Tampilkan postingan dengan label berita budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Juli 2009

Penyair ABU MAMUR dan APAS KAFASI Unjuk GIGI

Apas Kafasi
Linda Manise


BACA SAJAK - Tak peduli panas menyentak, penyair Abu Mamur MF menyalakan satu puisi ‘Metamorfosa Waktu’ karya terbarunya, Minggu (28/7) di halaman Kampus Politeknik Harapan Bersama Jalan Dewi Sartika Kota Tegal, seusai mengisi pembacaan sajak di acara Diskusi Budaya dan Pelatihan Junarlistik (Foto: Lanang Setiawan)

Penyair Abu Mamur dan Apas
Gebrak Baca Puisi di Forum Lingkar Pena

DENGAN merentang kedua tangan, penyair Abu Mamur MF menyalakan satu pembacaan puisinya berjudul Metamorfose Waktu. Di hadapan puluhan peserta ‘Diskusi Budaya dan Pelatihan Jurnalistik’ yang digelar oleh Forum Lingkar Pena, Abu menghetakan vocalnya penuh penghayatan total. Kadang dia mengaum seperti macan kesakitan, beberapa selang kemudian memelas seperti pelari yang terengah-engah karena kehabisan tenaga. Di Kampus Politeknik Harapan Bersama Jalan Dewi Sartika No 71 Kota Tegal itu, suasana penonton seperti ditenggelamkan pada masa purba, masa di mana kenangan di alam kandungan yang sepi, gelap gulita, dan tanpa cahaya, sampai pada akhirnya lahir dan manusia terjebak oleh lingkaran dunia yang busuk, lantaran lupa akan waktu dan Tuhannya.
//..Ada yang menghamburkan waktunya dengan membuat deretan catatan keluhan/Ia mengira takdir adalah pahatan Tuhan yang tak bisa kita ukir../Ia bilang, kemiskinan adalah takdirku, penderitaan adalah takdirku../ah, jika benar demikian, Tuhan macam apa yang menciptakan kerangkeng/pada hamba-Nya?/Terus saja debu-debu dosa menebal dan melekat pada jiwanya../padahal Tuhan telah bersajak/Innallaha la yughoyiru.../“Aku tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sampai kaum itu/mengubah dengan tangannya sendiri”…//
Sepenggal potongan sajak Metamorfosa Waktu milik penyair Abu Mamur MF itu, ternyata tak hanya dia bacakan di dalam acara itu. Sesudah bubaran pun, Abu kembali membacakannya di bawah kobaran siang bolong yang terik. Ia membacakan puisi itu dengan tanpa teks, di lapangan kampus tersebut.
Tak kalah menarik juga ketika tampil penyair Apas Kafasi saat mengusung dramalisasi puisi Tegalan Tak Jaluk dengan melibatkan Linda Manise dan Zaki Payla, dilanjutkan dengan monolog Latihan Teater oleh Apas. Pada dramalisasi puisi Tak Jaluk, figur Linda Manise berperan sebagai wanita murung yang menunggu sambil memainkan kerudung cinta. Sementara Zaki Payla berperan sebagai lelaki menghamba terhadap cinta Linda agar tetap setia memegang cintanya. Puncak pementasan ini, Linda menghampiri Zaki yang berdiri tegak dan mencium jempol kaki Zaki, di tengah suara Apas yang terus menggebu dan merayap-rayap. Usai dramalisasi puisi tersebut, Apas kembali membawakan lakon monolog bertajuk Latihan Teater. Suasana siang itu, sungguh seperti milik Apas dan Abu yang sedang unjuk gigi.
Acara yang sedianya di gelar di Pendapa Ki Gede Sebayu itu, dialihkan karena berbenturan dengan acara lain. Sehingga diusung ke Kampus Politeknik Harapan Bersama, menampilkan novelis SN Ratmana sebagai nara sumber dan narasumber dari koran harian lokal Tegal (LS)





Kamis, 16 Juli 2009

SASTRA TEGALAN SEBUAH PARADIKMA BARU


Nirwondo el Naan – Penyair:
Sastra Tegalan Sebuah Paradigma Baru

MASYARAKAT Tegal adalah masyarakat yang sangat apresiatif terhadap dunia kesenian dan kebanggaan terhadap bahasa ibu-nya menjadi paradigma baru dalam khazanah kesusastraan.
Penyair Nirwondo el Naan mengungkapkan hal itu kepada harian Nirmala Post berkaitan dengan gaung Sastra Tegalan yang belakangan terasa semakin bergerak. Menurutnya, sejak gegeran puisi terjemahan tegalan ‘Roa’ di tahun 1994, gerakan Sastra Tegalan menjadi pembicaraan menarik setiap kali para pelakunya melakukan lawatan budaya.
“Sebagai sebuah paradigma baru, konsep dan keberlangsungan Sastra Tegalan cukup menyodok. Ditunjang lagi dengan tingkat penerimaan apresian masyarakat Tegal yang baik pula, membawa saya berkesimpulan bahwa masyarakat Tegal adalah masyarakat yang sangat apresiatif,” jelas sang penyair Ungaran yang lahir di Kabupaten Brebes itu.
Terhadap keterlibatan para pejabat atas perjuangan budaya lokal ke dalam dataran Puisi Tegalan, menurutnya bahwa keterlibatan mereka merupakan sebuah keseimbangan pergerakan budaya, dan kesadaran saling menerima.
“Kekuasaan jika dijalankan dengan rasa, dan itu ada pada kesenian, ia akan indah,” tuturnya.
Wondo tak menampik, gerakan tegalan itu memiliki kekuatan yang dasyat sampai kemudian mampu menggaet para pejabat dari tingkat kepala daerah sampai di bawahnya.
“Tapi sebenarnya kekuatan yang dahsyat itu berasal dari bawah, yaitu para kreatornya. Jika pemangku kekuasaan mencintai produk kesenian atau hasil kebudayaan lainnya di wilayah kekuasaannya, itu politik pencitraan. Semoga di Tegal tidak,” tandas nya.
Secara umum, dia menilai proses berkesenian para seniman Tegal sangat bagus dalam hal kreativitas. “Banyak seniman yang masih terus berproses. Ada semacam pergesekan personal, misal yang berhubungan dengan gagasan-gagasan, tapi itu penting untuk sebuah paradigma baru,” katanya.
Sekadar diketahui, Nirwondo el Naan lahir di Brebes 23 Maret 1979. Beberapa tulisannya dimuat di tabloid Brebes Pos, Wawasan dan Kedaulatan Rakyat. Menjadi peserta tamu Penyair Nasional di Tasikmalaya, dan Pesta Penyair Nusantara 2008 Sempena The 2nd Kediri Jatim International Poetry Gathering. Pendiri dan Ketua Komunitas Sastra Indonesia (KS) Cabang Kabupaten Ungaran LS

Kamis, 09 Juli 2009

EKO TUNAS BERHASRAT


Eko Tunas Berhasrat Tulis Skenario ‘PB’

"DAHSYAT kalau difilmkan? Bagaimana kalau Yono Daryono yang jadi sutradaranya dan aku yang menulis skenario?" Begitulah pernyataan dari seniman Eko Tunas yang amat berhasrat memfilmkan novel Pengendara Badai (PB) karya Lanang Setiawan, Selasa (7/7) melalui telepon seluler.
Menurutnya, novel PB yang didalamnya merangkum catatan peristiwa seni budaya di Tegal era 70-an sampai sekarang, ia merasa terlibat di dalamnya, ingin menghidupkan lewat karya visual atau layar lebar.
Sedangkan kreator seni dan sutradara kenamaan dari Teater RSPD Tegal, Yono Daryono juga berkomentar, “Membaca Pengendara Badai sepintas mengingat aku pada novel sejarah dengan teknik penulisan jurnalistik.”
Sementara itu tak ketinggalan sastrawan asal Banyumas Ahmad Tohari ketika disodori novel tebal tersebut beberapa waktu lalu oleh NP, langsung ngasih kommentar Sabtu (4/7). Ia menyebut novel PBi bakal meramaikan jagad sastra Tanah Air. “Lewat Pengembara Badai Lanang Setiawan mau bilang kelokalan dan keglobalan adalah satu, ini dia dengan jurus kelokalan tegal pendekar ‘sableng’ dari pantai utara Jawa ini mau bikin geger jagad sastra kita. Dia akan berhasil,” ujarnya. Yah, begitulah, belum juga diterbitkan, novel PBi sudah geger duluan (EK)

Senin, 06 April 2009

AB AH NUNG PEKERJA SENI SEIUS


Suparjo Ali :

Abah Nung Pekerja Seni Serius

MENGIKUTI geriap gencarnya berita tentang bursa pemilihan calon ‘G-1 Dewan Kesenian Kota Tegal (DKT), Ketua MPO (Majelis Pertimbangan Organisasi) Pemuda Pancasila, Kota Tegal, Supardjo Ali angkat bicara, majunya incumbent Abah Nung -panggilan akrab Nurngudiono, dalam bursa pemilihan ‘G-1 DKT’ yang bakal digelar Mei mendatang menjadi sesuatu yang menarik. Karena menurutmya, Abah Nung merupakan sosok seniman pekerja keras “Dari dulu sejak dia dia aktif di KNPI Kota Tegal, Abah Nung itu wong sing langka wudelé dan kreatif,” kata Supardjo Ali kepada NP, Minggu malam (5/4) di sebuah warung lesehan.
Meski dia tidak terlibat secara langsung terlibat di dunia kesenian, tapi dalam amatannya, selama DKT diketua dia, dunia kesenian di Tegal maju demikian pesat dan diperhitungkan di semua dewan kesenian yang ada di wilayah Jawa Tengah.
“Dalam berkesenian, dia itu pekerja serius” katanya yang dibenarkan oleh Nurhidayat Poso.
Sejarah juga telah membuktikan dan mencatat, selama kepemimpinan DKT di jabat Abah Nung, sudah 70 event kegiatan kesenian digelar. Dan itu ketika dia baru saja menjabat dalam kurun waktu 1,5 tahun. Ini merupakan sebuah prestasi yang luar biasa dan belum pernah dalam sejarah berdirinya DKT memiliki seabrek kegiatan sebesar itu. Selama dia menjabat, pernah menggelar pentas remojongan selama 10 hari berturut-turut berlangsung saban malam. Pembacaan puisi Jèd-jèdan Walikota/Bupati Tegal, Ketua DPRD plus anggota dewan, para pejabat dan para seniman Tegal menjadi satu dalam sebuah pentas akbar. Pementasan keroncong, mendatangkan grup teater dari luar kota, pameran lukisan, demo lukis dan seabrek pementasan yang spektakuler, dia geber.
Yang mengejutkan dan baru pertamakali, dia memberikan penghargaan kepada 3 3 penulis yang telah membukukan karyanya yaitu pada novelis perempuan Ken Ratu, penyair M. Enthieh Mudakir, dan eseis Patria Nur Bani.
Tidaklah berlebihan kalau incumbent ‘G-1 DKT’ Abah Nung itu sangat berpeluang dan masih diganduli oleh para pekerja seni agar dia menduduki jabatan ‘G-1 DKT’ untuk kedua kalinya
(*)


Foto : SUPARDJO ALI





Senin, 19 Januari 2009

PENYAIR TEMPE ANGANTEN


‘Penyair Tempe’
Buat Antologi Sajak Tempe

TOTALITAS
Dries Anganten yang dikenal dengan sebutan ‘Penyair Tempe’ tak diragukan lagi. Berbilang tahun penyair yang sehari-harinya menyandarkan hidup sebagai bakul tempe keliling dari kampung ke kampung ini, tetap menjaga keeksisannya sebagai penyair. Setelah baru lalu dia meluncurkan antologi puisi ‘Kangen’, Penyair Tempe ini dalam waktu dekat bakal meluncurkan kembali Antologi Sajak Tempe. Antologi tersebut menurutnya hanya akan dibagikan secara gratis sebagai kado ucapan terima kasih kepada mereka yang selama ini menjadi pelanggan tempe yang dia jual dari kampung ke kampung dari gang ke gang. Tak tahu apa motifasi Anganten memberikan antologi itu kepada mereka.
“Ini cara aku mengenalkan puisi kepada pelanggan tempe yang ada di kampung-kampung atau dari gang ke gang. Ya, setidaknya mereka bisa mengetahui ada bacaan lain selain novel, komik, majalah, cerpen, atau koran,” papar sang ‘Penyair Tempe’ ini di tengah kesibukan menjajakan tempe, barang dagangannya.
Dries Anganten sengaja melakukan semua itu karena sudah menjadi niatan agar puisi yang dia bukukan itu dapat dinikmati oleh masyarakat. Setidaknya, katanya lebih lanjut, makna dan jalinan kisah yang ada dalam kumpulan puisi tersebut bisa dicerna dan mereka diharapkan bisa menambah wawasan dari luar dunianya sebagai seorang ibu rumah tangga.
“Harapanku, seorang ibu rumah tangga pun bisa melek puisi dan tahu dunia luar yang sedang bergolak,” tandasnya.
Puisi-puisi sang ‘Penyair Tempe’ ini, selain berkisahkan tentang sosial, cinta, kepahitan hidup, juga saratnya nuansa hempasan kehidupan yang dialami seorang manusia. Rasa ketuhanan tak ketinggalan ada dalam antologi puisi ‘Tempe’ yang saat ini dalam persiapan.
Anganten sendiri menulis sajak-sajaknya itu, telah dipersiapkan sejak beberapa bulan lalu dengan tambahan sajak-sajak baru. Setelah uang terkumpul dari hasil menjajakan tempe, kini sang ‘Penyair Tempe’ tersebut baru berani melangkah untuk membukukannya.
“Insya Allah dalam waktu tak lama lagi kumpulan sajak ‘Tempe’ terbit. Doakan saja!”
Dries Anganten lahir di Desa Tegalwangi, Talang 21 Februari 1980 dengan nama lahirnya Idris. Sebelum dia menjadi penjaja tempe, ia pernah menjadi kernet bus jurusan Jakarta-Pekalongan, tukang patri panci keliling, pedagang seprei, dan kuli bangunan. Dia salah satu anggota teater binaan Begawan monolog dan penyair Apito Lahire. Alamat rumah di Desa Pepedan, Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal. HP: 081902468255 (LS)