Senin, 29 Desember 2008

ORASI BUDAYA ATMO TAN SIDIK


Orasi Budaya Atmo Tan Sidik


MEMASUKI tahun baru Islam 1 Muharam 1430 Hijriyah, yang momennya bersamaan dengan akhir tahun 2008, Dewan Kesenian Kabupaten Brebes (DKKB) menggelar refleksi akhir tahun, bertempat di Pendopo Bupati Brebes, Minggu (28/12). Orasi menampilkan pemerhati budaya pantura Drs Atmo Tan Sidik yang mengetengahkan topik ‘Sumur dan Produktivitas Kolektif Menyiasati Akar Ketegangan Antar Logika Langit dan Logika Bumi’.
Dalam orasinya, Atmo membeberkan tentang sejarah peradaban manusia sejak lahir sampai mati yang sangat tergantung dari aktifitas sumur sebagai sumber air, apa lagi ditengarai struktur fisik manusia 70 prosen terdiri dari air. Sejak memasak, mandi, junub dan berwudhu bahkan sampai memandikan jenazah semua tergantung sama air.
“Kepemilikan sumur dengan segala kemanfaatannya secara ideal merupakan simbolisasi dari filsafat universal bahwa jika seseorang ingin memiliki prilaku indah, hidupnya berkah serta keturunannya menjadi anak yang saleh dan solekhah. Tentunya sumur memainkan peran sangat penting yang memvisualkan ‘hurip’ iku huruf,” tandas Atmo.
Lebih lanjut nominator bidang Seni Budaya Award tahun 2006 tingkat Provinsi Jateng yang juga mantan Kepala Desa Pakijangan itu menegaskan, sumur jika tidak dikuras akan banger, sebaliknya jika sering dikuras akan deras, struktur air pun bening demikian pula harta, juga ilmu apabila tidak diamalkan bakal menjadi bala bencana.
“Para Nabi memiliki sumur yang dirawat sebagai monumen untuk kepedulian sosial terhadap lingkungan sekitar, seperti sumur Zamzam, demikian pula para wali memiliki sumur sebagai realisasi dari kesalehan sosialnya, agar ilmu tinemuning laku. Sunan Bonang punya sumur Brumbung, Syeh Ibrahim Asmarakondi sumur Ombe, Ki Ageng Manyuro sumur Ndangangu, Ki Gede Sebayu sumur Danawarih, Raden Purbaya sumur Dhandang, Mbah Panggung sumur Dalem, Mbah Rubi sumur Tamtu, dan Mbah Djoko Poleng merawat sumur Djalatunda. Nah pada tahun baru Islam ini, sudahkah kita punya sumur kesalehan sosial? Karena esensi refleksi tahun baru adalah mempertanyakan aras keseimbangan antara iman, ilmu dan amal,”
Sementara itu Ketua DKKB Lukman Suyanto, mengharapkan agar masyarakat Brebes dapat menampilkan berbagai kreativitas unggulan di bidang kesenian.
“Kenyataan membuktikan berbagai prestasi baik di tingkat regional maupun nasional, telah dapat diraih oleh para seniman asal Kota Bawang. Mari pada tahun mendatang kita sepakat untuk menjadikan seni sebagai panglima pembangunan,” tegas Lukman
Ikut memeriahkan acara tersebut, abah Nurngudiono dari komunitas Kampung Seni Desa Bedug yang juga ketua Kelompok Musik Sastra Warung Tegal (KMSWT). Malam semakin gayeng meskipun ditingkah curahan hujan, setelah KMSWT dengan para penyanyinya melantunkan lagu khas Tegalan Dolanan Rakyat, Ruwat Desa, Tukang-tukang, Sega Ponggol, dan lain-lain.
Nampak hadir Wakil Bupati Brebes, H. Agung Widiantoro, SH, MSi, tokoh pendidikan Wijanarto SPd, kiai Ali Fathoni, dalang Ki Soetarto Wijiwasito, serta para guru dan pengurus DKKB (LS)

KETERANGANG GAMBAR: -Atmo Tan Sidik (berpakaian batik, ketiga dari kiri) saat menjadi penceramah dalam diskusi sastra 'Maut, Kemadian dalam Sastra', di selenggarakan oleh Komunitas Sorlem, 25 Maret 2008 di rumah Lanang Setiawan berkaitan dengan 3 Tahun kematian Ken Narendra Mediasah Muhammad, ananda Lanang Setiawan

Tidak ada komentar: