Kamis, 13 Agustus 2009

EKO TUNAS PUJI PENAMPILAN TAMBARI GUSTAM


Eko Tunas:i
Tambari Memukau Penonton dengan

’Dadiya Siji Tlembuk-tlembuk Kota Jakarta’

JANJI
seniman pentolan Tegal H. Tambari Gustam mengguncang malam Mengenang Rendra, menjadi kenyataan bukan umbrusé tok (gede kosong -red). Dengan membacakan sajak ‘Dadiya Siji Tlembuk-tlembuk Kota Jakarta’, ia tampil memukau disaksikan para seniman dari berbagai kota, Rabu (12/8) malam di pelataran Gedung PKK Jalan Setiabudi, Kota Tegal. Bahkan budayawan Eko Tunas pun merasakan penampilan Tambari Gustam menjadi bintang selama berlangsungnya acara tersebut.
“Haji Tambari Gustam tampil memukau dengan pelacur-pelacur Kota Jakarta, dalam iringan musik dan konfigurasi cewek-cewek sexy. Puisi tegalan yang dibawakan dia sekaligus sebagai tanda acara Rendra yang lebih spesifik hanya di Tegal,” puji sastrawan Eko Tunas ketika mengomentari penampilan Tambari dalam pembacaan puisi ‘Dadiya Siji Tlembuk-tlembuk Kota Jakarta’ terjemahan dari sajak ‘Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta’ karya WS. Rendra.
Tambari tampil dengan mengusung cewek-cewek ABG sexy yang berperan sebagai ‘tlembuk-tlembuk Kota Jakarta’. Dengan baju yang sexy dan mengundang, serta liukan tarian diiringi kelompok Musik Wayang Sastra Balo-balo pimpinan Tambari Gustam, pementasan malam itu menjadi sebuah puncak aksi diantara para seniman Tegal, Brebes, Slawi dan dari luar Kota Tegal. Sungguh daya pukau, kejutan, dan gelegar sastra tegalan yang dibawakan dia menandai adanya kebesaran puisi Tegalan yang saat ini telah menjadi booming.
“Saya sampai merinding dan tergeriap menyaksikan sajak ‘Dadiya Siji Tlembuk-tlembuk Kota Jakarta’ yang dibawakan Tambari plus cewek-cewek sexy dan musik yang disuguhkan, serta kostum bagus, gerak tampilan teatral, vokal terjaga dalam puisi panjang. Hingga di akhir pementasan para pengunjung pun ikut berjoget bersama Tambari dan cewek-cewek sexy,” papar Eko Tunas yang bola matanya tak bekedip.
Rabu (12/8) malam Tambari Gustam memang tampil habis-habisan dengan seluruh daya ledakan ekspresi keseniman yang dia miliki, penuh gemuruh mengejutkan. Agaknya dia menyiapkan betul dan penuh kesungguhan dalam mempersiapkan pementasan itu.
Pukau kebesaran sajak-sajak tegalan yang saat ini telah menjadi ikon Kota Tegal itu, pertama kali meledak dan menggemparkan saat novelis ‘Pengendara Badai’ Lanang Setiawan mengusung sajak-sajak terjemahan karya WS. Rendra ke dalam bahasa Tegal itu terjadi di tahun 1994 bersama para seniman Tegal di Taman Budaya Surakarta. Sejak lawatan sastra tegalan itu, booming sajak tegalan mengundang kegemparan dan pada akhirnya banyak undangan yang dating bertubi-tubi. Diantaranya undangan ke Indramayu, komunitas ‘Wapres’, Bulungan Jakarta, sampai kemudian Walikota dan Bupati Tegal; Adi Winarso dan Agus Riyanto tampil dalam acara ‘Jed-jedad Maca Puisi Tegalan’ beberapa tahun silam.
Tak mengherankan pula, sejak meledaknya puisi-puisi tegalan, para seniman Tegal pun menetapkan ‘Hari Sastra Tegalan’ jatuh pada tanggal 26 Nopember. Setahun lalu, ‘Hari Sastra Tegalan’ itu dirayakan secara besar-besaran oleh para seniman Tegal di Taman Budaya Raden Saleh, Semaran, Taman Budaya Surakarta, dan di Rumah Dinas Wakil Walikota Dr. Maufur.
Tidak mengherankan ketika malam Mengenang Rendra, penampilan H. Tambari Gustam yang saat ini banyak disebut sebagai Juragan Wangsalan itu, sangat menawan dan menjadi bintang dari seluruh penampil sepanjang tiga hari acara tersebut digelar oleh Dewan Kesenian. Hal ini, menurut penyair pentolan Dwi Ery Santoso lantaran sajak yang dibuat dalam bahasa tegalan demikian akrab dengan bahasa ibunya. “Puisi yang ditulis dalam bahasa ibu, menjadi daya pukau dan sangat dekat dengan masyarakatnya. Tidak mustahil jika Tambari Gustam menjadi pusat perhatian,” ucap Dwi Ery Santoso.
Hal yang sama ketika di ‘Rumpres (rumah apresiasi) Muaratua’ H. Tambari Gustam digelar acara yang sama, sajak ‘Rick Sing Corona’, ‘Tembangan Banyak’ terjemahan Lanang Setiawan dari sajak Rendra berjudul ‘Rick Dari Corona’, dan ‘Nyanyian Angsa’ membuat kehebohan dan kejutan penuh pukau (*)

Tidak ada komentar: