Yanto, Spesialis Melukis Sangkar Burung
UMUMNYA melukis itu medianya kanvas atau kertas. Tapi pelukis yang satu ini lain dari kebiasaan para pelukis pada umumnya. Yanto, demikian nama pelukis asal Kecamatan Adiwerna ini, justru meluapkan karyanya pada media sangkar burung perkutut dengan semprotan cat. “Saya mengabdi sebagai pelukis sangkar burung perkutut kurang lebih sudah empat belas tahun,” kata Yanto yang disambangi harian Nirmala Post pada malam hari, Rabu (24/6) kemarin.
Menurutnya, dia memilih kubah sangkar burung perkutut sebagai medianya, karena sangat jarang ditekuni oleh pelukis lain.
UMUMNYA melukis itu medianya kanvas atau kertas. Tapi pelukis yang satu ini lain dari kebiasaan para pelukis pada umumnya. Yanto, demikian nama pelukis asal Kecamatan Adiwerna ini, justru meluapkan karyanya pada media sangkar burung perkutut dengan semprotan cat. “Saya mengabdi sebagai pelukis sangkar burung perkutut kurang lebih sudah empat belas tahun,” kata Yanto yang disambangi harian Nirmala Post pada malam hari, Rabu (24/6) kemarin.
Menurutnya, dia memilih kubah sangkar burung perkutut sebagai medianya, karena sangat jarang ditekuni oleh pelukis lain.
“Yang demikian, bagi saya justru menjadi sebuah tantangan,” katanya.
Ia mengaku, karena tantangan itu Yanto merasa enjoy bergulat hingga menjadi mata pencahariannya dari berbilang tahun dan tak pernah berpaling dari kerja semacam itu. “Pemesan yang datang tidak hanya terbatas dari daerah setempat, namun banyak juga dari luar daerah Tegal,” akunya.
Biasanya, motif gambar yang ditawarkan dia kepada pemesan, mahkota kepala burung Jatayu, wajah barong Bali, dan burung Cendrawasih. Nantinya, gambar pilihan dari pemesan itu dia lukiskan pada kubah sangkar burung perkutut. Pada tingkat detailnya, dia lukis pula jeruji sangkar dan alas sangkar. Tingkat kesulitan itu, akan memakan waktu pengerjaannya sekitar satu minggu.
Ia mengaku, karena tantangan itu Yanto merasa enjoy bergulat hingga menjadi mata pencahariannya dari berbilang tahun dan tak pernah berpaling dari kerja semacam itu. “Pemesan yang datang tidak hanya terbatas dari daerah setempat, namun banyak juga dari luar daerah Tegal,” akunya.
Biasanya, motif gambar yang ditawarkan dia kepada pemesan, mahkota kepala burung Jatayu, wajah barong Bali, dan burung Cendrawasih. Nantinya, gambar pilihan dari pemesan itu dia lukiskan pada kubah sangkar burung perkutut. Pada tingkat detailnya, dia lukis pula jeruji sangkar dan alas sangkar. Tingkat kesulitan itu, akan memakan waktu pengerjaannya sekitar satu minggu.
“Untuk biaya penggarapan hanya 250 ribu. Biaya tersebut termasuk full variasi gambar,” katanya.
Yanto mengaku, selain melukis di media sangkar burung, ia pun kerap kali mendapat pesanan untuk memvariasi helm dan bahkan di sebidang dinding. Ia memang memilih menjadi pelukis semacam itu, karena hobi. “Sejak sekolah saya memang hobi corat-coret bikin grafiti. Setelah dewasa, saya manfaatkan untuk mencari duit” pungkas Yanto yang beralamat di Gang Nurul Huda Rt 17/Rw 06, Adiwerna, Kabupaten Tegal (LS)
Yanto mengaku, selain melukis di media sangkar burung, ia pun kerap kali mendapat pesanan untuk memvariasi helm dan bahkan di sebidang dinding. Ia memang memilih menjadi pelukis semacam itu, karena hobi. “Sejak sekolah saya memang hobi corat-coret bikin grafiti. Setelah dewasa, saya manfaatkan untuk mencari duit” pungkas Yanto yang beralamat di Gang Nurul Huda Rt 17/Rw 06, Adiwerna, Kabupaten Tegal (LS)