Tampilkan postingan dengan label DISKUSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DISKUSI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Maret 2009

TRADISI BEDAH BUKU


Tradisi Bedah Buku Tegalan Perlu Dilestarikan

PENTOLAN
budayawan Tegalan, M. Hadi Utomo menilai, acara diskusi buku antologi puisi Tegalan Ngranggèh Katuranggan yang digelar Komunitas Roti Bakar Dian Gendut di Lesehan sebelah selatan Masjid Agung Kota Tegal itu, sangat penting untuk memperluas wawasan.
“Silakan saja setiap komunitas bikin acara diskusi. Topik dan nara sumber harus gonti-ganti. Tapi jangan digunakan untuk ajang pembantaian” tandasnya.
Menurut dia, diskusi Kamis (19/3/2009) malam itu mustinya dibutuhkan moderator yang bisa mengendalikan acara. Hal ini karena suasananya dikemas secara santai dan informal jadi kadang-kadang melebar ke mana-mana.
“Kalau topiknya tentang sebuah buku ya namanya bedah buku. Biasanya penyelenggara membagikan buku” katanya.
Keliaran dan kelinglungan arah diskusi terasa sekali bagi peserta karena diskusi yang menghadirkan nara sumber Eko Tunas dan Imam Chumaedi Ssos kehilangan arah. Para peserta cuma mendapatkan panduan makalah dari Eko Tunas yang mengupas satu puisi milik Atmo Tan Sidik. Mereka tidak mendapatkan gambaran secara utuh keseluruhan puisi yang terangkum dalam antoloji Ngranggèh Katuranggan. Tak ada pilihan lain memaksa diskusi melebar kemana-mana dan tidak fokus.
“Terus terang saja, saya bingung. Saya tidak mendapat gambaran utuh dari puisi-puisi yang terangkum dalam antologi Ngranggèh Katuranggan. Bedah buku kok yang dibedah cuma satu puisi” keluhnya.
Dia berharap, kalau nanti digelar diskusi serupa, hendaknya panitia jangan segan-segan membagikan buku yang akan dibahas. Antoloji puisi tersebut sebetulnya ada 59-an judul puisi yang ditulis dari berbagai kalangan, dari Walikota dan Wakil Walikota Tegal, anggota DPRD, guru, seniman, sampai kalangan masyarakat kelas bawah. Cukup beragam warna dan tema puisi yang termuat dalam bukut itu. Namun karena kecekakan penulis makalah mengupas bait-bait puisi yang ada, menjadikan audien kehilangan pegangan.
“Saya menyayangkan pemakalah yang kurang memberikan gambaran dari isi puisi yang ada pada buku antoloji itu. Parahnya lagi, panitia juga tidak membagikan buku yang sedang kita diskusikan. Tapi secara penyelenggaraan udah bagus, gayeng dan hidup. Makanya tradisi macam ini perlu dilanjutkan” kata audien.
Hal serupa juga dikatakan HM. Yamin SH perlunya kesinambungan diskusi serupa. ”Saya usul diskusi serupa perlu ditindaklanjuti. Kita diskusi di ruang terbuka macam ini cukup bagus,” katanya yang diamini juga oleh Ir.H. Teguh Juwarno.
Atmo Tan Sidik selaku pihak penyelenggara merencanakan, diskusi berikutnya segera membedah novel Tegal Oreg yang ditulis oleh seniman Tegal (*)


SERIUS - Suasana diskusi antologi puisi Tegalan Ngranggèh Katuranggan, Kamis (12/3) malam di Lesehan sebelah selatan Masjid Agung Kota Tegal, tampak gayeng dan serius (Foto: Ekadilah Kurniawan)



