Tampilkan postingan dengan label Pentas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pentas. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Agustus 2009

KESAKSIAN DWI ERY TENTANG RENDRA


Mengenang Rendra
Kesaksian Penyair Pentolan
Dwi Ery Tentang Rendra

KESAKSIAN bagi orang yang sudah wafat menjadi momen penting sebagai sebuah catatan bahwa dia pernah hidup. Lebih lagi bagi orang sebesar Rendra yang selama hidupnya begitu konsen terhadap perkembangan sastra, budaya dan teater, tentu tak bisa dibiarkan berlalu ketika dia telah berpulang. Maka, untuk mengenang ketokohan Rendra, peristiwa kebudayaan perlu digeber meski sebelum itu di Rumpres Muaratua H. Tambari Gustam, Jumat (7/8) lalu diselenggarakan acara ‘Malam Tahlin dan Baca Puisi Tegalan’, dan Teater Qi juga menggelar acara yang sama, sehari setelah itu. Kini pada malam ke empat kematian WS. Rendra, para seniman Tegal kembali mengusung acara yang mesti dinilai latah, tapi tetap digelar acara serupa. Namun latah tidak latah, acara tersebut laik diselenggarakan mengingat ‘Si Burung Merak’ itu merupakan figur pembaru dalam dunia kesenian. Pada malam ini, Selasa (11/8) salah satu pentolan penyair tegalan Dwi Ery Santoso siap menggedor 3 buah puisi karyanya dalam dua bahasa; tegalan dan nasional. Tiga buah puisi yang akan digeber berjudul Lengang, Sepotong Jalan (bahasa nasional), dan satu puisinya yang ditulis dalam bahasa tegalan berjudul Rumah Sakit. Tiga puisi itu akan dibacakannya di depan gedung kesenian, pukul 20.00 wib.
Menurut dia, proses penciptaan 3 sajak itu didasari dari rasa priatin mendalam atas berita kematian Rendra yang terkabarakan lewat sebuah pesan singkat dari sahabat dari Jakarta. Ketika mendapat sms itu, ia merasa seluruh tulang-belulangnya serasa tercerabuti dan membuat sekujur tubuhnya lemas seperti ada yang hilang. Dari situlah maka lahirlah sepotong sajak Lengang. “Seperti ada yang hilang ketika saya mendapat sms tentang kematian seorang Rendra,” katanya.
Pada proses penciptaan puisi Sepotong Jalan, ia mengisahkah tentang kesaksian atas kepasrahan Rendra ketika memulai bersujud kepada sang khaliq atas kebesaran Agama Islam yang dia anut hingga namanya pun rela diganti menjadi Wahyu Soeleman Rendra. “Keperpindahan Rendra dari pemeluk Khatolik taat menjadi penganut Agama Islam, menjadi sebuah kecerdasan rokhani menuju ke Khaliq yang sebenarnya, karena baginya Agama Islam itulah agama yang diridhoi Allah,” tandas Ery.
Pada sajak Rumah Sakit, Ery dengan tegas mengisahkan tentang pandangan Rendra terhadap perkara sakit atau tidak sakit, bukanlah milik Rendra melainkan semua itu milik Allah semata. Nilai kepasrahan total yang dimiliki Rendra adalah sebuah kesaksian Ery saat menilai Rendra terhadap Allah yang dia yakini sebagai Tuhan Seru Sekalian alam. “Bagi Rendra, sakit tidak sakit adalah milik Allah. Aku tidak sakit. Hanya organ-organ tubuhku yang telah tua, maka ketuaan adalah rahmat” tandas Ery mengutip omongan Rendra saat ajal akan menjemput.
Dalam acara ‘Mengenang Rendra’ malam ini, ia bakal tampil dengan kekuatan vokal dan teaterikan. Semua itu bakal menjadi pijakan Ery saat membawakan 3 puisinya itu. Ia siap memberikan sajian lain dari biasanya. Pada malam yang sama, acara mengenang Rendra juga digelar di komplek Radio CBS Klonengan, menampilkan para penyair, pejabat, Bupati Tegal Agus Riyanto, dan sejumlah wartawan (LS)



Kamis, 16 Juli 2009

MENGEMBALIKAN KEBESARAN BAHASA TEGALAN

Dari kiri Bupati Tegal Agus Riyanto, Walikota Tegal Adi Winarso dan Ketua DPRD Kota Tegal Ghautsun (Foto: Dok Tabloid Tegal Tegal)

Contoh Undangan Jed-jedan Maca Puisi Tegalan. Acara tersebut berlangsung Rebo, 31 Mei 2008 Jam Setengah Wolu Bengi, nang Gedung Kesenian Kota Tegal (Foto: Dok Lanang Setiawan)

Mengembalikan Kebesaran Bahasa Tegal

ALUNAN suara musik ini sudah jarang terdengar di kota kelahirannya Tegal, Jawa Tengah. Balo-balo namanya. Kesenian khas Tegalan ini nyaris punah seiring dengan masuknya seni musik modern.
Musik Balo-balo berkembang di Tegal sejak zaman perjuangan tahun 1913. Dahulu, musik ini digunakan para pejuang sebagai sarana untuk menyamar.
Dalam dua tahun terakhir ini, musik balo-balo mulai diangkat kembali. Sekumpulan masyarakat kecil di sebuah kelurahan yang gemar bermain musik, mengawali terbentuknya sebuah kelompok musik ini.
Menurut Walikota Tegal, Adi Winarso, pihaknya menyediakan anggaran melalui APBD untuk mendukung tumbuhnya kesenian di Tegal. Musik balo-balo modern berbeda dengan aslinya.
Balo-balo zaman dahulu penuh dengan nuansa kepahlawanan dan semangat perjuangan. Musiknya sangat dekat dengan rakyat, syairnya kental dengan nasehat untuk mengingat Tuhan. Alunan musiknya juga dimeriahkan dengan tari-tarian, yang didominasi para pria. Alat musik yang digunakan hanya terbangan atau sejenis rebana yang terbuat dari kulit, calung dan tik tok. Pada musik balo-balo modern ada tambahan alat musik gitar. Penambahan alat musik gitar ini telah merubah irama musik balo-balo yang khas pesisiran.
Meski demikian, menurut Ketua Dewan Kesenian Kota Tegal, Nur Ngidono, meski berubah sesuai perkembangan zaman, musik balo-balo tidak meninggalkan nyawa aslinya. Musik balo-balo modern lebih menonjolkan syairnya yang penuh sindiran dan berisi pesan-pesan sosial.
Grup musik balo-balo modern terdiri dari 22 personil pria dengan empat penyanyi wanita. Personil grup ini tumbuh di lingkungan yang sama, Kelurahan Panggung. Anggotanya berasal dari masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah.
Mahyudin misalnya. Pria yang sudah satu tahun bergabung di grup musik balo-balo sebagai pemetik gitar ini menghidupi keluarganya dengan membuka sablon kecil-kecilan di rumahnya.
Penghasilannya tak menentu, kadang ia bisa mendapatkan uang 20 ribu rupiah sehari, namun terkadang tidak dapat sama sekali. Karena tergolong miskin, dia termasuk penerima bantuan langsung tunai dari pemerintah senilai 300 ribu rupiah.
Menurut Mahyudin, anggota grup musik balo-balo, dirinya tidak mengharapkan imbalan apa-apa dari bermain musik balo-balo. Tapi kalau ada yang memberikan imbalan berupa materi dia tidak menolak.
Lain lagi dengan pemuda bernama Dedi Maulidin ini. Pemuda lajang berusia 24 tahun ini sudah dua tahun bergabung dengan grup balo-balo. Sehari-hari dia berdagang makanan di depan stasiun kereta api Tegal.
Meski baru tiga tahun terbentuk, grup ini serius mengangkat kembali keberadaan musik balo-balo ke tengah kancah kesenian di Tegal. Tegal berada di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat. Hal ini menjadikan dialek bahasa Tegal sangat khas, berbeda dengan daerah lainnya di Jawa Tengah.
Tapi sayangnya kebanyakan orang salah mengerti tentang bahasa Tegal. Dialek Tegal lebih banyak dikenal sebagai bahasa dagelan, sehingga bahasa Tegal mendapat citra sebagai bahasa orang yang tidak berpendidikan. Padahal bahasa Tegal cukup kaya dan menarik.
Puisi berbahasa Tegal ini berjudul Dadiya Siji Tlembuk-tlembuk Neng Jakarta karya penyair WS Rendra. Puisi dengan judul asli Pelacur-pelacur Kota Jakarta ini dibacakan seorang Budayawan Tegal, Tambari Gustam dalam acara Musikalisasi Puisi Jed-jedan, di Gedung Kesenian Kota Tegal. Puisi ini bercerita tentang para pelacur yang bersatu karena digusur aparat.
Pembacaan puisi yang diselenggarakan kelompok Warung Puisi Tegalan ini, sebagai salah satu cara untuk membuktikan pada publik bahwa bahasa Tegal memiliki nilai sastra yang tinggi.
Selain budayawan, pejabat daerah seperti Walikota Tegal Adi Winarso juga membaca puisi Tegalan. Dengan tampilnya sejumlah seniman dan birokrat secara bersama-sama diharapkan keberadaan bahasa Tegal dalam kancah kesenian bisa lebih diterima masyarakat (Sup)

KETERANGAN :
Diambil dari Indosiar.com, dan acara tersebut di tayangkan pada Rabu, 12 Juli 2008, pukul 12.00 Wib.


Rabu, 11 Maret 2009

PELUNCURAN 2 BUKU DAN BACA PUISI TEGALAN


Peluncuran Dua Buku Sastra dan Baca Puisi Tegalan

DUA peristiwa budaya Tegalan, malam ini (12/3) bakal berlangsung di Kota Tegal. Bak meteor yang melesat di langit kesusastraan Nasional, peristiwa tersebut akan menandai tonggak sejarah monumental dengan diluncurkan dua buku berbasis Tegalan.
Dua buku yang akan diluncurkan malam ini, novel Tegalan bertajuk Oreg Tegal dan antoloji puisi Nranggèh Katuranggan terbitan media Tegal Tegal bersamaan dengan digebernya pembacaan puisi dan pentas musik KMSWT di Pendapa Ki Gede Sebayu Kota Tegal, pukul 19.30 WIB
Novel Tegalan Oreg Tegal berlatarbelakang epos Tegal yang terjadi saat pasukan Belanda melancarkan agresi militer ke II secara membabi buta di wilayah Tegal dan sekitarnya pada tahun 1947. Pejuang-pejuang Tegal dari Laskar Rakyat, TNI Masyarakat, Resimen Pusponegoro, TNI Resimen 13, BPRI, CPM, Hisbullah, dan para bencoleng dari Pasukan Banteng Loreng bersatu padu melawan sengit kebringasan bangsa Nederland. Kelompok Laskar Rakyat yang dipimpin Catim dengan menggunakan kesenian Sintren menyusup ke markas Landa di wilayah Desa Sumingkir, Kedungbateng, Kabupaten Tegal. Pemuda yatim piatu bernama Catim masuk ke lorong-lorong markas Landa untuk membebaskan seorang wanita bernama Niti dari sekapan bajingan tengik Jayeng Laga. Perjuangan pembebasan Catim atas wanita pujaan hatinya berhasil diselamatkan. Niti bebas dari nafsu angkara murka Jayeng Laga, kemudian mereka membakar markas Landa di tengah malam yang semarak dengan kesenian Sintren yang dikemlandangi Mbok Mirah. Kisah perjuangan Catim dan Niti Cs berakhir dengan cinta kasih keduanya yang lama bersemi.
Novel Oreg Tegal ditulis dengan silayah setting di daerah Surabayan Panggung, Cenggini Lebaksiur, Pakulaut, Margasari, hingga melebar ke wilayah Pulosari, Kabupaten Brebes. Novel Tegalan ini menjadi penting karena merujuk pada data sejarah yang terjadi di wilayah Tegal.
Pada antoloji puisi Ngranggeh Katuranggan, terhipun beberapa puisi Tegalan dari mulai Penyair Tempe, Apito Lahire, Abu Ma’mur, Hadi Utomo, Wijanarto, Dwi Setyawati, Emmah Karimah, Nurngudiono, Tambari Gustam, Atmo Tan Sidik, Dwi Ery Santoso, Nurochman Sudibyo YS, sampai Walikota dan Wakil Walikota Tegal, Adi Winarso dan Dr. Maufur, termasuk didalamnya Rosalina Ikmal Jaya. Mereka itulah yang pada acara peluncuran dan baca puisi Tegalan bakal membacakan puisinya. Turut memeriahkan istri Walikota Tegal, Tatiek Adi Winarso. Untuk memberi suasana sumringah, akan tampil KMSWT pimpinan Nurngudiono dengan membawakan tembang-tembang Tegalan. Nurngudiono berjanji pada acara tersebut akan bermain total dengan menghadirkan musik Tegalan spektakuler.
“Saya akan sajikan pemainan musik Tegalan dengan penuh kematangan. Habis-habisan KMSWT menyuguhkan karya terbaik termasuk membawakan puisi Ornggrongan karya Pak Adi dalam kemasan lagu Tegalan yang menarik!” janji Nurngudiono.
Jalanannya acara dikomandani oleh budayawan Wijanato dengan Narasi Budaya Moch. Hadi Utomo (*)


Selasa, 10 Maret 2009

BU WALIKOTA BACA SAJAK TEGALAN


Bu Wali, ‘Cicipi’ Baca Puisi Tegalan

SEBUAH kejutan datang dari istri Walikota Tegal Adi Winarso, Ibu Tatiek. Tak terbayangkan sebelumnya, tiba-tiba dia ingin mencicipi asiknya sebuah perhelatan para wanita pembaca puisi Tegalan yang sudah bersedia tampil Jèd-jèdan Maca Puisi pada acara Peluncuran Antoloji Puisi Tegalan Ngranggèh Katuranggan, Kamis (12/3) malam pukul 19.30 WIB, di Pendapa Ki Gede Sebayu Kota Tegal.
“Siapa takut maca puisi Tegalan? Enyong bisa ngomong Tegal lho mas. Tunggu saja nanti pada malam pelaksanaannya” kata Ny. Adi Winarso yang ditirukan dramawan Yono Daryono saat diutarakan kepada NP di kantornya, Selasa (10/3) siang.
Kepastian Ibu Tatiek Adi Winarso ikut berpartisipasi dalam acara pembacaan dan peluncuran tersebut, diperkuat dengan satu buah puisi Tegalan buah karyanya. Bahkan menurut Yono Daryono, Bu Wali sudah mulai belajar menghafal sajaknya secara intens. Ia bilang, semua itu agar penampilan pertamanya pada even kesenian yang cukup bergengsi itu tidak mengecewakan para hadirin. Ia akan berusaha tampil semaksimal mungkin dengan dialek Tegalannya yang medok.
“Saya kira, Bu Wali akan mampu membawakan puisi Tegalan. Saya yakin, bahkan sangat yakin kalau dia mampu. Karena apa? Dia sudah sepuluh tahun menetap di Tegal, makan dan minum juga di Tegal, tentu akan memberikan kado istimewa bagi kenang-kenangan kita semua,” tegas Yono tanpa bermaksud promosi.
Sebagai istri orang nomor satu di Kota Tegal yang sudah sepuluh tahun bercokol di Tegal, Ibu Tatiek ini sudah bisa menyesuaikan diri dengan kultur yang ada di masyarakat. Semua itu menjadi modal lebih baginya mengenali bahasa Tegal sebagai bahasa yang dipakai dalam keseharian masyarakat Tegal.
Masih lewat juru bicara Yono Daryono, Bu Wali tetap saja merahasiakan tema puisi apa yang akan dibaca. “Tunggu saja apa gebraknya malam pementasan nanti!” katanya.
Tiga wanita para pembaca puisi pada acara itu, selain Ibu Tatiek Adi Winarso, yakni anggota Dewan Kota Tegal Ibu Emma Karimah dan Ibu Rosalina istri dari Walikota Terpilih H. Ikmal Jaya, SE.AK. Acara ini diramaikan juga oleh KMSWT pimpinan Nurngudiono dengan menampilkan tembang-tembang kasmaran Tegalan ciptaan Lanang Setiawan, yang menurut Nurngudiono akan dikemas secara istimewa dan spektakuler untuk kado kenang-kenangan menjelang purna tugas Walikota dan Wakil Walikota Tegal, Adi Winarso dan Dr. Maufur (*)


Minggu, 18 Januari 2009

GELAR SENI UNTUK PALESTINA


Para Seniman Tegal Gelar Seni untuk Palestina


Kejahatan Iblis ada di tengah samudra
wilayahnya meliputi otak para pemimpin Israel dan Amerika
setiap detik jutaan syetan mengalir bersama buih ombak
membawa fitnah dan menebar kebencian ke penjuru dunia
mabuk di ruangan gedung putih dan menari-nari di daratan Israel
tidak heran bila para penentu kebijakan di Israel dan
Amerika kelakuannya seperti iblis
maka terjadilah pembantaian atas manusia

Lihatlah saudara-saudara kita di Palestina
mereka menderita karma kebiadaban Israel yang didukung Amerika
ribuan orang merenggang nyawa
anak-anak dan wanita dibunuh secara kejam

Palestina perkampungan mungil nan indah
sebuah negeri mashur yang terukir dalam lembaran Quran
kini hancur menjadi debu, leburbersama jiwa-jiwa para suhada
Palestina, hatiku larut dalam setiap tetesan darah perjuanganmu yang
berupaya mempertahankan sejengkal tanah dan harga diri

Wahai jiwa-jiwa yang terluka, jiwa-jiwa yang perkasa
bersabarlah…!
menghadapi Israel berarti melawan iblis
maka lawanlah..! Karena setiap saat iblis juga akan
mengoyak jantung kita


ITULAH
butiran bait-bait puisi karya Qomaruddin Assa’adah berjudul Menghadapi Israel Berarti Melawan Iblis yang bakal ditumpahkan pada besok malam, Selasa (20/1) dalam gelar seni Pedulian Rakyat Palestina di Balai Desa Banjarturi, Kecamatan Warureja, Kabupaten Tegal bekerjasama dengan Komunitas Seniman Warureja, Karangtaruna setempat dan Komunitas Klonengan Slawi.
Kebiadaban, kebencian, dan kekejaman Israel selalu membabi-buta meluluh-lantakan, mebantai rakyat Palestina kini telah menjadi gelombang kebencian manusia tak terkecuali para penyair, musikus dan dramawan di mana pun. Begitu juga bagi para seniman di wilayah Slawi, Tegal dan Desa Banjarturi – Warureja bersatu padu menggelar pentas seni dengan tema ‘Peduli Palestina Dalam Renungan Lirik Doa dan Puisi’.
“Derita Palestina adalah derita kami. Kalau kami bisa perang tentu ikut angkat senjata. Kami hanya bisa berdoa dan berpuisi sebagai simpati kami pada Palestina,” ujar penyair gondrong Qomaruddin.
Gelombang penyair yang bakal turut dalam kepedulian terhadap rakyat Palestina yang dinistakan Negara Yahudi Israel itu, seperti penyair wanita Diah Setyawati, Apito Lahire, Albadar Asikin dan Fauzi Robani bahkan berdzikir dengan syair-syair kutukan terhadap Israel di mana agar Negara Yahudi itu segera tenggelam dalam amuk prahara bencana yang tak terperikan. Sama juga halnya begawan monolog Apito Lahire akan mengangkat lakon lebih mengerikan bagaimana azab Tuhan yang demikian pedih terhadap bangsa Israel. Negara itu bakal diguncang malapetaka dahsyat sampai bangsa itu musnah di muka bumi.
“Negara itu bakal remuk redam, hancur kemudian sirna. Hilang gandra!” katanya.
Tampil juga penyair dari Tegal Bontot Sukandar, Nurhidyat Poso, Oni SR, dan penyair dari Komunitas Klonengan diantaranya Julis Nur Hussein, Yaskur Parandina, Abu Ma’mun MF, Dries Angaten, serta pembacaan puisi dari para pejabat Muspika Kecamatan Warureja, bahkan Bupati Tegal Agus Riyanto. Selain itu tampil meramaikan musik kentrung Mistar Kalbu dan Hadrah Almubarok (*)


Foto : Fauzi Robani

Jumat, 09 Januari 2009

KMSWT DARI KAMPUNG MERAMBAH KOTA


KMSWT dari Kampung Merambah Kota

KELOMPOK Musik Sastra Warung Tegal (KMSWT) didirikan oleh Nurngudiono pada tanggal 11 September 1996. Pada awal berdiri hanyalah sebuah kelompok musik di pinggiran Kelurahan Panggung Kota Tegal. Bermain dari kampung ke satu kampung.
“Anggota kelompok kami berasal dari rakyat ngingsoran. Mereka adalah para kuli bangunan, buru, dan pekerja cilik lainnya hingga mereka bermusik cukup mengandalkan bakat alam, otodidak tapi mereka memiliki insting bermusik yang luar biasa,” ujar Abah panggilan akrab Nurngudiono.
Insting musik yang dikuasai mereka dengan penuh gelora, menghentak dan mengental-buket itulah yang menjadikan kelompok ini menyimpan kekuatan karena muatan irama pesisiran mereka terjalin menyatu dengan lagu-lagu yang berpijak pada akar budaya tegalan. Sebuah tonggak sejarah musik bernafaskan tegalan baru, agaknya kali pertama lahir dari kelompok ini.
Proses kematangan kelompok ini terus berlangsung hingga mereka mencoba melahirkan album indie lebel bersama Lanang Setiawan ‘Kembang Geni’. Disusul album ‘Dolanan Rakyat’ yang di dalamnya mengusung nomor-nomor special seperti lagu Ngoyok-oyok Jago, Wulan Bunder, Kang Daroji, Ruwat Desa, Godong Rogrog dan lain sebagainya. Tak sedikit para seniman Tegal pun memberi andil syair-syair tegalan yang bernas dan berkelas. Keterlibatan para seniman karena mereka memandang bahwa KMSWT ini bakal menjadi sebuah kelompok musik yang bisa mewakili kegelisahan masyarakat di tengah kesumpekan sosial. Daya ledak, pukau, teror ini terbukti dengan keajaiban pertama datang lewat Richard Curtis, dosen di Nort Teritory University Darwin Australia. Richard datang pada Nurngudiono untuk mengadakan penelitian terhadap proses kreatif KMSWT selama satu bulan. “Keajaiban selanjutnya datang lewat sentuhan dan dukungan luar biasa dari Walikota Tegal H. Adi Winarso S.Sos,” kata Abah.
Sentuhan dan kepedulian itu, diwujudkan Adi Winarso mengusung kelompok ini untuk mengisi acara pada Malam Tasyakuran Tujuhbelasan 2001 di Pendopo Ki Gede Sebayu. Maka sejak itu nama KMSWT menjadi kian melambung. Tawaran pentas dan lawatan ke luar kota datang mengalir bak air hujan. Dalam waktu 12 tahun kelompok ini telah menggelar pentas 74 kali di luar kota dan 33 kali main di dalam kota, di antaranya 4 kali pentas di TBS, 3 kali mengikuti Festival Musik Puisi Nasional di Yogyakarta, live di TVRI Jawa Tengah, 2 kali masuk pada Program Horison Indosiar, 2 kali tampil sebagai Duta Seni Kota Tegal di TMII, pentas di Wapres Jakarta, di Rumentang Siang Bandung, di Undip, UPS, UI Jakarta, dikontrak oleh KPUD Brebes untuk sosialisasi Pemilu 2004, selebihnya pentas di pesta-pesta rakyat, hajatan, Perayaan Hari Besar Keagamaan, perayaan adat dan Perayaan Hari Jadi Sastra Tegalan 26 Nopember yang berlangsung di Rumdins Wakil Walikota Dr. Maufur baru lalu dan lain sebagainya (LS)

