Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 September 2009

MI' ROJ PENYAIR 'SI BURUNG WAMBIE'


Mi’roj Adhika AS, Penyair ‘Si Burung Wambie'

Garis keturunan dia tergolong agamis. Bapaknya, H. Abd Shomad adalah kiai terpandang di wilayah Pekiringan, Kecamatan Talang. Juga ibunya, Nyai Sarisah, ustadjah. Sementara 9 saudara kandungnya berprofesi sebagai ustad. Namun jalur hidup dia justru berbelok menapaki dunia syair. Moch. Mi’roj Adhika AS, demikian nama lelaki kelahiran 14 Januari Desa Pekiringan, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal itu, malah lebih kerasan memilih menjadi seorang penyair.

Baginya, antara profesi ustad dan penyair sama saja. Keduanya memiliki kesamaan menyampaikan kebenaran. “Antar penyair dan ustad itu, perbedaannya sangat tiois, cuma sekulit ari. Keduanya sama-sama menyampaikan kebenaran,” tutur Mi’roj yang kesohor dengan julukan ‘Si Burung Wambie’ karena ketika dia membacakan sederet puisi, suara dia mirip melengking burung Wambie, mengkristal dan mampu menembus keriuhan. Demikian pula kibasan tangannya seolah kepakan sayap Wambie.

Mi’roj -demikian biasa disapa, adalah putra ke 7 dari 11 bersaudara pasangan KH. Abd. Shomad dan Nyai Sarisah. Mi’roj mengaku menekuni dunia kepenyairan sejak kelas satu MTs Negeri Slawi. Sajak-sajak sufinya yang dia tulis sarat dengan tema sosial, banyak dimuat di berbagai media massa nasional maupun lokal.

Tidak sedikit pula sajaknya terangkum di beberapa antologi seperti Antologi Puisi Indonesia (API) penerbit Angkasa Bandung tahun 1997, Jentera Terkasa tahun 1998 terbitan Taman Budaya Surakarta, Potret Negeri Londok Kasmaran, 1998, Juadah Pasar 1998 terbitan media Tegal Tegal dan Dewan Kesenian Tegal, 1998, Potret Reformasi Dalam Ruh Puisi Tegalan 1998, Sajak Cinta Bulan Tembaga 1999, Manusia Angin 2000, Tusukkan-tusukkan Ilalang 1999, Puisi Cinta terbitan Teater KITA, 2002 dan masih banyak lagi.

Bagi Mi’roj, menulis puisi adalah panggilan nurani. Ia merasa dengan berpuisi dirinya telah berbuat kebajikan. “Aku seperti berkhalwat dan terbang jauh ke alam ilahiyah dengan sajak-sajak yang suci yang benar-benar keluar dari rohani,” katanya mantap.

Meski dia punya kegilaan menulis puisi, namun tidak serta-merta dia menumpahkan bait-bait puisinya dengan sembarangan. Karena menurutnya, proses penciptaan puisi dibutuhkan suasana sublim yang tepat. Baginya, satu puisi bisa ditempuh berbulan-bulan lamanya seperti pada sajak berjudul Renungan Sukma; //……/rembulan tertegun/di atas/batu nisan//Sambil/menghitung-hitung/tasbih/memuji-Nya//.

Menurut dia, puisi di atas dicipta dengan proses sangat sublimasi. Dalam bahasa penyair, proses tersebut diperjuangan dengan ‘berdarah-darah’. “Saya menulis puisi itu setelah berkhalwat selama 40 jumat di makam Pangeran Purbaya Syeh Abd Ghofar di Kalisoka,” katanya.

Mi’roj tidak hanya menulis puisi. Di wilayah Slawi dan Tegal, dia tergolong sebagai pembaca puisi yang sudah bilang tahun dan diperhitungkan. Prestasi yang diukirnya pernah menjadi pembaca puisi terbaik di PC NU Kabupaten Tegal, pemenang juara Lomba Cipta Puisi Cinta di Pekalongan, dan beberapa kejuaraan lainnya.

Sebagai pembaca puisi, dia kerap diundang dalam berbagai pertemuan penyair se-Indonesia, termasuk membacakan sejumlah karyanya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta 1997. Tahun 1998 diundang diskusi dalam acara temu Penyair Angkatan Reformasi, di Solo. Ditahun yang sama dia membacakan puisinya saat peluncuran antologi puisi Jentera Terkasa di Taman Budaya Surakarta. Pada tahun 2008 diundang dalam acara Pesta Penyair Nasional, di Kediri.

Sampai sekarang, Mi’roj masih bergabung dengan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) sejak dari tahun 1997. Lelaki yang masih betah membujang ini bersama begawan dan penyair Apito Lahire menggerakan sastra di wilayah Kabupaten Tegal lewat Komunitas Sastra Tegal (KST) dan melalui Teater Pawon. Kehidupan kepenyairannya sengaja dipertahankan karena dia memandang bahwa dunia puisi perlu diperjuangkan, agar jagat sastra di wilayah Kabupaten tetap hidup dan subur.

“Kehidupan sastra, terutama dunia puisi harus tetap eksis agar ada keseimbangan ditengah-tengah kerihuhan jaman yang ukurannya senantiasa dengan takaran kebendaan,” katanya.

Baginya, dunia penyair adalah dunia kemerdekaan berpikir. Demikian pula dalam bertauhid, syaratnya adalah berfikir dengan merdeka. Tak mengherankan kalau dia selalu berpikir dan bersikap merdeka. Ini terbukti ketika banyak saudaranya menjadi ustad, dia malah memilih hidup sebagai seorang penyair.

Selain sebagai penyair, Mi’roj adalah seorang pengajar di SMA NU 01 Wahid Hasyim Talang, dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Shalahuddi Jakarta kampus Pekalongan. Juga sebagai Ketua Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia) NU Kabupaten Tegal, Pengurus Percasi Kabupaten Tegal, Pengurus Forum Guru Swasta Kabupaten Tegal divisi seni budaya, dan Sekretaris Yaysan Shofa Plus Kabupaten Tegal. Banyaknya organisasi yang dia masuki, karena ingin menunjukkan bahwa hidupnya itu harus bermanfaat bagi dimasyarakat kendati sekecil apapun. “Sekali berarti, sesudah itu mati,” tandas Mi’roj meminjam kata-kata penyair Chairil Anwar.

Dalam waktu dekat, Mi’roj akan mendeklamasikan puisi-puisi religiusnya di Kendal, Semarang, Kudus, Pati, Indramayu, dan Jakarta atas biaya sendiri (*)

BIODATA:

Nama : Moh. Mi’roj Adhika AS

Tempat/tgl lahir : Tegal, 14 Januari/27 Rajab

Ayah : KH. Abd. Shomad

Ibu : Nyai Sarisah

Pekerjaan : Pendidik

Alamat : Jl. Beji Pekiringan Rt 08/02 No 38

Kecamatan Talang Kabupaten Tegal

Organisasi : PC (Pengurus Cabang) IPNU Kabupaten Tegal 1992-2006

PC Ansor Kabupaten Tegal 2006-2009

Ketua Lesbumi Kabupaten TEgal

Ketua Komunitas Sastra Tegal di Slawi

Pengurus Percasi Kabupaten Tegal

Pengurus Forum Guru Swasta Kabupaten Tegal divisi Seni Budaya

Sekretaris Yayasan Shofa Plus Kabupaten Tegal

Prestasi : Pembaca puisi terbaik di PC NU Kabupaten Tegal

Juara Lomba Cipta Puisi Cinta di Pekalongan

Antologi : Tergabung di Antologi Puisi Indonesia (API) tahun 1997

Jentera Terkasa, tahun 1998

Potret Negeri Londok Kasmaran, 1998

Juadah Pasar, Tegal1998

Potret Reformasi Dalam Ruh Puisi Tegalan, 1998

Sajak Cinta Bulan Tembaga, 1999

Manusia Angin, 2000

Tusukkan-tusukkan Ilalang, 1999

Puisi Cinta, 2002


Minggu, 26 Juli 2009

BALADA LINDA LISTIYAWATI




Pengusaha Linda Listiyawati:
Berani Jadi Pengusaha Muda
Oleh Ekadila Kurniawan

“JIKA ingin kaya, maka berdaganglah.” Salah satu bunyi hadis Rosululloh SAW tersebut begitu dipercaya oleh Linda Listiyawati (22). Ia merasa yakin, dengan berdagang akan dapat meningkatkan kesejahteraan taraf hidupnya. Maka, setelah lulus dari SMAN 1 Slawi, Kabupaten Tegal tahun 2004 ia memberanikan diri pergi ke Jakarta, mengadu nasib sebagai pengusaha Otak-Otak Ikan Tenggiri Sriwijaya Kelas Bangka.
Usaha Otak-Otak Ikan Tenggiri Sriwijaya itu sudah ia rintis sekitar lima tahun ini bersama salah seorang temannya yang tersebar di berbagai sudut kota di Jakarta, Cibubur, Depok dan Bandung. Nama Otak-Otak Tenggiri Sriwijaya, katanya, saat ini sedang booming.
“Disana lagi booming banget yang namanya Otak-Otak Ikan Tenggiri dan dilidah terasa lebih gurih dibanding yang terbuat dari ikan lainnya,” terang gagis penyuka warna putih ini beberapa waktu lalu disela-sela acara Lomba Baca Puisi IPNU-IPPNU Kecamatan Talang. Ia menambahkan, makanan Otak-Otaknya itu sebagai camilan bagi warga Kota Jakarta sebelum makan utama tersaji di rumah makan.
Kenapa pilih buka Otak-Otak, bukan buka butik atau distro? “Saya terinspirasi dari para penjual Otak-Otak yang pakai sepeda. Mereka yang berjualan menggunakan sepeda saja laris, apalagi kalau ada di dalam rumah makan,” ujarnya.
Karenanya, ia melobi ke berbagai rumah makan untuk menempatkan stand Otak-Otaknya bisa masuk ke dalam rumah makan. “Yang pertama ada di daerah Cibubur, di Rumah Makan Kabayan. Kemudian kami mengembangkan cabang di Cibubur ada dua, di Depok ada dua, di Bintaro, dan Bandung,” bebernya.
Sebelum terjun sebagai enterpreneurship, ia bekerja sebagai waites di salahsatu restoran. Tetapi ia menyadari, hanya terima gaji Rp 712 ribu perbulan tidak cukup untuk kebutuhan hidup di Jakarta, hanya bertahan satu tahun, pada 2005 mencoba buka usaha Otak-Otak Tenggiri. Dengan modal yang tak begitu besar, sekitar Rp 7-10 juta usahanya itu lambat laun mengalami kemajuan. Omsetnya, katanya, mencapai Rp 300-350 perhari, Cara kerja Linda mengelola bisnis otak-otaknya, ia dan temannya saling bagi tugas. Ia bertugas sebagai Publik Relation (PR), yakni mencari tempat yang kiranya ramai pembeli, melobi ke pengusaha-pengusaha rumah makan. “Ya entah kenapa kalau urusan melobi ke rumah makan-rumah makan saya merasa lancar-lancar saja, makanya, teman saya memercayakan saya sebagai publik relationnya dan temanku lebih condong yang membuat Otak-Otak Tenggiri, karena memang dia sangat ahli,” ujarnya.
Urusan pembayarannya, ia percayakan sepenuhnya pada karyawan di lapangan. “Mereka selalu mengirim hasilnya setiap hari ke rekening, jadi bisa ditinggal,” tuturnya renyah.
Jadi seorang enterpreneurship, gadis bintang iklan ‘Anti Mati Gaya’ ini menempuhnya dengan penuh keberanian yang tinggi. Tidak banyak anak seusianya yang masih muda berani membuka lapangan usaha. Tetapi dia berani. “Saya kan juga kebetulan nyambi jadi bintang iklan dan sinetron, penghasilanya ditabung untuk modal usaha,” ucapnya.
Dan ia lebih memilih sebagai pengusaha daripada terjun sepenuhnya jadi artis karena panggilan jiwa. Selain itu, melihat kondisi ekonomi orangtua yang tidak memungkinan membiayainya kuliah, maka baginya jalan terbaik membuka lapangan kerja, bukan kuliah atau cari kerja. “Kuliahnya nanti saja, biarkan adik saya dulu yang kuliah, yang penting saya udah punya penghasilan sendiri, tidak lagi bergantung sama ortu,” ungkapnya.
Sebagai anak solehah, penghasilan dagang Otak-Otak Tenggiri Sriwijayanya ia sisihkan sebagian untuk orangtua.

Bintang Sinetron
Tak hanya jadi pengusaha, gadis asal Desa Grobog Wetan ini memiliki talent di dunia entertanment yang cukup besar. Beberapa sinetron dan iklan telah ia bintangi. Antara lain
Salah satu Kartu Seluler berjudul ‘Anti Mati Gaya’, XL 0,01, produk susu, kemudian bintang FTV di SCTV yakni Aurora Sang Superstar, Cowokku Cantik Sekali, dan sinetron Khanza, Alysa di RCTI. “Itu yang menurut saya sinetron besar yang saya bintangi,” jelasnya.
Ia bisa tembus masuk stasiun televisi dengan ikut casting di agency. Hingga kini pun ia masih sering menerima kontrak main sinetron atau membintangi iklan. “Yang terbaru ini untuk iklan Yamaha,” cetusnya. Wah, berarti duitnya banyak dong. “Ah enggak juga. Kan saya paling hanya sebagai pemeran pembantu, bukan bintang utamanya. Lalu honornya dibagi sama agency. Jadi tetap sedikit aja honornya,” kilahnya.
Setelah sekian lama tinggal di Jakarta, rupanya, ia tidak pantang untuk membanggakan sebagai wong Tegal. “Ngapain malu menyebut kita dari Tegal. Apalagi sekarang logat Tegal banyak dipakai oleh artis-artis terkenal , seperti Cici Tegal, Parto Patrio dan sebagainya,” ia beralibi yang memacu dirinya tetap bangga dengan tanah lahirnya, Tegal. Ucapan lo, gue yang biasanya menjalar di lidah para kaum urban, tidak ketara pada Linda.
Dimata teman-temannya, ia dikenal punya rasa sosial yang tinggi. Tidak semena-mena udah jadi artis, lalu sombong. “Oh, tidak la yauw. saya nggak akan ngelupain teman-teman saya di Tegal. Mereka baik-baik semua sama saya. Kalau ada acara lomba baca puisi atau teater, mereka suka ngabarin ke saya. Ini aja saya agak lama di Tegal karena ikut lomba baca puisi dan ada teman sepermainan yang mau nikahan,” jawabnya panjang lebar. Kamu sendiri mau nikah kapan? Ditanya itu, ia tercenung sejenak. “Saya masih single dan belum memikirkan ke arah sana,” tandasnya seraya tersenyum (*)


Rajin Puasa Senin-Kamis Perlancar Rejeki


ORANG membuka usaha, terkadang untung, tetapi tidak sedikit yang berakhir buntung, alias rugi, bangkrut dan sebagainya. Bagi Linda, membuka suatu usaha, tidak perlu dipikirkan untung ruginya. “Yang terpenting, jalani dulu secara tekun dan sungguh-sungguh,” pesannya.
Seperti yang ia lakoni sendiri. Tidak memiliki pengalaman jualan Otak-Otak, nyatanya bisnis Otak-Otak ikan Tenggiri-nya laris manis di kota besar. Ia mengaku kemauan besar dan rasa yakin kalau dirinya bisa, maka hasilnya akan sesuai dengan yang diharapkan. Tidak putus asa. Dua semboyannya saja, ‘Meski terjatuh harus tetap tersenyum dan mencipta greget untuk mencapai sesuatu.’ Bagi Linda, motto hidupnya itu menyiratkan, kalau misalkan usahanya mengalami kerugian, tidak perlu untuk berputus asa. “Tetap tersenyumlah, sambil mengevaluasi kesalahannya di mana,” ujar dara yang tidak suka main facebook ini.
Selain ikhtiar, hal terpenting yang ia tirakati, puasa sunnah Senin-Kamis. “Ya kata para orangtua puasa Senin-Kamis dapat memperlancar rejeki,” ucapnya. Semaksimal mungkin, ia rajin berpuasa Senin-Kamis.
Setelah usahanya maju di Jakarta dan sekitarnya, ia berkeinginan mengembangkan usaha Otak-Otak Tenggiri di Tegal. Namun, ia masih perlu mensurvei dulu kesukaan masyarakat Tegal apakah sama dengan di Jakarta. Ternyata, setelah ia tanya-tanya ke beragai orang, termasuk juga para penjual Otak-Otak, ikan Tenggiri jarang digunakan untuk bahan baku Otak-Otak di Tegal.
Tidak mencari peluang usaha lainnya? “Saya masih fokus untuk satu usaha dulu. Dan saya belum berani membuka usaha lain. Kalau misalkan di Tegal suka dengan Otak-Otak Ikan Tenggiri, kan barang bisa distok dari pusat. Kalau tetap dipaksakan dijual di Tegal ya jelas kurang laku,” ujarnya (EK)



BIODATA
Nama : Linda Listyawati
Alamat: Rt 3/Rw 5 Desa Grobog Wetan Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal
Tinggi Badan : 158 cm
Berat Badan : 47 Kg
Prestasi : 10 Besar Putri Piala Citra Tahun 2002-2003, Pameran Putri Terbaik Festival Teater Tahun 2002, Juara III Lomba Baca Puisi Tingkat Karesidenan Pekalongan, Juar I Poetry Contest Tingkat Kota Tegal dan Kabupaten Tegal tahun 2004, Juara I Fashion Show se-Bekasi, Jawa Barat, Gadis Sampul Majalah Sajadah, Juara II Lomba Baca Puisi dalam rangka HUT Forgusta Kabupaten Tegal tahun 2009.



Bintang Iklan : Kartu Seluler Three ‘Anti Mati Gaya’, XL 0,01, Susu Dancow
Bintang FTV : Aurora Sang Superstar, Cowokku Cantik Sekali,
Bintang Sinetron : Khanza, Alysa
Motto : Meski terjatuh harus tetap tersenyum. Menciptakan greget untuk
Mencapai Sesuatu

Senin, 29 Juni 2009

INTAN ZULAEKHA AKAN BACA PUISI SAMPAI KAPAN PUN


Intan Zulaekha
Sampai Kapan Pun Saya akan Baca Puisi

BUAH jatuh tak jauh dari pohonnya, kira-kira seperti itulah perumpamaan yang tepat ditujukan buat Intan Zulaekha S.Sos. Ibu guru matematika dan sempoa SMP Plus NU 01 Penawaja, Kajen Talang ini, darah seni yang mengalir pada dirinya tak lain berasal dari ayahnya, KH. A. Aziz Fadil. Pada masa mudanya hingga di usia 71 tahun, bapak Intan terbilang masih aos saat tampil di panggung baca puisi.
Tak beda dengan bapaknya, Intan pun memiliki daya sentak. Di atas panggung dia bah banteng ketaton, menghentak, melolong, dan meluap-luap dengan vokalnya yang lantang. Penjiwaannya kuat, pemenggalan kata demi kata pada bait puisi yang dia baca dipilahnya dengan cermat, membuat penonton terpaku untuk tetap menyimak sebelum dia usai membacakan sajaknya. Itulah kesan membekas ketika harian Nirmala Post menikmati suguhan hiburan baca puisi yang dia bawakannya saat acara selingan pada Lomba Baca Puisi Baja Membara IX di Aula SMP Plus NU 01 Penawaja, Kajen Talang, Sabtu (27/6) lalu.
“Saya suka baca puisi karena hobi. Mungkin darah seni saya mengalir dari ayah,” aku Intan yang dibenarkan oleh bapaknya.
Menurut bapaknya, sejak Intan masih duduk dibangku SD tak bosan-bosannya mengikuti berbagai lomba baca puisi. Di mana saja ada lomba, dia kejar meski upaya meraih kejuaraan selalu gagal, Intan Zulaekha tak mau putus asa. Ia tetap meradang, menggelora, dan menyalak-nyalak dalam setiap panggung lomba.
“Anak saya yang ke empat ini, memang punya kemaun keras dan tak mau putus asa,” kenang Aziz.
Karena kekerasannya itu, Intan mulai diperhitungkan. Pada tahun 1997 ia meraih juara I Putri Lomba Baca Puisi dalam rangka Perkemahan V dan Porseni IV LP Ma’arif NU se-Kabupaten Tegal, pada tahun 1998 ia kembali menggondol juara II dalam LBP Porseni SMP/MTs se-Kabupaten Tegal, juara I LBP Baja Membara Cu VIII tahun 2007, juara I LBP dalam rangka HUT RI ke-51 tingkat Desa Kajen, dan yang paling prestisius adalah ketika di Batang PPNU menyelenggarakan baca puisi se-Jawa Tengah, Intan merebut juara II tahun 1999.
“Sampai kapan pun saya akan baca puisi. Karena baca puisi itu tak kenal usia, seperti bapak, meski beliau sudah sepuh, tetap saja baca puisi,” pungkasnya (LS)

Minggu, 28 Juni 2009

KH. A. AZIZ FADIL


KH. A. Aziz Fadil
Menulis Puisi Karena Pengeran


USIANYA
yang sudah beranjak 71 tahun lebih, tak mampu menghentikan kegiatannya sebagai seorang penulis, penggiat sastra, dan pembaca puisi yang masih tangguh. Itulah KH. A. Aziz Fadil warga Desa Kajen Kecamatan Talang, yang senantiasa bergerak dalam aktivitas positif untuk kemajuan khazanah sastra dan agama.
Aziz lahir di Tebuireng, Jombang, Robiul Awal 1358 H atau 1 Mei 1938 M. Ilmunya yang diperoleh selama nyantri di Pondork Moderen Gontor dimanfaatkan untuk Taman Pendidikan Ahlussnnah wal jamaah yang terkenal dengan nama Peerguruan Taman Penawaja di Kabupaten Tegal. Didirikannya pada tahun 1989, memiliki pendidikan formal SD, SMP, MTs dan SMA. Sedang pendidikan non formal KBIH, PMBA Sempoa dan usaha penerbitan.
Sebagai penulis, Aziz telah melahirkan antologi puisi Baja Membara yang saat ini sudah tiga kali naik cetak. Sebagai penggiat sastra, dia telah menyelenggarakan lomba baca puisi hingga 9 kali. Sebuah prestasi bukan main-main yang patut diacungi jempol karena lomba semacam itu jarang sekali dilakukan secara konsisten oleh komunitas manapun di wilayah Tegal. Tapi oleh orang seusia dia, gerakan kebudayaan itu dilanggengkan tiap 2 tahun atau paling lambat 3 tahun sekali. “Saya ingin menyemarakan khazanah sastra nasional lewat baca puisi,” tukas Aziz, Sabtu (27/6) kemarin usai dia membacakan puisinya berjudul Rindu, saat membuka Lomba Baca Puisi Baja Membara di Aula SMP Plus NU 01 Penawaja, Kajen Talang.
Aziz mengaku, menulis puisi tidak harus ngoyo. Baginya, sebuah proses penciptaan puisi butuh pengendapan dan perenungan. “Karya puisi itu bukan produk dari sebuah pabrik. Saya tidak ngoyo mencipta puisi sehingga tidak jadi beban,” tandasnya.
Sebagai pembaca puisi, dia pun begitu. Tidak selalu tampil di sembarang acara, karena saat dia tampil menuruti gerak hatinya, dan itu pun khusus pada momen-momen tertentu saja. Satu contoh di acara lomba baca puisi Baja Membara IX, dia tampil, dan pada acara penting lainnya seperti saat Deklarasi Lembaga Swadaya Peduli Pendidikan Indonesia (LSPPI) di Slawi. “Yang menggerakan saya menulis puisi Pengeran disamping panggilan hati. Juga saat saya membaca puisi,” katanya.
Yang dimaksud Pengeran adalah Gusti Allah SWT yang baginya menjadi gantungan hidup dan penghidupannya. Termasuk dalam proses mencipta puisi, Aziz menyandarkan pada panggilan hati yang digerakan oleh Pengeran.
Selain puisi, beberapa buku agama yang ditulis Aziz diantaranya Islam Menuju Dunia Yang Diridloi Tuhan, Sejarah Islam I dan II, Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh, do’a Keluarga Besar Penawaja, Tajwidul Qur’an, Sejarah Haji di Baitullah, dan Himpunan Do’a Ibadah Haji (LS)








MASHOERI DAHLAN MENGHARGAI WAKTU



Gambar atas Mashoeri Dahlan sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten tegal. Mashoeri saat diwawancarai Hamidin Krazan di Lembah Agro miliknya (Foto : Lanang Setiawan)


KRT Drs H Mashoeri D Adi Nagoro MBA, MM
Hidup Sukses dengan Kerja Keras dan Disiplin Waktu

Oleh: Ekadila Kurniawan dan Lanang Setiawan

MEMILIKI kemauan bekerja keras dan disiplin terhadap waktu. Itulah dua pengalaman penting yang diperoleh Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Drs H Mashoeri D Adi Nagoro MBA, MM ketika melaksanakan kursus singkat pembangunan pedesaan ke Negeri Taiwan tahun 1994-an.
Menurutnya, orang-orang di Negeri Cina Daratan tersebut tidak punya etos kerja, tetapi memiliki semangat atau spirit yang tinggi bekerja keras (hard work) serta kedisiplinan terhadap waktu. “Itulah sebabnya mengapa mereka banyak yang sukses menempuh hidupnya. Berbeda dengan bangsa kita, orang-orang kita yang memiliki etos kerja, tetapi tidak memiliki kemauan kerja keras yang tinggi,” ujarnya, Jumat (26/6) lalu di kediamannya.
Etos kerja yang ia maksud seperti visi misi Trisanja diantaranya Hari ini Lebih Baik dari Hari Kemarin, tetapi pada kenyataannya dari dulu sampai sekarang sama saja. Ia mengambil contoh soal kedisiplinan dalam berlalu lintas. Di Taiwan, Cina, Eropa maupun di negeri tetangga, Singapura, Malaysia, katanya, yang namanya disipilin berlalui lintas luar biasa. “Disana tidak ada orang parkir kendaraan secara sembarangan, sehingga tidak ada kemacetan samasekali,” tuturnya.
Dalam budaya antre, juga demikian. Ia bahkan sampai kagum. “Pernah saya lihat antrean sepanjang 100 meter di Singapura, dan saya coba untuk jalan melintasi mereka, dilihatin sampai saya malu sendiri. Jadi kedisiplinan mereka luar biasa,” kisahnya.
Soal kedisiplinan waktu dan kerja keras itu juga sesuai dengan ajaran Islam. “Seperti Sholat tepat waktu pahalanya lebih banyak daripada sholat yang telat waktu, dalam surat Al Asyr juga sangat dianjurkan oleh Allah untuk memanfaatkan waktu dengan baik” bebernya.
Maka, ia selama ini selalu menerapkan kedisipilinan dalam segala hal. Mulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, agenda telah terporgram sebelumnya, hingga tidak ada waktu terbuang secara percuma. Disamping sesuai ajaran agama Islam, ia belajar disiplin waktu dari orangtua yang tidak senang melihat anaknya atau orang lain nganggur, diam, dan tidur siang. “Dari situ saya termotivasi kerja. Setelah ke Taiwan motivasi kian bertambah,” ungkapnya.
Semasa mengabdi sebagai Camat Bantarkawung dan Camat Larangan Brebes apabila melihat anak buahnya tidak disiplin, tidak sungkan langsung ditegur, sekalipun terlambat satu menit. “Bangsa yang maju adalah yang selalu on time, punya managing time dan punya kemauan bekerja keras,” tandasnya lagi.

Pola Hidup Sehat
Kini, ia setelah pensiun dari pegawai negeri, mengabdi jadi Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tegal periode 2004-2009. Namun menilik jejak karir politik suami Hj Noer Budiarti ini masuk ke kantor parlemen semata untuk mengembangkan ilmu,bukan mencari nafkah. Ia menguaraikan sebuah hadist yang jadi pedoman hidupnya yang berbunyi, “Manusia sebetulnya rusak, kecuali orang berilmu. Orang berilmu pun rusak, kecuali diamalkan, kalau diamalkan tapi tetap rusak, kalau tidak ikhlas.”
Setelah hayati hadis tersebut, maka ia upayakan untuk tetap bersikap bersih dalam menjalankan amanat rakyat, maupun semasa menjadi PNS. “Selama 7 tahun di Kabag Pembangunan, dan 5 tahun di DPRD alhamdulillah nggak ada masalah apa-apa menimpa saya. Kehidupan saya juga begini-begini saja, ada mobil bagus, itu titipan dinas,” terangnya.
Kehadirannya di gedung parlemen seolah memberi contoh kepada anggota lainnya baik dalam berdisiplin waktu, maupun mejalankan amanat rakyat secara profesional.
Di tengah kesibukan di dewan, Mashoeri masih disibukkan di berbagai keorganisasian yang dipimpinnya, seperti Ketua Yayasan Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Slawi 1998-2006, Ketua Yayasan Agrobisnis Indonesia Canag Tegal 2008, Ketua Yayasan Pendidikan Bhakti Praja Kabupaten Tegal tahun 2002-2006, Ketua HIPPRADA Cabang Kabupaten Tegal tahun 2008-2013, Ketua DPD II Partai Golkar 1998-2004,
Disamping itu, di keroganisasian lainnya, ia pernah melakoninya sebagai Ketua Yayasan Amal Umat Islam (Yaumi) 1996-1999, Gabungan Usaha Perbankan Pendidikan Islam tahun 1981-1986, Wakil Ketua KONI Kabupaten Tegal tahun 1998, dan Wakil Ketua DPD II Ampi Kabupaten Tegal tahun 1978-1983. Sementara di organisasi politik pernah menjabat bagian Litbang, Bendahara, Wakil Ketua DPD II PartaiGolkar dua periode dan puncaknya Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Tegal 1998-2004.
Seabrek aktivitas kerja yang begitu banyak, peraih penghargaan Karya Satya Kelas III dari Presiden RI tahun 1992 punya resep rajin berolahraga fitness dan bersepeda dua kali seminggu. Lalu merujuk pada Kitab Duratun Nasihin, ia menerapkan 4 perkara pola hidup sehat, yakni makan apel di waktu fajar, mandi di air mengalir, tidur di atas pinggunl kiri, dan baca buku Hidup Baru di Umur 40 Tahun. Selain itu, ia pantang makan daging ayam. “Kenapa saya tidak makan daging ayam, karena ayam ketika disembelih itu mengeluarkan racun di dalam tubuhnya, apabila kita makan daging ayam yang digoreng sekalipun dicampur sayur, tetap masih ada racunnya, maka saya tidak pernah makan daging ayam. Itu terbukti dari nenek saya, tetap sehat sampai berusia 105 tahun. Setelah saya tanya, beliu bilang tidak pernah makan daging ayam. Lalu ibu saya usianya sudah 82 tahun tapi masih bisa menonton tv tanpa pakai kacamata,” tutur pria yang sudah meraih penghargaan sedikitnya 50 buah.
Yang terbaru, ia mendapat kekancingan atau penganugrahan Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) dari Keraton Surakarta Hadiniungrat tahun 2008. Maka bertambah panjanglah nama lengkapnya, KRT Drs H Mashoeri D Adi Nagoro MBA, MM.

Ingin Kembangkan Sektor Keagamaan
Pendidikan dan Pertanian

HANYA tinggal menghitung bulan, KRT Drs H Mashoeri D Hadi Adi Nagoro MBA, MM purna tugas jadi anggota dewan periode 2004-2009. Sikap, perilakunya yang santun dan sederhana tetap terpancar. Lantas apa rencana setelah tidak lagi menjadi anggota dewan? Mantan Ketua Bappeda Kabupaten Dati II Kabupaten Tegal ini akan menjalankan tiga perkara untuk kemaslahatan umat, yakni dalam bidang pendidikan, keagamaan dan pertanian.
Ia menuturkan waktu naik haji ke Tanah Suci Mekah yang ketiga kalinya tahun 2006 memohon kepada Allah Swt untuk ikut membantu para kiai, dai dan ulama untuk bersama-sama kembali menempatkan agama Islam pada agama yang sebenarnya. “Saya ingin punya ilmu yang bisa menyembuhkan orang, sehingga mereka setelah sembuh dari penyakit ikut dalam pengajian ataupun diskusi ilmiah saya di Lembah Argo, wilayah Karangjambu, Balapulang, sebuah tempat yang menurut hikayat tempat pertemuan para wali,” jelasnya.
Kemudian di bidang pendidikan, ia bergerak sebagai Ketua Yayasan Bhakti Praja yang mengelola 10 sekolah dari SMP-SMA, Ketua Yayasan Pusat Pendidikan dan Pengembangan Islam Ki Gede Sebayu yang sekarang punya Perguruan Tinggi Agama Islam Bhakti Negara, Slawi yang juga ada kaitannya dengan pengembangan agara Islam juga. Selain itu ia ditunjuk sebagai Ketua Badan Musyawarah Perguruan Swasta se-Kabupaten Tegal, di kepramukaan, ia ditunjuk sebagai Ketua Himpunan Pandu dan Pramuka Wreda Cabang Kabupaten Tegal. “Disana saya ingin membangun SDM yang bermartabat dan bermanfat sebagai contoh pada anak-anak pramuka sekarang ini,” ujarnya.
Sektor ketiga yang ingin ia kembangkan, yakni pertanian. Ia yang menjabat sebagai Ketua Yayasan Agribisnis Cabang Kabupaten Tegal akan mengembangkan agribisnis kepada orang-orang yang ikut diskusi agama dan ilmiah di Lembah Agro, miliknya. “Dilembah argo kita bisa belajar obat-obatan tradisional, sebagai agrowisata, agro husada sekaligus agro kerohanian,” paparnya. Disana pula konon katanya, ada air tuk petilasan Syeh Maulana Maghribi yang ampuh menyembuhkan penyakit dengan membasuhnya dan baca surat Al Fatihah.
Saat ini, imbuhnya, kegiatan diskusi agama dan ilmiah sudah berjalan. Kendati hanya lima orang yang rutin datang untuk diskusi, tetapi penuh manfaat. Ia yang pernah belajar pengobatan tenaga prana, dapat pula disalurkan untuk menyembuhkan orang-orang yang terkena berbagai penyakit, sesuai keinginannya



BIODATA

Nama : KRT Drs H Mashoeri D Adi Nagoro MBA, MM
Tempat Tanggal Lahir : Brebes, 11 April 1942
Istri : Hj Noer Budiarti
Anak : Tangguh M, RA Rasojo, Indra P, Niken DP SE,
Agama : Islam
Alamat : Jalan Raya Tegalwangi No 5 RT 8/RW III Desa Tegalwangi, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal

Jabatan :
Mantri Polisi PP Bulakamba Tahun 1967-1968, Camat Bantarkawung, Brebes Tahun 1970-1971, Camat Larangan Brebes Tahun 1971-1974, Kasubait Kesra Kotamadya Tegal tahun 1977-1978, Pembantu Bupati Tegal untuk Adiwerna tahun 1978-1879, Kabag Kesra Kabupaten Tegal tahun 1979-1983, Kabag Pembangunan Kabupaten Tegal tahun 1983-1990, Ketua Bapeda Kabupaten Dati II Tegal tahun 1990-1998, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tegal Periode 2004-2009.

Pendidikan :
SR Negeri Berebes Lulus Tahun 1995, SMP Negeri Brebes Lulus Tahun 1959, SMA Negeri Tegal Lulus Tahun 1963, KDC Semarang Lulus tahun 1965, APDN Semarang Lulus tahun 1970, IIP Jakarta Tahun 1976, Liecester University Semarang 1993, STIE MI Program MM Yogyakarta tahun 1998.

Penghargaan :
Lencana Pancakarsa III Pramuka dari Kwarnas Pramuka tahun 1987 , Satya Lencana Karya Satya Kelas III dari Presiden RI tahun 1992, Lencana Pancakarsa VI Pramuka dari Kwarnas Pramuka tahun 2003, Piagam Penghargaan Anggota PPD II oleh Menteri Dalam Negeri tahun 1992, Penghargaan Penyelengara Rencana Induk Penel 2 Pembangunan Ekonomi Jateng oleh Depdikbud tahun 1997, KRT oleh Keraton Surakarta Hadiningrat tahun 2008.

Kunjungan ke Luar Negeri :
Memimpin Kloter Haji Indonesia tahun 1981 ke Arab Saudi, Wisuda Pasca Sarjana (MBA) tahun 1993 ke Singapura, Kursus Singkat Pembangunan Pedesaan tahun 1994 di Taiwan, Kursus Singkat Pembanguna Perkotaan tahun 1995 ke Eropa, Kunjungan Kerja tahun 1997 ke Singapura, Malaysia, Ibadah Haji tahun 2006 ke Arab Saudi, Study Banding ke China tahun 2007.

Organisasi :
Ketua Sub Unit KORPRI 1976-1998, Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka 1979-1993, Ketua Yayasan Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Slawi 1998-2006, Ketua Yayasan Agrobisnis Indonesia Canag Tegal 2008, Ketua DPD II Partai Golkar 1998-2004, Ketua Yayasan Pendidikan Bhakti Praja Kabupaten Tegal tahun 2002-2006, Ketua Yayasan Amal Umat Islam (Yaumi) 1996-1999, Gabungan Usaha Perbankan Pendidikan Islam tahun 1981-1986, Wakil Ketua KONI Kabupaten Tegal tahun 1998, Wakil Ketua DPD II Ampi Kabupaten Tegal tahun 1978-1983, Ketua HIPPRADA Cabang Kabupaten Tegal tahun 2008-2013.

Motto : Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.







Sabtu, 20 Juni 2009

WIJANARTO INGIN JADI GURU BANGSA



Wijanarto
Ingin Jadi Guru Bangsa
Oleh: Ekadila Kurniawan dan Lanang Setiawan

MENYEBUT predikat pria satu ini, sepertinya tidak cukup hanya satu. Ia bisa dikatakan sebagai budayawan, sejarawan, seniman, pembawa acara, sekaligus pengamat sosial. Namun yang paling kuat dari figur Wijanarto yakni pada sisi ilmu sejarah. Mendengar ia cerita tentang sejarah pergerakan Indonesia maupun tokoh-tokohnya, bagai mendengar gemericik air sungai yang mengalir, tak ada hentinya, begitu lancar dikupas. Ia mengaku tertarik mempelajari makroskopik sejarah. Masalah pengalaman dalam biografi seseorang. Ketertarikan dia belajar ilmu sejarah bermula dari guru kelas V SD, Ibu Siti Nafkah, di SD Serayu 2, Kota Tegal yang sekarang berubah namanya jadi SD Mintaragen 3.
"Guru saya itu memberikan kebebasan rangsangan membaca di perpustakaan dengan buat daftar di perpus untuk dipinjam. Dan yang sering saya pinjam kebanyakan buku sejarah," katanya, Jumat (19/8) di Kantor Dewan Pendidikan Kabupaten Brebes.
Buku sejarah yang dipinjam waktu SD itu antara lain Sejarah Album Pergerakan Nasional, Tokoh-tokoh Pergerakan Nasional.
"Saya jadi tertarik belajar sejarah karena sejarah sebagai bagian dari kehidupan yang penting. Terbukti sekarang masyarakat alami amnesia sejarah, gampang melupakan suatu peristiwa, terutama masa lalu," ujarnya. Ia pun menyingggung Pilpres. Menurut suami Ani Janatun itu, para Capres harus dilihat track record masa lalu. "Sebab filosofi sejarah menjadi bagian rekonstruksi kehidupan sekarang dan yang akan datang," tuturnya.Namun, imbuh dia, tampaknya sekarang sejarah bagaikan romansa yang tak didalami substansinya. Orang hanya sense romantic, merasakan romantisme saja, ucapnya. Alhasil, sekarang orang tak melihat jejak rekam calon presiden masing-masing, orang melihat dimensi kekinian, pencitraan komunikasi melalui media massa.
"Bagi kita sangat penting mengetahui jejak rekam para capres, kita jadi tahu tentang pola pemikiran mereka. Reproduksi tokoh tak bisa lepas dari keterlibatan dan pergulatan masa lalu," tandasnya. Ia memaparkan satu bukti, ketika Bung Karno menjadi mahasiswa ITB, menulis tentang Marhainisme, Marxisme, dan Islam, lalu pada 1960 tulisan dia dicangkok ke dalam ideologi Nasakom.
Belajar sejarah, bagi Wijanarto adalah bisa mampu melihat filsafat ilmu untuk menguak kausalitas peristiwa dan kejadian, tidak hanya parsial. Keasyikan ia belajar sejarah, yakni sebagai alat penyadaran dan menjadikan kita melakukan analis secara holistik.

Guru Bangsa
Sebagai pengajar di SMPN 4 Wanasari, Kabupaten Brebes dan peraih Juara III Lomba Kritik Membangun Kota Tegal tahun 2008 ini masih merasa prihatin terhadap posisi guru sejarah di sekolah-sekolah masih sebagai ‘story teller’ atau pendongeng, akibatnya banyak siswa enggan belajar sejarah.
"Padahal mata pelajaran sejarah bisa dikembangkan melalui film-film, untuk Film Dokumenter Perang Dunia (PD) II yang dibuat BBC sebagai contoh, anak jadi terangsang lihat situasi waktu PD seperti apa. Nah, fakta di lapangan, guru-guru sejarah itu sering tidak tahu sejarah di daerah masing-masing. Jika ditelisik, Brebes merupakan proses pembentukan sejarah yang luar biasa, seperti sejarah perkebunan yang berkaitan dengan pabrik gula, bahwa Brebes suatu daerah pabrik gula terbanyak selain Tegal. Sekiranya tahu, itu sebagai sebuah pembelajaran, Brebes bagian pembentukan Kapitalisme Barat di Zaman Belanda dan salahsatu lahirnya kebudayaan mestizo culture semenjak perkebunan lahir setelah Perang Diponegoro tahun 1830," ungkapnya meledak-ledak.
Karena itu, ia mengharapkan dari kalangan pendidik merencanakan kalender buat anak-anak didik ke PT Perkebunan Kaligua dan Jatibarang agar mereka memahami sejarah perkebunan. Tidak hanya agrowisata tapi agrosejarah. Jauh bicara guru, pria bertubuh subur ini menilai guru hendaknya bukan hanya ketika berada di depan kelas saja, tetapi baiknya sebagai guru bangsa. "Guru bangsa sebagai tolok ukur pergerakan. Sebagai contoh Tan Malaka, Sjahrir, Tengku Muhammad Safii,Rabindranath Tagore dan sebagainya, mereka dalam sejarah tokoh-tokoh pergerakan," paparnya.
Meski sudah merampungkan S-1 di Universitas Muhammadiyah Purwokerto tahun 1996 melalui skripsi tentang Revolusi Pemuda Tegal Banteng Loreng Binoncengan 1945-1949, kini ia sedang akan melanjutkan S-2 di Universitas Diponegoro, Semarang pada bulan September mendatang. Toh, ia pun mengaku, telah menyiapkan tesis tentang Sarikat Rakyat Cabang Karangcegak, Pangkah, Kabupaten Tegal. Apakah Anda juga ingin jadi guru bangsa? Pecinta buku tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer ini secara tegas menjawab, "Tentu, ingin jadi guru bangsa," seraya menganggukan kepala (*)



Jumat, 19 Juni 2009

HOBI B ACA WIJABARTO



Hobi Baca, Wijanarto
"Koleksi Buku Saya Hanya 3000 Buah"


IBARAT kamus berjalan, begitulah Wijanarto. Dimanapun pria satu ini berada, diajak bicara persoalan apa saja akan leluasa menganalisa dan berargumen. Istilah-istilah asing membuncah nyelip disana-sini. Ketika Nirmala Post bertemu untuk sesi wawancara, Jumat (19/6) di kantornya, Dewan Pendidikan Kabupaten Brebes, tak tertinggal begitu banyak serapan kata asing, kata-kata ilmiah keluar dari mulutnya. Rupanya ia bisa bicara sekelas kaum intelek berawal dari hobinya membaca buku. "Saya terbiasa membaca buku," begitu cetus Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Brebes, kelahiran Tegal, 27 Agustus 1971, yang menurutnya istilah-sitilah asing yang rumit diucapkan itu keluar secara reflek dari memori otaknya.
Memang diakui, ia termasuk orang yang maniak membaca buku. "Koleksi buku saya hanya 3000 buah," bebernya. Buku yang ia beli itu meliputi buku sastra, ideologi agama, kebudayaan dan sejarah. "Hampir sebulan saya selalu beli tiga buku," imbuhnya.
Hobi membaca buku itu terdorong dari rasa keasyikan melahap buku Soekarno Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams seorang wartawati Amerika yang dikoleksi Pakdenya semasa SMP. Ia juga melahap buku Naga Sasra & Sabuk Inten sebanyak 29 Jilid karya SH Mintardja. Merasa keasyikan membaca, lama-lama ia berkeinginan membeli buku sendiri. Makin merajalela nafsu membeli buku itu ketika kuliah. "Saya melihat seorang teman kuliah yang setiap bulan pasti beli buku. Maka, saya berupaya meniru dia. Sampai-sampai saya harus makan kluban demi mengirit uang saku yang pas-pasan untuk beli buku," kenangnya. Ia yang pernah menjabat sebagai ketua senat, diuntungkan pula dapat makan gratis bila menggelar acara seminar dan sebagainya. Sehingga beli buku tiap bulannya dapat terwujud. Nyaris buku-buku fenomenal seperti Tetralogi novel Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Toer, Goodfather karya Mario Puzzo, Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway, komik Mahabharata karya RA Kosasih, The Last Emperor karya Bernando Bertolluci, Catatan Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie sudah ia lahap semua.
"Jika dulu waktu kuliah saya sering kekurangan uang untuk beli buku, sekarang kekurangan waktu untuk membaca buku. Karena setiap ada buku baru saya beli, sampai kewalahan membacanya satu persatu," jelasnya.
Disamping buku-buku berat, yang belum banyak diketahui, ia rupanya getol membaca buku komik Dragon Ball,Tin-Tin dan Put On sebagai selingan dikala jenuh. Hobi lain pria berkacamata minus ini menonton film dan main teater. Dari banyaknya membaca buku itu, bakat menulisnya pun terasah dan teruji. Buku yang sudah ia buat antara lain Dari Kondektur ke Direktur (Biografi Muhadi Setyabudi) bersama Atmo Tan Sidik dan M Supardji Rasban, Esai Foto Catatan Tentang Kota Kelahiranku bersama Sureali Andi Kustomo, Biografi Adi Winarso bersama Tim Akademi Kebudayaan Tegal, Pers dan Otonomi Daerah bersama Tim Matarindo Brebes, ikut dalam Antologi Puisi Tegalan Ngranggèh Katuranggan dan Editor buku Antologi Penyair Brebes, Dewan Kesenian Brebes serta tulisan lepas di media massa (EK/LS)

MEMBACA BUKU - Wijanarto membaca buku sebagai hobi yang ditekuninya sejak kecil hingga kini, menjadikan dia kaya ilmu dan menelorkan sejumlah buku serta laris sebagai pembicara, moderator, maupun pembawa acara di berbagai forum seminar (Foto NP: Lanang Setiawan )

Rabu, 17 Juni 2009

KEN RATU MERINTIS JADI NOVELIS


Ken Ratu, Merintis Jadi Novelis

NAMA lengkapnya Ken Ratu Adni Sukmawati. Biasa dipanggil Ken Ratu atau cukup dipanggil Ratu. Ia baru lulus SMKN 2 Tegal. Ia tumbuh sebagai remaja yang kiyut (cute) dan merupakan penulis muda berbakat yang dimiliki Kota Tegal. Bagi pembaca Harian pagi Nirmala Post, nama gadis ini sudah tidak asing lagi karena karya berupa puisinya kerapkali muncul di Rubrik Pendidikan.
Novel perdananya berjudul Pelangi Tiga Minggu yang dia tulis saat masih di bangku SMP Negeri 2, langsung menjadi Cerita Bersambung (Cerbung) di harian Suara Merdeka pada edisi Minggu tahun 2007 lalu.
Ratu lahir di Tegal, 14 Nopember 1990 sebagai anak ke dua dari empat bersaudara dari pasangan Lanang Setiawan dan Endang Sukmawati. Ratu lantas bercerita soal merintis perjalanan kepenulisannya, “Saya pertama kali menulis dimulai dari catatan harian waktu masih duduk di kelas 5 SD.”
Waktu itu dia tertarik mengamati gerak-gerik kawan-kawan baik di sekolah maupun di kampungnya. Dari catatan dan pengalaman yang dia dapat, lantas lahirlah banyak cerpen remaja atau teenlit yang dikirim ke majalah pelajar yang digawangi oleh Sisdiono Ahmad, Ketua Dewan Pendidikan Kota Tegal. Sastrawan Angkatan 66, SN Ratmana menilai kalau Ratu memiliki bakat menulis yang bakal menjadi kebanggaan Kota Tegal.
Ternyata memang apa yang diucapkan oleh SN Ratmana benar adanya, terbukti novel perdananya muncul di Harian Suara Merdeka. Padahal untuk tembus ke koran tersebut bukan suatu hal yang mudah. Tak mengherankan, bagi cewek menyuka warna ungu ini, pemuatan novelnya secara bersambung sebagai tonggak sejarah badi dirinya maupun Kota Tegal.
“Novel Pelangi Tiga Minggu itu saya tulis waktu kelas 3 SMP, lalu saya coba kirim ke Suara Merdeka. Alhamdulillah novel saya diterima setelah menunggu dua bulan,” katanya.
Bagi cewek berambut ikal ini, menulis adalah sebuah bakat yang diberikan Tuhan untuk tidak disia-siakan. Lantas setelah Cerbung Pelangi Tiga Minggu dimuat, ia menulis kumpulan cerpen gaulnya yang juga dibukukan bertajuk ‘Sory…Gue Ga Bisa Nolak Lo.’ “Ya, saya dalam waktu bersamaan juga menulis kumpulan cerpen,” katanya saat ditemui Nirmala Post di rumahnya Gang Tegal Tegal 10/12 Jalan Arjuna, Slerok, Kota Tegal, Minggu (15/6).
Ia dalam menulis novel maupun cerpen itu suka pakai bahasa gaul ala anak Jakarta, elo-gue, yang kadang pula disisipi bahasa Tegal. Dan cewek berzodiak scorpio ini, sekarang sedang menggarap novel keduanya. Apa tuh judulnya?
“Judulnya Jejak Anak Tobong. Novel ini bercerita tentang kehidupan seorang anak tobong ketoprak yang ingin mengakhiri kebiasaan orang-orang ketoprak bersikap bar-bar,” terangnya.
Penilaiannya, kehidupan anak-anak tobong ketoprak tidak harus memiliki kebiasaan minum-minum, berjudi atau kumpul kebo.
“Kecerdasan anak-anak tobong ketoprak harus dibangun dan memikirkan masa depan yang lebih bermanfaat dari kebiasaan buruk mereka,” ujarnya penuh semangat sambil membocorkan sedikit isi dari novel keduanya yang masih dalam proses penyelesaian.


Arti Sahabat
Bagi Ratu, yang membuatnya survive atau bertahan untuk terus menulis, tak lepas peran sahabat. “Sahabat itu layaknya kesehatan, yang baru kita sadari betapa pentingnya dia setelah kita kehilangan,” ujarnya. Dan ia punya sahabat yang sangat setia. Meski dia mengaku seringkali marah dan nyakitin perasaannya, namun sahabatnya itu tak pernah marah dan berontak tentang perlakuan dirinya ke dia.
Meski ia telah menjadi tenar, namun sikap hidupnya tetap biasa-biasa saja. Tidak tinggi hati. Prestasi demi prestasi yang diraihnya itu ia ibaratkan seperti air sungai yang mengalir, sehingga tidak perlu dibangga-banggakan. “Apa yang saya raih selama ini telah jadi takdir kalau memang Tuhan kasih buat saya yang terbaik, kenapa tidak saya coba?” imbuh peraih beasiswa pendidikan ini seraya tersenyum.
Disamping sahabat, so pasti kedua orangtua sepenuhnya menjadi spirit dirinya untuk terus berkarya.
“Ada beberapa ucapan yang pingin saya ungkapin buat orang terdekat saya. Terutama buat ortu, keluarga saya, dan buat soulmate saya yang selalu ngejek karya-karya saya,” ucap gadis yang dikenal pendiam ini (Ekadila Kurniawan)


Novel Pelangi Tiga Minggu Ingin Difilmkan

MEMPEROLEH honor dari menulis novel Pelangi Tiga Minggu lumayan gede, lantas ia yang kala itu masih sekolah, pergunakan untuk hal yang sungguh mulia. “Seluruh honor saya pergunakan untuk aqiqoh saya,” ucapnya.
Aqiqah dalam hukum Islam suatu kewajiban bagi setiap anak yang lahir. Ia menyadari, keduaorangtuanya, waktu dirinya lahir, belum mampu untuk membeli hewan kambing untuk aqiqah dirinya. Maka, ia punya nazar.
“Kalau honor cerbungku datang, akan saya pergunakan untuk aqiqah dan merayakan ultah sweet seventeen saya,” bebernya.
Sesuai dengan nazarnya, ia merayakan ultah dan aqiqah yang diramaikan pentas seni cukup meriah di halaman depan rumah. Para tamu undangan yang hadir pun beragam. Mulai dari Adi Winarso yang kala itu masih menjabat jadi Walikota Tegal, Dr Maufur yang kala itu masih menjabat sebagai Wakil Walikota Tegal dan para seniman Tegal, seperti Slamet Gundono, Diding Muhammad, Nurhidayat Poso, Yono Daryono, Endhy Kepanjen, Jayeng Jaladara Ipuk NM Nur, dan sebagainya.
Bahkan, Dalang Wayang Suket, Ki Slamet Gundono membawakan lagu ‘Babon Ngoyok-Ngoyok Jago’ yang sairnya dirubah disesuaikan dengan situasi ulang tahun, duet bareng KMSWT, untuk menghibur hatinya. Suasana malam yang dingin pun menjadi terasa hangat.
Tak ketinggalan pentas monolog Jayeng, pembacaan puisi Dr Maufur. Semua honor yang ia terima merasa perlu saling berbagi kepada sesama.
“Saya cukup terharu dan bahagia, soalnya nggak nyangka tamu yang hadir banyak banget,” ucapnya berkaca-kaca, mengenangnya.
Next, dalam hal pendidikan, ia ingin melanjutkan ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Lalu mengenai novelnya, ia berharap, novel Pelangi Tiga Minggu dilayarlebarkan. Sebagaimana yang tengah menjamur saat ini, banyak novel yang diangkat ke layar lebar, pun Ratu, punya mimpi suatu saat nanti novel Pelangi Tiga Minggu difilmkan. Pasalnya, film tersebut mengandung konflik yang seru diantara pelajar dan bisa disaksikan masyarakat seluruh Indonesia. “Tapi yang saya plot konfliknya bukan kenakalan remajanya atau kebengalannya, melainkan kejeniusan mereka dalam menghadapi persoalan remaja,” ujarnya.
Apalagi belum lama ini marak adanya geng sekolah, mencerminkan sikap tak baik bagi seorang pelajar. Ia ‘memberontak’ lewat novel tersebut.
“Di novel ini, karakter tokohnya pintar-pintar, saking pintarnya, kadang pemikiran mereka diluar jangkauan siswa yang lainnya,” ujarnya. Jikapun tidak difilmkan, disinetronkan pun tidak jadi soal (EK)















Sabtu, 06 Juni 2009

PERUPA, PENYAIR dan PEMBUAT LOGO TEGAL


H Hasan Bisri
Perupa, Penyair dan
Pembuat Logo Kota Tegal

TAHUKAH Anda siapa pembuat logo Pemerintah Kota Tegal? Dialah H Hasan Bisri. Pria kelahiran 29 Juni 1945 ini oleh para kolega maupun teman-teman sesama pelukis Sanggar Putik ’99, Slawi lebih dikenal sebagai seorang pelukis. Namun, jejak karirnya sebagai perupa yang cukup prestise yakni ketika memenangi lomba Membuat Logo Pemkot Tegal pada tahun 1972. Ketika kami bertandang ke rumahnya yang asri, Selasa (2/6) petang, ia menceritakan mengenai lomba yang digelar Pemkot Tegal dan diikuti sekitar 160 peserta tersebut. "Waktu itu saya bersama teman-teman Kelompok Desainer Tegal ikut lomba semua. Saya mengirimkan gambar logonya tiga hari sebelum pendaftaran ditutup," kenangnya.Tanpa dinyana, pada saat pengumuman pemenang, ia dinyatakan sebagai pemenang dan mendapat surat dari panitia untuk hadir pada acara penyerahan penghargaan oleh Walikota Tegal. Namun begitu sampai di tempat acara, panitia mengatakan pemenang lomba Logo Pemkot Tegal ternyata ada tiga orang. “Selain saya ada dua peserta lagi yang dinyatakan menang, satu perempuan dan satunya lagi laki-laki yang kemudian saya kenal namanya Bekti. Kami dinyatakan menang bersama, hadiahnya dapat piagam penghargaan, uang dan foto barsama walikota. Jadi intinya tidak ada juara satu dalam lomba tersebut,” tutur bapak lima anak ini dengan nada penuh terkejut. Lebih terkejut lagi ketika melihat logo Kota Tegal yang sampai sekarang masih dipakai seluruh isinya adalah hasil karyanya, baik bentuk, komposisi gambar maupun warnanya. "Seluruh isinya, mulai dari bentuk kapal, warna dan motifnya tidak ada yang beda. hanya bingkainya saja yang bukan punya saya," katanya menambahkan. Bahkan ia dengan lancar menjelaskan secara rinci makna dibalik gambar logo tersebut. “Gerigi di bawah kapal melambangkan Kota Tegal sebagai kota industri, kemudian kapal layar melambangkan Kota Tegal sebagai kota maritim, dan yang setahu saya tidak dimiliki semua peserta adanya lambang tiga jalan di atas kapal yang berwarna kuning, melambangkan Kota Tegal dilalui tiga jalur dari arah Jakarta, Semarang dan Purwokerto,” ucapnya. “Sedangkan api yang berkobar berwarna merah putih di atas kapal melambangkan semangat masyarakat Tegal dalam bekerja dan berkarya yang menyala-nyala,” lanjutnya.Atas dinyatakannya tiga pemenang bersama dalam lomba pembuatan logo tersebut, otomatis hingga kini siapa pembuat logo Pemkot Tegal, ketiga-tiganya berhak mengklaim itu hasil karyanya ke masyarakat, karena sama-sama dapat piagam penghargaan. Tetapi keseluruhan isi gambarnya, adalah hasil idenya Suami Hj Nuryati HB ini sedikit menyayangkan panitia tidak menetapkan juara I, II dan III. “Layaknya lomba kan semestinya ada juara satu, dua dan tiga, lalu apabila ketiga gambar pemenang kurang sempurna, bisa dikombinasikan panitia, tidak masalah, lha kok setelah dinyatakan tidak ada pemenang pertama, gambar yang dipakai murni punya saya?” ujarnya. Bahkan gambar ketiga pemenang itu juga tidak ditunjukan ke publik, sehingga ia sampai sekarang belum tahu gambar logo asli kedua pemenang lainnya itu seperti apa. Tapi ia tetap yakin, akan gambar logo yang terpampang dialah yang membuatnya. Maka, ia mengaku cukup tersenyum di dalam hati jika melintas ke Kota Tegal melihat logo yang terpajang itu. Karir MelukisMenengok jejak rekam kegiatan seni Hasan Bisri di seni rupa memang cukup panjang. Namanya tercatat di berbagai pameran lukisan tingkat Nasional maupun Internasional. Di usianya yang pada 29 JUni 2009 nanti genap 64 tahun ia masih tetap eksis dan berporses melukis. Ciri khas lukisan mantan Kepala Perpustakaan Umum Kabupaten Tegal ini berupa seni dekoratif. Setelah melalui perjalanan panjang dengan berbagai eksperimen, dekoratif rupanya menjadi pilihan sesuai hatinya. “Dekoratif itu unik perubahan bentuk atau obyek sesuai imajinasi, bebas berekspresi meliuk dengan garis-garis sebagai goresan dan garis kontur membatasi semua bidang obyek adalah pernyataan pribadi saya yang mantap,” ungkap alumnus ASRI. Sedangkan warna dominan coklat pada lukisan dekoratifnya, karena warna coklat berkarakter damai, tenang dan bersifat kekeluargaan. Selain itu mengingatkan batik tradisi. Lalu soal Sanggar Putik ‘99 yang kini tetap moncer rupanya bentuk metamorfosis yang ia perjuangkan sejak tahun 1972. “Dulu namanya Sanggar Putik 72 saya dirikan di Kota Tegal beranggotakan 17 orang Desainer Texin Tegal, lalu tahun 1975 anggotanya jadi 100 orang, yang meliputi kegiatan seni rupa, teater, drama, dan musik. Tahun 1980 sanggar menerbitkan majalah Kesenian Remaja, dan tahun 1999 berubah nama Sanggar Putik ’99, saya sebagai ketuanya, merupakan wadah kegiatan perupa Tegal dan sekitarnya,” jelasnya. Selain melukis, Hasan juga banyak menulis sajak. Setidaknya sudah empat buku sajak yang siap ia terbitkan. Sajak-sajaknya itu ia tulis disela senggangnya. Kini ia hidup bahagia bersama istri anak dan cuu-cucunya. Dan apa yang telah ia lalui serta dapatkan selama ini, sebagai orang biasa, Hasan Bisri merasa suatu anugerah dari Sang Maha Pencipta, Allah SWT. “Saya bersyukur kepada Allah SWT pada umur setua ini, 64 tahun tepatnya 29 Juni 2009 genap usia saya 64 tahun, Allah telah memberi kesehatan, kekuatan, kemampuan berkreasi, dua kelebihan yang kedua-duanya saling menunjang, saling mengisi, atas ijin Allah saya bisa mewujudkan imajinasi lewat melukis dan tulisan,” pungkasnya, sambil menambahkan semoga dapat bermanfaat bagi kita (EK/LS)


Keluarga H Hasan Bisri
Tanamkan Budaya Saling Jujur dan PengertianMENGENAL sosok H Hasan Bisri yang terpancar darinya sifat rendah hati, tidak suka menonjolkan kehebatannya dimuka publik dan familiar dengan siapa saja. Dimata sang istri, Hj Nuryati HB, dia sebagai seorang suami dan bapak yang bertanggungjawab dari kelima anaknya. Pun Hasan Bisri merasa bersyukur mempunyai istri yang dapat dipercaya bersama-sama membangun biduk rumah tangga. Menikah 28 Agustus 1968 keharmonisan mereka berdua sering membuat iri para tetangganya. “Kadang kalau kita lagi jalan berdua, banyak yang merasa iri, karena kita selalu hidup rukun dan damai,” tuturnya sambil tertawa bahagia. Lantas, apa rahasia agar biduk rumah tangga tetap langgeng keharmonisannya? Hasan Bisri maupun Nuryati menjawab, rahasianya saling percaya, saling jujur, terbuka, dan saling pengertian, tidak neko-neko. Sejak menikah, Hasan Bisri dan istri boleh dikata sebagai keluarga yang berkecukupan. Sama-sama bekerja sebagai PNS, hanya beda tempat. Ia mengabdi di Pemerintahan Kabupaten Tegal dan istrinya di Pemerintahan Kabupaten Brebes. Yang membanggakan lagi, kelima anaknya sudah mentas semua, dan mereka boleh dikata sukses di bidangnya masing-masing. Anak sulung dan bungsu tinggal di Jatibarang, anak kedua tinggal di Bandar Lampung, yang ketiga di Bandung, dan anak keempat tinggal di Jatisari, Bekasi, Jawa Barat. Dari kelima anaknya itu, dikaruniai 10 cucu, terdiri dari 9 cucu laki-laki dan 1 perempuan. Namun, kelima anaknya itu tidak ada yang meneruskan jejak karirnya sebagai pelukis. Hanya cucunya yang nampaknya punya bakat melukis. “Tiga cucu saya Muhammad Rafi, Muhammad Samsul, Arif, Muhammad Helmi Basyari yang sepertinya punya bakat melukis. Sering saya lihat mereka suka melukis dan saya perhatikan hasilnya bagus,” ucapnya. Punya anak soleh dan solehah tentu suatu harapan bagi semua orangtua. Demikian Hasan Bisri dan Nuryati, bersyukur kelima anaknya meski sudah jadi orang sukses dan tinggal jauh dengannya, tetap memerhatikan dirinya. Sewaktu berangkat haji tahun 2006 juga atas biaya gotong-royong anak-anaknya. “Saya sebenarnya mau menjual mobil untuk naik haji, tapi dicegat anak saya, akhirnya mereka yang membiayai saya dan istri naik haji,” kenangnya.Kini, ia sebagai pensiunan sibuk menceburkan diri mengelola Sanggar Putik ’99 dan Galeri Bisri di depan rumahnya. Sedangkan sang istri sebagai Ketua Majlis Talim Ummahatur Rofiqoh Jatibarang, Brebes yang belum lama ini hadir di acara Mamah dan Aa Curhat Dong di Indosiar. Ia mengaku kini sedang banyak pesanan atau order melukis dekoratif dari Bali. Rencana kedepan, ia ingin menerbitkan buku kumpulan puisinya dan menggelar pameran lukisan tunggal tentang flora fauna serta lukisan art yang selama ini tersimpan di galerinya
(EK/LS)

Biodata
Nama : H Hasan Bisri TTL : Jatibarang, 29 Juni 1945
Pendidikan : Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta, tahun 1970
Nama Istri : Hj Nuryati HB
Nama Anak : Santi Dianning Pratiwi Moh Kukuh Lega Nirmala, H Moh Sovan Hadibowo ST Com, Moh Nugroho Akbari ST, Moh Rizqini Gunawan
Alamat : Jalan Sibiuk No 1 Jatibarang, Brebes
Prestasi : Mendapat penghargaan Walikota Tegal dalam menang Lomba Logo Kota Tegal Tahun 1972 Juara III Desain Batik se-Propinsi Jawa Tengah. Pendiri Sanggar Putik 72 Kota Tegal tahun 1972 Mendirikan Kelompok Desainer Tegal Tahun 1971
Menyeleksi lukisan anak-anak peserta lomba lukis tingkat Internasional dan Juara I di Seoul, Korea Selatan tahun 1987
Kegiatan Seni : - Pameran Kelompok mahasiswa ASRI Yogyakarta di Aula ASRI Gedung Seni Sono, Gedung Sono Budoyo, Yogyakarta, Temanggung, Titi Kawedar Tegal tahun 1967-1968- Pameran Bertiga bersama Adam Lay, Danta dalam rangka Hari Kepolisian RI di Gedung AMPERA Kota Tegal 1969
- Desainer Tekstil di Texin Tegal 1970-1973
- Guru Gambar di SMP Pancasila Tahun 1974
- Pimpinan Redaksi majalah kesenian remaja terbitan sanggar Guru Kesenian di SMA Pusponegoro IV tahun 1980-1985
- Panitia Lomba Lukis Porseni SD tingkat Kabupaten Tegal
- Pengurus Sanggar Budaya Kabupaten Tegal dan Berpameran di Gedung Korpri Slawi tahun 1992
- Menjadi Kepala Perpustakaan Umum Kabupaten Tegal tahun 1998
- Sebagai Ketua Sanggar Putik '99 yang diterima Pemkab Tegal sebagai wadah perupa di Kabupaten Tegal dan sekitarnya
- Pameran Rutin Alumnus ASRI dari semua angkatan di Gedung World Trade Centre (WTC) Jakarta tahun 1999-2004
- Pameran Lukisan Collour Movement at New Milenium di News Cafe Kemang, Jakarta tahun 2000
- Pameran bersama Sanggar Putik '99 beserta alumnus UNNES Semarang di Gedung UPS Tegal tahun 2000
- Pameran bersama di SMAN 3 Slawi tahun 2000
- Pameran bersama di Matahari Plasa, Pekalongan tahun 2000`
- Pameran bersama di Gedung Korpri, Slawi tahun 2000`
- Pameran disentralisasi Seni Rupa Tegal oleh 7 perupa di Lanal Tegal tahun 2001`
- Pameran Nuansa Bahari di Bahari Inn Tegal tahun 2002
- Peserta jambore Seni rupa 2008 di Ancol, Jakarta 21 Agustus-1 September 2008
- Pameran bersama bertema 'Warna-Warni 2009' Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Kab Tegal di Gedung Rakyat, Balai Kesenian Kabupaten Tegal 30 Mei-7 Juni 2009.

Kegiatan Menulis:
- Tulisan pertama menyusun buku TEORI WARNA terbitan khusus oleh SMAN 1 Slawi

Kumpulan Puisi :
Sajak Kembar, Perjalanan Biruku dalam Sajak, dan Sajak Kocak (Dialog antara penguasa Taman Raden Saleh dengan Penguasa Taman Singosari)

-Motto HIdup : Hari esok adalah langkah. Kerja adalah perang. Jangan berbangga karena apa dan siapamu tapi karena langkahmu. Nama adalah hadiah dari sebuah ketekunan.

Minggu, 31 Mei 2009

PELUKIS SURIPTO DARI SLAWI


Suripto Pahing
Peniup Seluring Jadi Pelukis

PENIUP seruling Suripto kepencut dunia seni rupa. Baginya, dunia seni rupa sangat menggoda untuk dijamah dan ditekuni karena mampu menumbuhkan daya prima dalam mengusung orisinalitas imajinasi yang sedang berkembang di lingkungan masyarakat.
“Media lukis punya semangat prima orisinalitas gagasan yang mampu menangkap realita yang berkembang di lingkungan sekitarnya secara jujur, lugas, dan tak kalah penting menjadi lebih bernilai dan bermakna,” ujar Suripto memberi alasan ditengah kesibukan mengikuti pameran lukisan di Gedung Rakyat, Slawi.
Menurut Pahing, sebelum dirinya menekuni dunia lukis, kehidupannya suntuk sebagai peniup seruling. Tak hanya dikontrak oleh satu group dangdut tapi harus pula ngladeni job yang datang dari pemain organ tunggal agar mau mengikuti pemanggungan. Bagi lelaki yang baru tiga tahun bergabung di Sanggar Lukis Putik ini, job pementasan macam itu tak bisa dia tolak. Keahlian memainkan seruling yang sudah dibilang cukup kawakan di wilayah Slawi ini, menyebabkan banyak job berdatang dari para player maupun group dangdut.
Tapi sejalan usianya yang terus merangkak pasti hingga setengah abad ini, kehidupan hura-hura di panggung hiburan dangdut, dirasakan semakin tak lagi pantas untuk dirinya. Ia akhirnya banting stir mendalami dunia seni rupa. Dasarnya karena sejak kecil suka corat-coret. “Waktu saya masih SD, saya memang suka corat-coret. Sekarang baru kesampaian menggeluti dunia seni lukis. Saya ingin total mendalami dunia ini karena mengasyikan dan memang menggoda” tandasnya.
Tiga tahun dia masuk di Sanggar Putik, tiga kali pula dia ikuti pameran. Kali pertama dia pameran pada tahun 2007 bersama Sanggar Putik di Gedung Rakyat, Slawi. Pameran bersama dalam rangka HUT Kabupaten Tegal 2008. Beberapa bulan lalu, dia pun ikut pameran bersama dalam rangka HUT Kota Pekalongan, dan HUT Kota Pemalang. Kini, bersama para pelukis Slawi yang tergabung di Komite Seni Rupa Kabupaten Tegal, turut juga pameran lukisan yang digelar sepekan dari mulai 30 Mei s/d 7 Juni, di Gedung Rakyat Balai Kesenian Kabupaten Tegal.
Menyimak satu lukisan Pahing yang digelar di pameran ‘Warna-warni 2009’ ini, ada satu karya lukisnya yang sangat menggelitik. Perupa beraliran realis rada-rada surealis ini menumpahkan gagasan misi sarkatisnya dengan melalui sebuah lukisan mulut menganga yang di ambang lubang mulutnya terdapat burung kicau. Lukisan itu menjadi sebuah simbol dari budaya banyak bicara tetap karya tak ada alias omong kosong. Istilah Tegalnya; ‘kakèhan cocot’ yang banyak menudungi kehidupan dewasa ini.
Substansi yang sarat nilai itu, dengan jitu dibidik Pahing. Ia mampu mevisualisasikan gambarnya begitu menggigit. Orang-orang yang kerjanya cuman umbar janji itu, cukup disimbolkan dengan mulut dan burung kicau. “Ide lukisan itu, lama sekali saya dapatkan,” ucap Pahing yang mengaku siap menerima pesanan lukisan apa saja (LS)


Minggu, 26 April 2009

KRONCONG IRAMA BERSAMA


Kroncong
Irama Bersama
Mendekat ke Selera Pasar


MESKI baru dibentuk beberapa pekan lalu, kehadiran Kelompok Musik Kroncong Irama Bersama yang bemarkas di Jalan Sumbing 6 Kampung Kalibuntu, Kelurahan Panggung, Kota Tegal itu tak bisa disepelekan. Para senior dan anak muda yang berasal dari berbagai wilayah di Tegal menyatu agar warisan budaya nenek moyang ini tak lekang dimakan zaman. Soeroso Benan mengutarakan hal itu ketika berbincang-bincang dengan NP, Jumat (24/4) malam di rumahnya .
Menurut Roso, panggilan akrabnya, dibentuknya kelompok tersebut pimpinan Agus Topan itu karena dirinya merasa prihatin terhadap para pemain keroncong di Tegal yang sudah bercerai-berai dan karut marut. Dengan keprihatinan dan melihat kondisi semacam itu maka bersatulah mereka membentuk sebuah kelompok Irama Bersama dengan tanpa melihat batas usia dan status sosial anggota.
“Kami mencoba menyatukan mereka agar bersama mengeksiskan kembali kejayaan musik kroncong di Tegal. Ibaratnya, merangkai dan menata tulang-tulang yang berserakan,” katanya. Oleh kawan-kawan, Roso kemudian ditunjuk sebagai Litbang. Hal itu memandang adanya kemampuan pada diri Roso memiliki wawasan ke depan di tengah galau keriuhan musik anak muda masa kini yang tengah menderas. Karena itu, ia terus mencermati dan mengkaji pangsa pasar di masyarakat.
“Kami ingin kelompok kami tidak hanya terpaku pada lagu kroncong yang sudah ada. Kelompok kami akan berupaya mendekat pada selera pasar yang berkembang di lapisan masyarakat,” ujarnya.
Oleh karenanya, agar kelompoknya tidak ditinggal oleh generasi muda, siap menyuguhkan berbagai jenis lagu dari mulai dangdut, pop, lagu-lagu anak muda zaman sekarang sampai pada tembang-tembang berasal dari manca negara dilalap juga.
Meski demikian, Roso juga mengkritisi. Menurutnya, jika pemusik keroncong hanya mengandalkan insting dan bakat alam, maka kelompok tersebut bakal tumpas digerus oleh kecerdasan anak-anak muda yang pintar membaca notasi. Karena itu, pemusik kroncong pada masa mendatang harus mengenali hal itu. Juga harus memperhatikan pada penampilan dan pemasaran.
Kelompok yang beranggotakan Yanto pada melodi gitar, Nanang pada bass, Cuk dan Cak dipercayakan pada Tiyar dan Goen, Cello pada Ismet, Flute pada Ranto, Biola pada Kamsari, serta selaku penyanyi dipercayakan pada Ani dengan anggota Karyono dan istri serta Manto itu, kontinyu latihan pada paroh bulan dengan kedisiplinan yang cukup ketat (LS)



KETERANGAN GAMBAR :Para pesonil dan penyanyi dari Kelompok Musik Keroncong ‘Irama Bersama’ nampang bersama sesaat sebelum mereka manggung di Kecamatan Tegal Timur dalam acara Malam Pentas Seni dalam rangka HUT Kota Tegal Ke-429 (Foto : Lanang Setiawan)