Senin, 01 Desember 2008

BAHASA TEGALAN DIUSULKAN SEBAGAI BAHASA PENGANTAR



Bahasa Tegalan Diusulkan sebagai Bahasa Pengantar di Slawi


PEJABAT sementara (Pjs) Bupati Tegal, Drs H. Amat Antono, Msi mengaku tak keberatan bahasa tegalan menjadi bahasa pengantar. “Saya mengusulkan untuk setiap hari Kamis semua pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemkab Tegal menggunakan bahasa tegalan sebagai bahasa pengantar” tegasnya.
Penyataan tersebut disampaikan oleh Amat Antono menyusul adanya gagasan yang meluncur dari salah satu penanya yang mengaku sebagai Pak Castro saat berlangsungnya acara ‘Gendu-gendu Rasa Lesehan Karo Moci’ di halaman depan Radio Citra Pertiwi, Slawi, Kabupaten Tegal, Jumat (28/11) malam.
Dalam saresahan itu, Pak Castro menegaskan, sudah saatnya bahasa tegalan dikembang suburkan di lingkungan Pemkab Tegal mengingat bahasa tersebut salah satu warisan budaya nenek moyang yang pertumbuhannya semakin tak bisa dibendung di tengah-tengah masyarakat Tegal. Bahkan, katanya lebih lanjut, di Kota Tegal sendiri para senimannya telah menentukan Hari Sastra Tegalan yang jatuh pada tanggal 26 Nopember.
“Baru-baru ini mereka bahkan telah merayakan Hari Sastra Tegalan dengan melakukan Lawatan Maca Puisi dan Monolog Tegalan pada tanggal 24 – 25 Nopember. Istimewanya lagi para seniman seperti Nurngudiono, Nurhidayat Poso, Dwi Ery Santoso, Hartono Ch Surya, Bontot Sukandar, Diah Setyawati, Lanang Setiawan, Bramanthi S Riyadi, Joshua Igho, Nok Ratna, Moh Iqbal, dan Widodo merayakan hari tersebut justru di luar kota yaitu di Kota Semarang dan Surakarta yang notabene masyarakatnya menggunakan bahasa Jawa Wetanan. Sangat disayangkan jika di Slawi tidak menjunjung bahasanya sendiri” katanya.
Menanggapi berapi-apinya pernyataan dari Pak Casto itu, Moch. Hery Soelistiyawan mengaku sangat setuju sekali untuk memajukan kehidupan kesenian di Kabupaten Tegal, termasuk bahasa tegalan.
“Penggalian terhadap bahasa lokal tegalan, bagi saya setuju sekali. Karya sastra tegalan baik berupa puisi, cerpen, novel, naskah drama, maupun karya-karya tegalan yang lain harus dikembang-suburkan. Semua itu merupakan asset kebudayaan daerah kita” tegas Hery usai ‘Gendu-gendu Rasa’.
Senada dengan Hery, Bupati Tegal Terpilih Agus Riyanto S.Sos, via telpon jarak jauh mengaku tak masalah penggunaan bahasa tegalan di lingkungan PNS. Ia menyambut baik usulan Pak Antono kalau setiap hari Kamis di lingkungan pegawainya menggunakan bahasa tegalan sebagai bahasa pengantar.
“Saya menyambut baik usulan Pak Antono, kami akan membahas lebih lanjut masalah itu.Tapi perlu diingat, bahasa Tegal juga punya unggah-ungguh dan tata karma,” tegas Agus.
Acara yang dipandu oleh Tri Wiharjo dengan mengundang nara sumber Pjs. Bupati Tegal Amat Antono, Ketua Korpri yang juga Wakil Bupati Tegal Terpilih H. Moch Hery Soelistiyawan SH, M.Hum, dan lain sebagainya, berlangsung penuh keakraban, dan gayeng ditambah penampilan KMSWT membuat suasana diskusi malam itu semakin rakhat (*)


KETERANGAN GAMBAR: Dari kiri Pjs. Bupati Tegal Amat Antono, Ketua Korpri yang juga Wakil Bupati Tegal Terpilih H. Moch Hery Soelistiyawan SH, M.Hum, Kepala Dishubkominfo Pemkab Tegal, Ir. Suhartono, MM, dan Drs. Sunyoto tampak gayeng saat berlangsungya acara ‘Gendu-gendu Rasa Lesehan Karo Moci’, Jumat (28/11) di halaman depan Radio Citra Pertiwi, Kabupaten Tegal (Foto NP : Ekadila Kurniawan)