KETERANGAN GAMBAR - Kelompok Musik Sastra Warung Tegal saat tampil dalam sebuah acara gelar budaya tegalan di Kampung Seni Desa Bedug, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal (Foto : Oky Lukmansyah)

Kamis, 08 Januari 2009

EKO TUNAS dan APITO LAHIRE PUKAU SEMARANG

Eko Tunas dan Apito Lahire
Pukau Penonton Semarang


DUA seniman Tegal, Apito Lahire dan Eko Tunas, Rabu 7 Januari lalu mampu pukau dan ‘menyihir’ penonton yang hadir. Penampilan mereka mendapat standing applaus berkepanjangan. Demikian salah seorang penonton asal Tegal, Lala yang ikut menyaksikan aksi mereka dalam pementasan bertajuk ‘Konstelasi 3 Ruang’ di IKIP PGRI Semarang, pada NP, Kamis (8/1). Dalam pementasan yang digagas Teater Gema IKIP Semarang, Apito membawakan 4 buah sajak; Biksu Muda dari Tikungan Ganzhai, Jantung Peristiwa, Surat Bersaksi, dan Melupakan Indonesia. Empat puisi tersebut dibaca dan dipanggungkan dengan gerak bunyi teater yang memikat. Apito menunjukkan klasnya sebagai seorang penyair yang juga aktor. Dengan daya sentuh vocal yang bertenaga penuh penghayatan, dia membacakan empat puisinya ditingkah musik mulut, perut, sesekali hentakan-hentakan kaki, sehingga menimbulkan efek kegaduhan yang harmoni melalui daya fantasi kreatifnya.
Tak hanya itu, Apito juga memainkan property setting yang dikemas lewat dua tempurung, tirai benang wol, dan dua kain putih yang dibentangkan. Property setting yang dia mainkan menambah suasana pertunjukkan malam itu nampak magis. Tepuk tangan membahana, bahkan standing applaus mereka dengan berdiri melihat akting dia penuh gelora.
Penampilan yang tak kalah mengasyikan dibuktikan pula pada Eko Tunas yang membawakan monolog Krosi. Dengan menggunakan bahasa Tegalan, lakon tersebut dia mainkan penuh satire. Eko menunjukkan betapa makhluk bernama Krosi itu sangat membahayakan tidak hanya pada orang lain namun terhadap dirinya sekali pun.
Dituturkan oleh sumber itu, Eko bermain dengan segenap kemampuan aktornya yang telah dia sikapi dari berbilang tahun. Bahasa Tegalan yang dia usung semakin berkelas di depan publik mahasiswa setempat dan para seniman dari luar kota.
“Eko Tunas membuktikan eksistensinya sebagai seorang seniman yang sudah mapan. Dialog-dialog yang dia luncurkan bernas sekali dan menunjukan bahwa bahasa Tegalan cukup punya kelas,” kata sumber itu.
Acara yang berlangsung sejak Selasa 6 – 8 Januari itu selain diisi mereka, juga monolog Aut (Putu Wijaya) pemain Toto Raharjo (Pontianak Kalimantan), Teater Gema lakon Korban (Putu Wijaya) yang juga memainkan lakon RT0/RW0 (Iwan Simatupang) dan Perangkap (Anton Chekov) pada Rabu (7/1). Selain itu penampilan musik perkusi dari Purworejo dan lain sebagainya.
Menurut Ketua Panitia Acara, Nicko, kegiatan ini dimaksudkan untuk ruang teman-teman Gema yang baru diworkshop, dan apresiasi bagi publik Semarang. Melalui telpon seluler, Apito menambahkan.
“Bagiku seniman adalah maestro karyanya, maka dia harus melakukan penciptaan yang kontinyu, terus sebagai proses memanusiakan manusia. Seniman jangan hanya termangu pada kebesaran masa lalu yang memampatkan kegelisahan. Pokoknya seniman itu harus cipta dan terus mencipta.” katanya.
Menurut dia, setelah melakukan lawatan pementasan, Apito kembali akan tampil di Indramayu atas undangan medium sastra, Teater Budaya yang dikomandani penyair asli Tegal yang kini tinggal di Indramayu, Nurochman Sudibyo. Bagai deras Kali Gung, Apito seniman dari Komunitas Klonengan Slawi terus mengalirkan riak-riak menjadi samudra kehidupan *LS

Foto : EKO TUNAS

Kamis, 11 Desember 2008

ADI WINARSO SAMBUT PENTAS REMOJONGAN


AW Sambut Baik
Rencana Pentas Remojongan

WALIKOTA
Tegal, Adi Winarso (AW) menyambut baik pentas remojongan yang rencananya akan digiatkan lagi. Pementasan yang disain konsepnya menyerupai tayangan variaty show dalam televisi itu akan digelar secara maraton selama sepuluh hari pada Minggu - Selasa (21-30/12) pekan depan di Gedung Kesenian Kota Tegal.
Hal itu dikatakan Nurngudiono di acara kunjungan Walikota Tegal, Adi Winarso untuk bersilaturahmi dengan para seniman Tegal di Komunitas Sorlem, Rabu (10/12) malam.
"Kami para seniman Tegal pernah sukses menggelar pentas remojongan pada tahun 2007,
jenis pementasannya terdiri dari pertunjukan tari, musik tradisi, teater, seni lukis dan pembacaan puisi," kata Abah Nung, sapaan Nurngudiono.
Menurutnya, pada akhir tahun ini akan ditambah dengan apresiasi film karya Andy Prasetya. Selain itu, pelukis eksentrik, Agus Jembrong juga akan membuat lukisan dengan gaya teatrikal. Sehingga diharapkan acaranya akan lebih semarak.
Terkait, kunjungan AW di tengah para seniman diharapkan dapat menghilangkan adanya gap antara pejabat dan seniman yang selama ini mengurangi keharmonisan hubungan di antara keduanya. “Kunjungan walikota ini menjadikan rasa saling memiliki antara seniman dan walikota terjalin kembali. Tidak ada gap pejabat dan seniman. Itulah uniknya Kota Tegal,” ujar Abah Nung.
Sekitar dua jam, mulai pukul 20.00 WIB gendu-gendu rasa tersebut terlihat gayeng. Permasalahan demi permasalahan yang pernah mencuat di antara mereka sedikit demi sedikit terurai. Dan menjelang lengsernya Pak Adi, moment ini menjadi bagian dari langkah khusnul khatimah alias happy ending.

KETERANGAN GAMBAR - Walikota Tegal Adi Winarso Ssos saat bersilaturahmi dengan para seniman Tegal di Komunitas Sorlem, Rabu (10/12) malam.




EMMA KARIMAH JED-JEDAN MACA PUISI TEGALAN


Peringati Hari Sastra Tegalan 26 Nopember

Emma Siap Jèd-jèdan
Maca Puisi Tegalan


TIGA pembaca puisi wanita siap Jèd-jèdan. Masing-masing bakal menggulirkan sajak-sajak tegalan dalam Peringatan Hari Sastra Tegalan 26 Nopember yang bakal digelar pada Minggu (14/12) malam di Rumah Dinas Walikota Tegal, Jalan Kartini. Acara Jèd-jèdan maca puisi tegalan, monolog tegalan dan musik puisi tegalan yang digeber komunitas Sorlem itu akan menjadi tontonan menarik karena tampilnya tiga pembaca puisi wanita dari berbagai disiplin profesi. Yakni seorang dosen, Hamidah Abdurachman; seorang anggota DPRD Kota Tegal, Emma Karimah; dan penyair Tegal, Diah Setyawati.
Hamidah akan membacakan dua buah puisi terbarunya dengan tema cukup menggelitik yang disertai tarian India, yaitu tentang seorang perempuan India yang tidak memiliki hak apa-apa dalam rumahtangga. Dia pun akan dibakar setelah suaminya meninggal.
Puisi kedua, tentang tragedi kepedihan wanita akibat dari korban perkosaan yang tak bisa banyak berbuat karena diskriminasi hukum terhadap figur perempuan. Sedangkan Diah akan mengangkat puisi bertema sosial. Lewat puisi lama dan barunya, Diah bakal menggeber dengan persoalan yang pelik yang terjadi di belantara nasional. Tentang harga-harga sembako yang semakin membumbung tinggi dan tak terjangkau lagi oleh lapisan masyarakat.
Jika kedua pembaca puisi di atas kental dengan suasana kepiluan masyarakat, lain lagi dengan tema yang akan diusung Emma Karimah. Dia akan meluncurkan tema sosial yang saat ini sedang mewabah di kalangan elit politik yakni tentang jabatan.
“Saat ini di mana-mana sedang terjadi perebutan kedudukan. Orang-orang berburu status sosial yang seolah menjadi tujuan hidup. Gambaran itu akan saya ketengahkan melalui sajak tegalan berjudul ‘Clandakan’…” papar Emma yang baru pertama kali akan tampil. Ia mengaku akan menyuguhkan dengan penuh keseriusan.
Selain ketiga pembaca puisi di atas, juga akan tampil diantaranya Walikota Tegal Adi Winarso, Wakil Walikota Tegal Maufur, dua anggota DPRD Kota Tegal lainnya yakni Tatang Suandi dan Supardi. Selebihnya adalah Nurngudiono, Ki Barep, Tambari Gustam, Hartono Ch Surya, Bramanthi S Riyadi membawakan monolog Waslam karya Moch Hadi Utomo, Nurhidayat Poso, Bontot Sukandar, dan Ratna.


Foto : EMMA KARIMAH

Minggu, 23 November 2008

Monolog Tuma Eko Tunas


Monolog Eko Tunas:
Mencari Kutu Peradaban


PEREMPUAN dengan rambut panjang tergerai itu bernama Turah. Tak seperti kebanyakan pencitraan perihal perempuan berambut panjang yang biasanya direpresentasikan sebagai perempuan elok, maka Turah justru paradoks dari gambaran tersebut.
Soalnya, pada rambut Turah yang panjang itu, dipenuhi oleh tuma! Ya, tuma (kutu)! Celakanya, cuma Turah seorang di zaman kini yang memiliki tuma. Maklumlah, peradaban modern dengan segala aksesoris hidup, tak lagi memberi ruang buat tuma hidup.
Cerita tuma tersebut, kata Eko seusai pentas, sebetulnya dia ambil dari filosofi masyarakat Jawa.
Untuk menengarai betapa istimewanya filosofi tuma tersebut, tak heran jika cuma binatang tuma saja yang memiliki penamaan berbeda-beda dalam siklus metamorfosanya.
Telur tuma, orang Jawa menyebutnya lingsa yang diterjemahkan sebagai eling (ingat) asal muasal kejadian manusia. Anak tuma disebut sebagi kor, yang berarti kita harus rela berkorban. Dan,..tuma, berarti tumanja…, bahwa hidup mesti berarti buat sesama. Adapun rambut, tempat bagi para tuma berlindung diterjemahkan sebagai rambataning urip (jalan hidup), serta sirah (kepala) sebagai sumber kehidupan tuma diterjemahkan sebagai isining wewarah (berisi pengetahuan).
Monolog berjudul Tuma yang dibawakan Eko Tunas dalam bahasa Tegal di Warung Apresiasi (Wapress), Bulungan, Jakarta Selatan pada Senin (30/8), merupakan rangkaian dari road show aktor kelahiran Tegal yang kini mukim di Semarang tersebut.
Jakarta, kata Eko adalah kota ketiga belas yang disambanginya. Pertunjukan monolog berdurasi satu jam itu menurut Eko, dibuat tanpa naskah.
“Saya hanya improvisasi di atas panggung. Itulah sebabnya, satu pertunjukan dengan pertunjukan lainnya pasti berbeda,” kata Eko Tunas.
Meski menggunakan bahasa Tegal dalam monolognya, toh penonton tampaknya mengerti dengan pesan yang ingin disampaikan Eko. Maklumlah, sebagai aktor Eko telah menunjukkan kematangannya.
KETERANGAN GAMBAR - Eko Tunas seniman Tegal yang sekarang mulai banyak menggeber sastra lokal kemana dia melanglang untuk monolog dan baca puisi tegalan