Kamis, 25 Desember 2008

MOGAL PENABUH BEDUG 15 JAM


Mogal Penabuh Bedug 15 Jam
Non Stop


TAK banyak orang tahu jika mantan penyiar radio, Mogal di wilayah Adiwerna ini ternyata menjadi orang yang paling top di Desa Bulakwaru, Kecamatan Tarub dengan keahliannya menabuh Bedug selama 15 jam non stop pada tahun 1992 lalu. Mogal, yang memiliki nama lahir Watmowidjojo ST (Saking Tegal –red) itu telah membawa nama desanya terangkat demikian meroket karena prestasinya mampu menabuh bedug dari jam 9 pagi sampai subuh dini hari.
“Meski pada waktu itu saya hanya menduduki urutan ke dua, saya bangga karena nama Desa Bulakwaru turut terangkat,” ujar Mogal kepada Nirmala Post yang menyambangi rumahnya di Desa Bulakwaru, Kamis (25/12) siang.
Mogal mencoba mengetes ketahanan fisiknya itu lewat Lomba Menabuh Bedug yang diselenggarakan Taman Impian Jaya Ancol semata karena kecintaannya pada budaya islami.
“Saya tertarik dan tertantang mengikuti ajang lomba itu selain mengukur sejauh mana ketahanan fisik saya, sekaligus karena di dalamnya ada nilai-nilai keislaman,” katanya.
Dia mengaku mampu menabuh bedug selama 15 jam bukan perkara mudah. Persiapan untuk mengasah ketahanan fisiknya itu harus meneguk jamu sebanyak 10 butir kuning telor ayam agar mampu bertempur dalam lomba yang cukup bergengsi itu. Peserta sebanyak 50 orang itu bukan mereka yang asal-asalan, namun dari penjuru kota dan daerah di seluruh nusantara tumpah ruah berburu prestasi. Satu-satunya orang dari Desa Bulakwaru, Kecamatan Tarub, Kabupaten Tegal itu cuma Mogal. Tapi ia mengaku tak gentar menghadapi mereka.
“Saya orang desa memang, tapi jiwa dan tekat saya membulat baja untuk meraih juara. Saya tak gentar menghadapi orang-orang yang memiliki postur tubuh perkasa dan gede-gede. Alhamdulillah dalam lomba itu saya keluar sebagai juara dua. Saya ambruk tak mampu lagi melanjutkan perlombaan. Kekuatan fisik saya cuma mampu beraksi selama 15 jam, tapi saya telah berjuang sebaik mungkin untuk desa saya,” ujar salah satu pengurus LASQI Jawa Tengah itu.
Sejak predikat juara kedua yang dia sandang, penabuh drum Jelly Tobing kemudian mengajak Mogal untuk meramaikan Jelly Tobing pentas akbar di arena Driver In Theater Ancol dalam ajang pemecahan rekor tabuh drum selama 10 jam.
Menurut Mogal, untuk membuat nyaring suara bedug itu sebaiknya menggunakan kulit sapi pada bagian kempongan. Sementara untuk membuat terbang kencer berbunyi nyaring sebaiknya menggunakan kulit kambing bagian gigir.
“Tapi jangan sekali-kali memilih kambing yang berpenyakitan. Pilihlah kambing yang sehat, karena bunyinya akan lain. Untuk kayu yang dipilih sebaiknya pakai kayu mahoni yang bener-bener kering agar tidak ngulet atau melengkung ketika dipasang lembaran kulit,” pungkas Mogal (LS)









Selasa, 23 Desember 2008

UNTUNG BINDENG: Lawak Itu Anugrah


Untung Bindeng
Profesi Lawak itu Anugerah

PELAWAK Untung Bindeng asal Tegal, mengaku menerjuni dunia lawak sebuah anugerah dan sudah kodrat (kehendak) dari Yang Maha Kuasa. Pengakuan pemiliki nama asli Untung Santoso itu disampaikan kepada NP Selasa (23/12) ketika berada di sebuah warung lesehan.
“Suara saya bindeng ini asli dari sononya, bukan buatan. Saya bersyukur, justru karena kondisi saya seperti begini ini, membawah saya dilimpahi berkah dan saya tak menyesal ditakdirkan sebagai pelawak,” tambahnya.
Nama Untung Bindeng mulai meroket sebagai pelawak di wilayah Tegal ketika merebaknya arus reformasi melanda ke Tegal di tahun 1989. Dia bertutur, ketika itu Usdad Mustahid mengajak dia untuk menemani pentas dalam rangka tujuh belas Agustusan pada satu panggung dakwah. Tugas Untung berperan sebagai pendamping Mustahid agar mampu memberikan daya sengat banyolan kepada masyarakat. Bukan main pengunjung pengajian dikocok oleh lawakannya, karena ternyata Untung dapat memainkan peran yang tak disangka-sangka. “Sejak itu nama saya mulai dikenal oleh masyarakat,” katanya.
Karir Untung makin meroket. Kemudian oleh H. Tambari Gustam diajak untuk mengisi siaran guyonan di Radio RCA. Tak disangka pula, reputasi Untung semakin mendapat tempat. Keuntungan suaranya yang bindeng membuatnya mudah dikenal masyarakat apalagi dengan rambut plontosnya dan wajah yang ‘kocak’ itu, menambah nilai lebih untuk dirinya.
Untung sendiri mengaku, selama ini sudah tak terhitung ditanggap ke berbagai hajatan bersama Naryo Lawak. Kemana Naryo Lawak melakukan perjalanan pentas sulap dan lawakan, tak pernah tertinggal untuk mengajak Untung Bindeng sebagai pasangannya yang kerap berperan sebagai orang yang konyol.
“Saya menyukuri pemberian kodrat ini dengan rasa penuh seluruh,” katanya.
Bagi Untung Bindeng, dunia lawak telah dia pilih dan sampai kapan pun akan selalu eksis di dunia itu.

Selasa, 16 Desember 2008

WIJONO RINDUKAN FILM AKAR RUMPUT


Wijono Soewardjo T
Rindukan Film
'Akar Rumput'


KINI
saat yang strategis untuk mengangkat budaya lokal lewat karya film. Terutama bagi para sineas muda yang memiliki idealis tinggi dan kemampuan memadai. Dengan begitu kita dapat mewujudkan keinginan memiliki karya film yang benar-benar berpijak kepada akar rumput. Hal itu dikatakan penata artistik peraih piala citra dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1977, Wijono Soewardjo T, Senin (15/12) di rumahnya di jalan Jalak, Kelurahan Pekauman, Kota Tegal.
"Melalui produksi film yang mengangkat cerita lokal dengan setting budaya lokal, hasilnya akan lebih orisinil. Karena karakter masyarakat Indonesia akan lebih muncul," kata Wijono.
Sesuai fungsinya, lanjutnya, dalam sebuah proses pembuatan film, apalagi dalam film yang bertema sejarah, keberadaan penata artistik sebuah keharusan. Tanggung jawab yang dipikul dalam mewujudkan sebuah karya gambar hidup menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan. Karena secara visual, kerja sama yang baik antara sutradara, penata kamera dan penata artistik akan memberikan hasil yang baik pula.
Dijelaskan, sebagai penata artistik sebuah film seseorang harus memiliki kemampuan prima sesuai dengan konsep tata visual yang dituntut oleh sutradara. Berbagai elemen yang ada harus dimanfaatkan secara maksimal. Sementara set yang belum ada harus dibangun sebagaimana aslinya untuk mendapatkan hasil yang sesuai tuntutan hasil gambar yang bermakna (filmis) tepat dengan suasana tata budaya sesuai dengan kurun waktu sebagai latar belakang sebuah cerita terjadi.
"Seperti sebuah bangunan atau kondisi pasar tradisional pada jaman penjajahan jepang, tentu beda dengan suasana di era tahun 90-an, sedangkan film dibuat situasi sekarang. Tentu ada properti tertentu yang harus diadakan untuk mencirikan suasana pasar pada kurun waktu tertentu," paparnya.
Menurutnya, upaya untuk memenuhi tuntutan ideal, dalam mewujudkan sebauh realita sejarah ke dalam film, jika tercapai target hingga 60 presen, itu berarti sudah sangat bagus. Sedangkan proses kerja kreatifnya, cara yang ditempuh biasanya melalui penulusuran referensi maupun observasi ke museum, keraton dan lainnya.
"Jika tuntutan itu tidak bisa terpenuhi biasanya dilakukan trik atau kamuflase pengadeganan. Misalanya mengganti kejadian dari siang menjadi malam hari," ujarnya menyontohkan.
Hampir 80-an judul film dia ikut menggarap. Hingga tahun 1978, sebanyak 39 judul. Seperti Ken Arok, Sembilan Wali, Si Jagur, Damar Wulan, Macan Kemayoran, Bintang Pelajar (1957), Tjisadane (1971), Misteri In Hongkong (1974), Senyum Nona Anna (1972), Si Ronda Macan Betawi (1978) dan Mustika Ibu yang berhasil meraih penghargaan sebagai Penata Artistik Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1977. Sedangkan dalam film 'saat-saat Kau Berbaring' yang dibintangi Dedy Mizwar hanya masuk sebagai nominasi.
Sebelum menekuni dunia tata artistik di film, Wijono pernah jadi wartawan dan unit film. Setelah itu menjadi penata artistik. Latar belakang pendidikannya, Akademi Seni Drama dan Film dan Institut Kebudayaan Indonesia Yogyakarta (KZ)

Jumat, 31 Oktober 2008

YANI BIDUAN DANGDUT TEGAL


Pedangdut Yani:

Separoh Gairahku

Dirampas Dangdut

LAGU dangdut sepertinya sudah menjadi darah daging Yani. Pedangdut asal Desa Padaharja Kecamatan Kramat itu mengaku separoh gairah hidupnya ‘dirampas’ musik dangdut dan ia tak bisa berpaling dari jenis musik yang membumi itu.
“Aku jatuh cinta sama dangdut. Dalam hidupku sepertinya tiada hari tanpa dangdut yang selalu mengiringi langkahku. Separo gairah hidupku bahkan dirampas oleh musik dangdut,” ujar Yani ketika berbicang dengan penulis pada Rabu (29/10) malam di sebuah rumah makan kawasan Kramat, Kabupaten Tegal sebelum dia tampil pada acara Penyerahan Penghargaan MURI kepada penyair Husin, pembaca sajak terlama 4 hari 4 malam.
Bagi Yani, totalitas sebagai pedangdut adalah sebuah kemutlakan. Ia percaya bahwa apa yang dia pilih bukanlah sebuah tindakan keliru. Delapan tahun ia suntuk berprofesi sebagai biduanita adalah bukti kalau dunia dangdut ternyata bisa untuk menghidupi dirinya dan keluarga.
“Aku memilih jalan hidup tak mau setengah-setengah. Sebagai pedangdut, aku penuh suntuk memilih profesi ini karena telah aku rindukan” tegasnya.
Yani mengawali karirnya delapan tahun silam. Kegilaannya pada lagu dangdut terasa sekali sejak ia masih kanak-kanak. Ia senang mengikuti biduan menyanyi saat dia mendengar lagu dangdut di radio. Berawal dari sana, Yani semakin suntuk mendalami lagu-lagu dangdut. Akhirnya dia memutuskan hidup total sebagai pedangdut dari kampung ke kampung, dari satu kota ke kota lainnya.
“Cengkok suaraku memang lebih menonjol ke dangdut, lagian lagu dangdut itu lebih gampang dan asyik, jadi aku seneng aja bawain” ujar Yani menjawab pertanyaan.
Entah sampai kapan Yani bakal kuat pada pilihan hidupnya itu, ia hanya mengaku bahwa sampai detik ini belum merasa bosan jadi penyanyi dangdut. Alamat Yani berada di Desa Padaharja dukuh Kedawung Rt1/Rw 1 Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Indonesia.