DKT itu boleh maju. “Sing penting mereka pernah berkecimpung dalam dunia kesenian. Mereka yang punya semangat, kemauan, kreativitas dan kapabilitas,”.
Menjawab pertanyaan, Saunan menegaskan, mulai saat ini panitia penyelenggara pendaftaran bursa pencalonan G1 dan G2 DKT, segera mungkin dibuk. “The sooner the better, untuk menyaring yang terbaik, agar tidak seperti membeli kucing dalam karung” (*)



Apito Lahire Tampil Bersama Rendra

BEGAWAN monolog dan penyair Apito Lahire bak penyanyi dangdut yang lagi laris job. Di bulan April ini jadwal manggung di luar kota, padat. Tanggal-tanggal pentas dan temu penyair dia lingkari di kalender.
“Tanggal 16 – 22 April ini aku mau tampil bersama WS Rendra dan musikus Sawung Jabo dalam Festival Eloprogo di Borobudur, Magelang” ujar Apito.
Dalam festival itu, Apito akan tampil monolog membawakan Bau Mulut Raja Rimba karya Agus Riyanto. Selain itu, Apito akan mengisi work shop keaktoran bagi pelajar di sana.
Seminggu kemudian, tepatnya tanggal 28 April Apito turut dalam Temu Penyair Jateng, di Taman Budaya Surakarta. Dalam acara tersebut dia mewakili Kabupaten Tegal bersama tiga penyair lainnya seperti Abu Ma’mur MF, Julis Nur Hussein dan Nanae Eres. “Aku akan baca puisi, ikut diskusi dengan pembica Eko Tunas, dan Bandung Mawardi dari Kabut Institute Solo” katanya.
Menurut Panitia Penyelenggara, Wijang Warek, acara tersebut untuk memetakan kepenyairan di Jawa Tengah. Mewakili Kota Tegal, penyair DiahSetyawati, HM. Enthieh Mudakir, dan Joshua Igho.
Pada hari sebelumnya, Apito banyak melakukan baca puisi berkeliling di wilayah Kabupaten Tegal dalam acara kampaye caleg. Dia mengaku, untuk saat ini hari-harinya banyak dihabiskan untuk latihan monolog dan baca puisi. “Untuk bulan ini, hari-hari padat latihan. Banyak undangan pentas di kampung dan di luar daerah Tegal” katanya (*)


KETERANGAN GAMBAR : Saunan Rasyid








Tidak ada komentar: